PRESSCORNER.ID – WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menekan Federal Reserve (The Fed) agar memangkas suku bunga, tak lama setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi yang masih tinggi.
Trump menyampaikan tuntutan tersebut melalui media sosial Truth Social pada Rabu (16/9/2026). Ia menilai suku bunga AS seharusnya berada di level 1% atau lebih rendah, dengan alasan AS memiliki kualitas kredit terbaik di dunia.
“Turunkan suku bunga untuk Amerika Serikat, dan lakukan dengan cepat!” tulis Trump.
Pernyataan itu menjadi kritik Trump yang paling tajam terhadap Ketua The Fed Kevin Warsh, pejabat yang sebelumnya ia tunjuk untuk menggantikan Jerome Powell. Meski demikian, Trump masih menyatakan memiliki kepercayaan terhadap Warsh.
Trump juga mengaku telah berbicara dengan Warsh dan menyebut Ketua The Fed tersebut sebaiknya mengikuti keputusan mayoritas anggota dewan karena menurut Trump, dewan bank sentral terlalu politis dan mengambil kebijakan yang keliru.
Tekanan Trump muncul setelah para pembuat kebijakan The Fed secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%.
Kenaikan ini dilakukan karena inflasi AS dinilai masih terlalu tinggi dan telah bertahan terlalu lama.
Warsh menegaskan keputusan tersebut diambil secara serius dan bertanggung jawab. “Inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” kata Warsh.
Proyeksi terbaru The Fed juga menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan. Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini.
Sementara dua pejabat lainnya memperkirakan suku bunga bertahan di level saat ini.
Warsh sendiri tidak memberikan proyeksi suku bunga ke depan dan kembali menegaskan keberatannya terhadap pemberian panduan kebijakan moneter secara eksplisit.
Sejak menjabat sebagai Ketua The Fed pada Juni 2026, Warsh sebelumnya mengarahkan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga. Namun, tekanan inflasi yang masih terlihat dalam data musim panas membuatnya menilai The Fed perlu mulai bertindak.
“Tren yang mendasari inflasi belum membaik,” ujar Warsh.
Di sisi lain, Trump juga mengaitkan defisit perdagangan AS dengan biaya pinjaman yang ditetapkan The Fed. Ia menyebut defisit perdagangan sebagai bentuk kerugian yang harus dihentikan.
Namun, kedua hal tersebut pada dasarnya merupakan persoalan yang berbeda: defisit perdagangan berkaitan dengan arus perdagangan barang dan jasa, sedangkan suku bunga merupakan instrumen kebijakan moneter untuk memengaruhi inflasi dan aktivitas ekonomi.
Tekanan dari Gedung Putih terhadap The Fed telah berlangsung sepanjang pekan. Sejumlah pejabat Gedung Putih sebelumnya secara terbuka mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga.
Meski demikian, Warsh sejauh ini tetap menegaskan independensi The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Ketika ditanya apakah akan bertemu Trump untuk menjelaskan keputusan kenaikan suku bunga, Warsh tidak memberikan keterangan mengenai pembicaraan dengan presiden.











