PRESSCORNER.ID – Saham-saham Asia negara berkembang melemah pada Selasa (15/9/2026) dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan.
Investor dibayangi kenaikan harga minyak mentah serta kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Di saat yang sama, mata uang Asia melemah karena ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) mendorong dolar AS mendekati level tertinggi dalam dua pekan.
Mengutip Reuters, indeks MSCI saham negara berkembang Asia sempat turun hingga 1,1% ke level terendah sejak 25 Agustus 2026.
Korea Selatan dan Taiwan, yang selama ini menjadi penerima manfaat utama dari perdagangan saham berbasis AI, masing-masing turun 0,9% dan 0,8%, setelah sempat menguat pada awal perdagangan.
“Pergerakan naik turun hari ini merupakan pasar yang sedang mencari harga, bukan kepanikan. Esai (CEO Anthropic Dario) Amodei memicu aksi jual besar-besaran pada Senin dan yang kita lihat sekarang adalah efek setelahnya,” kata Junvum Kim, Asia-Pacific senior sales trader di Saxo Markets.
Sebelumnya, saham-saham perusahaan chip di Wall Street tertekan setelah sejumlah pimpinan perusahaan AI Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran terkait keamanan teknologi tersebut dan menyerukan perlambatan pengembangan AI.
Kekhawatiran tersebut memberikan tekanan tambahan bagi saham teknologi Asia, terutama Korea Selatan dan Taiwan yang memiliki eksposur besar terhadap industri semikonduktor dan AI.
Harga minyak jadi ancaman
Selain AI, kenaikan harga minyak menjadi sumber tekanan lain bagi pasar Asia. Harga minyak mentah bertahan di dekat level tertinggi dalam empat bulan sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, terutama di negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi.
“Untuk Korea Selatan dan Taiwan, yang hampir seluruh kebutuhan minyak mentahnya berasal dari impor, harga minyak yang lebih tinggi berarti mata uang yang lebih lemah, biaya impor yang meningkat dan arus keluar dana asing yang lebih cepat. Semua itu terjadi ketika mesin pertumbuhan terbesar mereka sedang dipertanyakan,” ujar Kim.
Tekanan juga terasa di negara pengimpor minyak lainnya. Saham Thailand dan Filipina masing-masing turun hingga 0,8% dan 1,1%.
Di Indonesia, rupiah melemah ke level Rp17.703 per dolar AS, menjadi level terendah dalam hampir dua pekan.
Sementara itu, saham-saham di Bursa Efek Indonesia berada di jalur penurunan untuk sesi kelima berturut-turut, dengan pelemahan sekitar 1,1%.
Sentimen pasar domestik turut dibayangi perubahan posisi Menteri Keuangan. Presiden Prabowo Subianto memberhentikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Senin (14/9/2026) dan menggantinya dengan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Suahasil menjadi menteri keuangan ketiga Indonesia dalam waktu kurang dari dua tahun.
Imbal hasil US Treasury tembus 5%
Kenaikan harga minyak juga memperkuat tekanan terhadap pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menyentuh 5%, level yang terakhir terlihat sejak pertengahan 2007.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada akhir pertemuan kebijakan selama dua hari yang berakhir pada Rabu (16/9/2026).
Indeks dolar AS berada di level 99,617. Penguatan dolar turut menekan indeks mata uang negara berkembang Asia sebesar 0,4% dan memperpanjang pelemahan menjadi empat sesi berturut-turut.
Dolar Taiwan melemah hingga 31,906 per dolar AS, level terendah sejak 25 Agustus. Won Korea Selatan turun 0,9% menjadi 1.359,60 per dolar AS, mendekati level terlemah sejak akhir Juli.
Sementara itu, ringgit Malaysia melemah hampir 0,2% menjadi 4,08 per dolar AS, sekaligus menjadi level terlemah sejak 17 Agustus.











