BeritaInternasional

Kredit Baru China Bangkit pada Agustus 2026, tetapi Jauh di Bawah Ekspektasi

Avatar photo
12
×

Kredit Baru China Bangkit pada Agustus 2026, tetapi Jauh di Bawah Ekspektasi

Sebarkan artikel ini
Kredit Baru China Bangkit pada Agustus 2026, tetapi Jauh di Bawah Ekspektasi


PRESSCORNER.ID – BEIJING. Penyaluran kredit perbankan China kembali tumbuh positif pada Agustus 2026 setelah mengalami kontraksi tajam pada Juli. Namun, pemulihan tersebut masih jauh di bawah ekspektasi pasar, mencerminkan lemahnya permintaan pembiayaan dari rumah tangga dan dunia usaha.

Berdasarkan perhitungan Reuters menggunakan data Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) yang dirilis Senin (14/9/2026), bank-bank China menyalurkan kredit baru sebesar 60 miliar yuan atau sekitar US$8,95 miliar pada Agustus.

Angka tersebut berbalik dari kontraksi sebesar 340 miliar yuan pada Juli. Kendati demikian, realisasi kredit baru masih jauh di bawah proyeksi analis.

Dalam jajak pendapat Reuters, para analis memperkirakan kredit yuan baru pada Agustus dapat rebound hingga 400 miliar yuan. Nilai tersebut pun masih lebih rendah dibandingkan 590 miliar yuan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Lemahnya penyaluran kredit menunjukkan permintaan pembiayaan rumah tangga China masih tertekan. Kredit rumah tangga tercatat mengalami kontraksi selama enam bulan berturut-turut.

Capital Economics menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.

“Penurunan permintaan hipotek yang berkepanjangan sejak awal krisis properti menjadi salah satu penyebabnya, tetapi tekanan utama berasal dari lemahnya minat rumah tangga untuk membiayai konsumsi melalui utang,” kata Capital Economics dalam catatannya.

Permintaan Kredit China Masih Lemah

Secara kumulatif, kredit baru yang disalurkan perbankan China sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai 10,44 triliun yuan. Angka tersebut turun cukup signifikan dibandingkan 13,46 triliun yuan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perlambatan tersebut menunjukkan permintaan kredit masih lesu meskipun pemerintah China terus berupaya mendorong aktivitas ekonomi.

Kredit yuan yang masih beredar pada Agustus hanya tumbuh 4,9% secara tahunan, melambat dari pertumbuhan 5,1% pada Juli. Laju pertumbuhan tersebut menjadi yang paling lemah dalam catatan.

Kredit rumah tangga, termasuk kredit hipotek, menyusut sebesar 202,9 miliar yuan pada Agustus, meskipun kontraksinya lebih kecil dibandingkan 460,3 miliar yuan pada Juli.

Di sisi lain, kredit korporasi meningkat sebesar 260 miliar yuan pada Agustus setelah sebelumnya mengalami penurunan 130 miliar yuan pada Juli.

Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan kredit korporasi belum cukup kuat untuk mengimbangi lemahnya permintaan pembiayaan dari rumah tangga.

Ekonomi China Kehilangan Momentum

Lemahnya permintaan kredit menjadi salah satu hambatan yang terus membebani perekonomian China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Pemerintah China sebelumnya telah berupaya memperluas saluran pembiayaan di luar kredit perbankan konvensional, termasuk melalui pasar saham dan obligasi.

Namun, momentum ekonomi China mulai kehilangan tenaga pada awal paruh kedua tahun ini. Pertumbuhan produksi industri dan penjualan ritel melambat di tengah gangguan cuaca ekstrem serta lemahnya permintaan domestik.

Situasi tersebut kembali meningkatkan tekanan terhadap pemerintah China untuk memperkuat stimulus guna menopang konsumsi dan investasi.

Data kredit yang mengecewakan ini muncul setelah pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II 2026 melambat ke level terendah dalam tiga setengah tahun.

Kondisi tersebut memperlihatkan masih besarnya ketergantungan China terhadap ekspor untuk mengimbangi lemahnya konsumsi dan investasi domestik. Pada saat yang sama, perekonomian China menghadapi tantangan dari tarif Amerika Serikat serta konflik di Timur Tengah.

China Belum Diperkirakan Pangkas Suku Bunga dalam Waktu Dekat

Untuk mendorong konsumsi dan investasi, pemerintah China baru-baru ini memperluas subsidi bunga pinjaman bagi perusahaan swasta kecil dan konsumen.

Beijing juga mengumumkan suntikan dana sebesar US$54 miliar kepada delapan lembaga keuangan milik negara. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat modal inti lembaga keuangan sekaligus menjaga kemampuan mereka dalam menyalurkan kredit.

Pada bulan sebelumnya, pembuat kebijakan China juga meluncurkan sejumlah kebijakan untuk menstabilkan sektor properti.

Kebijakan tersebut mencakup penguatan dukungan pembiayaan bagi pengembang properti serta memperpanjang batas maksimum tenor hipotek dari 30 tahun menjadi 40 tahun. Langkah itu diharapkan dapat mengurangi beban pembayaran bagi pembeli rumah.

Meski demikian, analis masih berhati-hati dalam menilai kecepatan pemulihan permintaan di sektor perumahan China.

Capital Economics masih memperkirakan pemangkasan suku bunga sekitar 30 basis poin hingga akhir 2027. Namun, kenaikan harga minyak dan potensi percepatan belanja fiskal membuat pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat dinilai semakin kecil kemungkinannya.

Pertumbuhan Uang Beredar China Melambat

Data PBOC juga menunjukkan pertumbuhan jumlah uang beredar luas atau M2 pada Agustus mencapai 7,5% secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah dalam 17 bulan dan berada di bawah proyeksi analis sebesar 7,6% dalam jajak pendapat Reuters. Pada Juli, pertumbuhan M2 masih mencapai 7,7%.

Sementara itu, pertumbuhan uang beredar sempit atau M1 meningkat menjadi 4,1% secara tahunan pada Agustus, dibandingkan 4% pada Juli.

Total pembiayaan sosial yang masih beredar atau outstanding total social financing, indikator luas yang mencakup kredit dan likuiditas dalam perekonomian, tumbuh 7,2% secara tahunan pada Agustus.

Pertumbuhan tersebut melambat dari 7,4% pada Juli.

Peningkatan penerbitan obligasi pemerintah berpotensi mendorong pertumbuhan total pembiayaan sosial China ke depan. Namun, lemahnya permintaan kredit dari rumah tangga dan dunia usaha tetap menjadi tantangan bagi upaya Beijing untuk memperkuat pemulihan ekonomi domestik.