PRESSCORNER.ID – Perang di Timur Tengah kembali meluas setelah Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman saling melancarkan serangan lintas perbatasan pada Kamis (17/92026).
Eskalasi ini meningkatkan risiko terhadap jalur distribusi minyak dunia dan memperburuk kekhawatiran mengenai pasokan energi global.
Serangan terbaru terjadi ketika konflik yang sebelumnya berpusat di Iran dan kawasan Teluk mulai menjalar ke Yaman dan Arab Saudi.
Kelompok Houthi yang didukung Iran melaporkan serangan udara Saudi di Provinsi Hajjah, dekat perbatasan dan pesisir Laut Merah, serta di sekitar Taiz.
Di sisi lain, pertahanan sipil Arab Saudi melaporkan seorang warga Yaman tewas akibat puing-puing drone yang berhasil dicegat di Kota Taif.
Ini menjadi kematian pertama yang diumumkan Riyadh dalam rangkaian serangan Houthi sejak konflik meningkat pada pekan lalu. Sebelumnya, Arab Saudi melaporkan lebih dari 80 orang terluka.
Konflik tersebut tidak hanya meningkatkan risiko keamanan di kawasan, tetapi juga kembali menempatkan infrastruktur dan jalur transportasi energi sebagai perhatian pasar.
Harga minyak mentah dunia memang sedikit melemah pada Kamis (17/9), tetapi masih bertahan di atas US$ 100 per barel setelah sebelumnya melonjak ke level tertinggi sejak Mei.
Kenaikan harga energi bahkan lebih terasa pada produk bahan bakar. Harga rata-rata ritel diesel di Amerika Serikat mencetak rekor baru pada Kamis, mendekati US$ 6,40 per galon.
Jalur alternatif minyak ikut terancam
Perluasan konflik ke Yaman dan Arab Saudi menjadi perhatian karena mengancam jalur alternatif pengiriman minyak dari kawasan Teluk setelah Selat Hormuz menghadapi gangguan akibat perang.
Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar utama dari Teluk.
Angkatan Laut Amerika Serikat saat ini berupaya mengarahkan kapal-kapal melewati Selat Hormuz dan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Iran menyatakan selat tersebut ditutup dan akan tetap ditutup hingga blokade AS dicabut.
Situasi tersebut membuat jalur melalui Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb semakin penting. Namun, kawasan itu kini juga berada di bawah ancaman akibat perkembangan konflik di Yaman.
Kelompok Houthi sejak pekan lalu menguasai seluruh pesisir Laut Merah di Yaman dalam serangkaian serangan cepat, termasuk sejumlah pulau di sekitar Bab el-Mandeb.
Selat yang dikenal sebagai “Gate of Tears” tersebut merupakan pintu masuk Laut Merah dari Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Bagi pasar energi, kondisi tersebut mempersempit pilihan jalur pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Gangguan di Hormuz dan meningkatnya risiko di Bab el-Mandeb dapat meningkatkan biaya pengiriman, premi risiko, serta potensi keterlambatan distribusi energi.
Arab Saudi sebelumnya juga menghadapi gangguan terhadap jalur ekspor minyaknya. East-West Pipeline, yang memungkinkan Arab Saudi mengalirkan minyak melintasi Semenanjung Arab untuk kemudian dikirim melalui pelabuhan di Laut Merah, telah berhenti beroperasi setelah terkena serangan pada pekan lalu.
Riyadh mengatakan serangan tersebut berasal dari Irak, tempat sejumlah kelompok bersenjata yang didukung Iran juga beroperasi.
Konflik dorong risiko pengungsi
Eskalasi di Yaman juga menimbulkan dampak kemanusiaan yang semakin besar. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan lebih dari 100.000 warga Yaman telah mengungsi akibat pertempuran terbaru, sebagian besar masih berada di dalam wilayah Yaman.
Sebagian warga bahkan melarikan diri melalui Laut Merah menuju Djibouti.
Salah satunya Wahida Omer, 50 tahun, yang meninggalkan Desa Dhubab menggunakan perahu kecil setelah wilayah tersebut diserang.
Ia tiba di Djibouti dalam kondisi tanpa makanan dan tanpa mengetahui kondisi suaminya yang tertinggal di Yaman.
“Sangat menakutkan, sulit,” kata Wahida dalam wawancara yang direkam IOM.
Sementara itu, Houthi mengklaim telah menembak jatuh jet tempur F-15 milik Arab Saudi pada Rabu (16/9).
Kelompok tersebut juga mengatakan serangan udara Saudi telah mencapai ratusan kali dalam beberapa hari terakhir.
Pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi mengatakan kelompoknya menuntut Arab Saudi menghentikan blokade dan apa yang disebutnya sebagai pendudukan serta agresi terhadap Yaman.
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan berharap perang segera berakhir.
Namun, hingga kini belum terdapat perundingan baru antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik setelah kesepakatan sementara pada Juni lalu gagal berlanjut.
Dengan konflik yang kini melibatkan lebih banyak wilayah dan jalur pelayaran strategis, pasar energi global menghadapi risiko gangguan pasokan yang semakin kompleks.
Selain volume minyak yang berpotensi terdampak, meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran juga dapat memperbesar ongkos logistik dan premi pengiriman energi.











