PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia naik lebih dari 2% pada Selasa (15/9/2026), setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi membuat jaringan pipa East-West tidak beroperasi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa kerusakan pada infrastruktur energi dan jalur transportasi minyak membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$2,50 atau 2,37% menjadi US$108,18 per barel pada pukul 08.13 GMT (15:13 WIB). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$2,46 atau 2,43% menjadi US$103,85 per barel.
Kekhawatiran terhadap pasokan minyak semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kembali melancarkan serangan ke Arab Saudi pada Senin. Di sisi lain, negara-negara Arab Teluk menunda pembahasan yang sebelumnya direncanakan dengan Iran.
“Serangan terbaru Houthi yang menargetkan Arab Saudi mungkin memengaruhi ekspektasi investor pasar minyak mengenai tingkat keparahan dan durasi konflik,” kata Hamad Hussain, ekonom senior bidang iklim dan komoditas di Capital Economics.
Houthi pada Senin mengatakan telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke pangkalan udara militer di Khamis Mushait, Arab Saudi bagian selatan. Serangan tersebut menyasar hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi sebagai aksi balasan atas serangan udara Arab Saudi di Yaman.
Serangan tersebut menyusul aksi pada Jumat terhadap Arab Saudi yang oleh Riyadh dituding dilakukan oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak. Serangan itu mengganggu operasional jaringan pipa East-West Saudi yang memungkinkan ekspor minyak dilakukan dengan menghindari Selat Hormuz yang mengalami blokade.
Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Karena itu, gangguan terhadap jalur alternatif seperti jaringan pipa East-West meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan minyak global.
Ekspor Minyak Saudi Terancam
Arab Saudi berpotensi menghabiskan minyak mentah yang tersedia untuk ekspor dalam hitungan hari apabila jaringan pipa East-West tidak segera kembali beroperasi, menurut pembeli dan pedagang. Serangan terhadap jaringan pipa tersebut berpotensi mengganggu hingga 4% pasokan minyak dunia.
“Serangan terbaru mungkin lebih parah dan dapat mengancam sisa ekspor Yanbu sebesar 2 juta barel per hari, dengan perkiraan terbaru mengenai waktu perbaikan berkisar dari ‘segera’ hingga delapan minggu,” kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan.
Goldman Sachs menilai serangan terhadap infrastruktur minyak menunjukkan eskalasi konflik yang signifikan. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan harga minyak Brent menembus US$120 per barel.
Perkiraan tersebut mengacu pada skenario ketika rata-rata produksi minyak negara-negara Teluk pada 2027 tetap 4 juta barel per hari di bawah level sebelum perang.
Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Menurun
Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz turun menjadi hanya empat kapal pada Senin, dari 10 kapal sehari sebelumnya, berdasarkan data awal Kpler pada Selasa.
Penurunan tersebut menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Sebelum perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global sebelumnya melewati jalur tersebut.
“Jika tidak ada penyesuaian permintaan atau peningkatan aliran minyak melalui Selat Hormuz, penutupan jaringan pipa East-West selama beberapa minggu dapat mendorong harga minyak mentah Brent menuju US$130 per barel,” kata Hussain.
Kilang China Tingkatkan Pengolahan Minyak
Di tengah meningkatnya risiko pasokan global, perkembangan dari China memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi permintaan minyak.
Data resmi menunjukkan pengolahan minyak mentah China meningkat untuk bulan kedua berturut-turut pada Agustus. Kenaikan tersebut didorong oleh peningkatan ekspor bahan bakar setelah Beijing melonggarkan pembatasan pada pertengahan Juli.











