BeritaInternasional

Yield US Treasury Nyaris 5%, Pasar Mulai Waspadai Efeknya ke Saham

Avatar photo
16
×

Yield US Treasury Nyaris 5%, Pasar Mulai Waspadai Efeknya ke Saham

Sebarkan artikel ini
Yield US Treasury Nyaris 5%, Pasar Mulai Waspadai Efeknya ke Saham


PRESSCORNER.ID – Imbal hasil atau yield US Treasury kembali melonjak mendekati level 5% pada Jumat (11/9/2026), seiring kenaikan harga minyak dunia yang memperkuat kekhawatiran inflasi dan mendorong investor meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan depan.

Melansir Reuters, yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 4,97% pada perdagangan awal di Asia. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak akhir 2023 dan semakin mendekatkan yield ke ambang psikologis 5%.

Sementara itu, yield US Treasury tenor 30 tahun juga melonjak ke level tertinggi sejak 2007, yakni 5,38%. Tekanan jual di pasar obligasi AS turut merambat ke pasar obligasi global, termasuk yield obligasi pemerintah Jepang yang meningkat di berbagai tenor.

“Ini merupakan masa yang mengkhawatirkan bagi pasar obligasi dan, sebagai konsekuensinya, juga bagi aset berisiko secara lebih luas,” kata Padhraic Garvey, Head of Global Rates and Debt Strategy ING.

Level 5% pada yield US Treasury 10 tahun dipandang sebagai ambang penting bagi pasar. Jika yield menembus level tersebut, obligasi berpotensi menjadi lebih menarik dibandingkan saham dan mendorong investor mengalihkan dana dari pasar ekuitas.

Kenaikan yield US Treasury juga dapat meningkatkan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi, mulai dari kredit perumahan, pinjaman kendaraan dan konsumen hingga pembiayaan korporasi serta pemerintah daerah.

Garvey bahkan memperingatkan bahwa jika yield 10 tahun mampu menembus 5%, pasar dapat mulai memperhitungkan kemungkinan yield bergerak menuju 6%.

Yield US Treasury 10 tahun sebelumnya sempat menembus level 5% pada Oktober 2023 untuk pertama kalinya sejak 2007.

Saat itu yield mencapai 5,021%, tetapi hanya bertahan di atas level tersebut selama satu hari sebelum kembali turun karena investor mulai membeli obligasi.

Tekanan terhadap pasar obligasi kali ini diperburuk oleh lonjakan harga minyak. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 1% menjadi US$108,68 per barel dan berada di jalur kenaikan sekitar 13% dalam sepekan.

Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya serangan di sejumlah jalur pelayaran penting di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan berkepanjangan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi global.

Pergerakan harga minyak dan obligasi menjadi perhatian investor menjelang rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) atau consumer price index (CPI) Agustus yang dijadwalkan keluar Jumat waktu AS.

Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan penting The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan pekan depan.

Investor kini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga mencapai 72%, naik dari 49% sepekan sebelumnya.

Meski demikian, sejumlah analis masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga jika data inflasi menunjukkan tekanan yang lebih rendah dari perkiraan.

“The Fed akan mencermati data CPI untuk melihat tanda-tanda tekanan inflasi yang mendasar. Ini kemungkinan menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan suku bunga pekan depan,” kata Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di OCBC.

Menurut Menon, data inflasi yang jinak dapat membuat The Fed lebih sulit menaikkan suku bunga. Skenario dasarnya masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan mendatang.

Tekanan jual di pasar obligasi AS juga meningkat setelah pemerintah AS mengumumkan telah membeli kembali obligasi senilai US$5,2 miliar dalam operasi buyback terbaru untuk mendukung likuiditas pasar.

Nilai pembelian tersebut berada di bawah batas maksimum US$6 miliar dan hanya sekitar setengah dari total obligasi senilai US$10,5 miliar yang ditawarkan dalam operasi tersebut.