BeritaInternasional

Iran Klaim Serang 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Brent Tembus US$100

Avatar photo
12
×

Iran Klaim Serang 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Brent Tembus US$100

Sebarkan artikel ini
Iran Klaim Serang 10 Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Brent Tembus US0


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz.

Serangan tersebut terjadi setelah Amerika Serikat (AS) menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran, memicu eskalasi terbesar dalam perang saling serang terhadap pelayaran sejak konflik berlangsung enam bulan lalu.

Serangkaian serangan terhadap kapal di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli.

Kenaikan harga minyak juga berdampak pada harga bahan bakar di AS. Harga rata-rata ritel solar di negara tersebut menembus rekor baru, yakni lebih dari US$5,94 per galon.

Selain menyerang kapal, Iran menyatakan telah meluncurkan rudal balistik ke sebuah pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS di Yordania.

Serangan kedua pihak sejak akhir Agustus telah mengakhiri periode relatif tenang selama sekitar satu bulan. AS dan Iran kini saling menyerang sejumlah aset militer, pelayaran, dan energi.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan akan meningkatkan skala serangan apabila kembali mendapat serangan dari AS.

Garda Revolusi menyatakan bahwa apabila musuh menyerang dua atau tiga target Iran, maka Iran akan merespons dengan menyerang 20 target. Iran juga disebut akan segera merilis peta zona terlarang baru di laut dengan cakupan jauh lebih luas, yang membentang hingga Teluk Arab di sekitar Chabahar, wilayah pesisir Iran yang berada dekat Pakistan.

Eskalasi juga terjadi di front lain. Dalam beberapa hari terakhir, pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran turut meningkat. Konflik tersebut menambah risiko terhadap pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah.

Kapal Tanker Iran Terbakar

Militer AS menyatakan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran dalam serangan pada malam sebelumnya. Washington juga merilis video yang memperlihatkan kapal-kapal tersebut terbakar sebelum akhirnya tenggelam.

Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut serangan tersebut merupakan respons atas dua serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap kapal perang Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik dalam dua hari sebelumnya. AS menyatakan tidak ada warga negaranya yang terluka dalam serangan tersebut.

Washington sebelumnya mengumumkan kebijakan baru untuk menyerang kapal tanker Iran sebagai bentuk pembalasan terhadap serangan yang membahayakan kapal perang AS. Pada Sabtu, AS sebelumnya menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker Iran.

Iran sendiri menyebut telah menggunakan rudal baru dengan kemampuan lebih besar untuk menyerang kapal-kapal AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran akan menghadapi konsekuensi setiap kali mencoba menyerang kapal perang AS.

“Iran terus berusaha menyerang kapal perang AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukan hal itu, mereka akan kehilangan kapal tanker,” kata Rubio kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Kolombia.

Pada Rabu, Garda Revolusi Iran menyatakan telah merespons dengan meluncurkan rudal balistik ke sebuah pangkalan yang digunakan pasukan AS di dekat Al Azraq, Yordania bagian timur.

Iran juga mengklaim telah menyerang dua kapal AS dan delapan kapal tanker minyak yang berusaha melintasi bagian Selat Hormuz yang telah dinyatakan sebagai zona terlarang oleh Iran.

Badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), mengatakan menerima laporan mengenai sejumlah kapal niaga yang terkena tembakan hingga mengalami kerusakan di wilayah utara Teluk dan Teluk Oman, masing-masing berada di sisi Selat Hormuz.

UKMTO belum dapat memastikan jumlah korban maupun dampak lingkungan dari serangkaian serangan tersebut.

Salah satu kapal dilaporkan mengalami kemiringan. Kondisi tersebut diduga menunjukkan kapal mulai kemasukan air setelah terkena proyektil di sekitar Port Rashid, Uni Emirat Arab (UEA).

Dua pejabat pelabuhan Irak juga mengatakan kapal tanker New Andros yang membawa sekitar 2 juta barel bahan bakar minyak terbakar setelah terkena serangan drone di perairan Irak. Tidak ada laporan korban dari 22 awak kapal.

Iran juga mengancam kapal tanker minyak yang berada di pelabuhan Kuwait dan Bahrain, menurut pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran.

Sumber keamanan maritim juga melaporkan sebuah kapal tanker gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) mengalami kerusakan di pelabuhan Khor Fakkan, UEA.

Selat Hormuz Terancam Ganggu Pasokan Minyak Global

Iran dalam beberapa waktu terakhir telah secara signifikan menghambat lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya menjadi salah satu rute utama pengiriman energi dunia, dengan sekitar seperlima pasokan minyak global melintasinya sebelum perang berlangsung.

AS merespons dengan memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington menyatakan masih mampu membantu mengarahkan sejumlah kapal tanker melewati Selat Hormuz.

Namun, pemantau independen menilai semakin sulit untuk memperkirakan secara akurat berapa banyak minyak yang masih dapat keluar melalui jalur tersebut.

Data awal menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi kawasan tersebut dalam 24 jam terakhir dengan transponder dalam kondisi aktif.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian besar pasar energi karena setiap pembatasan terhadap jalur tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak mentah dan produk energi dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.

Iran Klaim Serangan ke Yordania

Iran juga menyatakan rudal yang ditembakkan ke wilayah Yordania menyebabkan kerusakan berat.

Namun, pemerintah Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 dari 20 rudal Iran. Dua rudal lainnya jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Seorang pejabat AS mengatakan serangan Iran terhadap Yordania tidak efektif dan seluruh personel militer AS yang berada di wilayah tersebut dalam kondisi aman.

Video yang direkam di Ash-Shajarah, Yordania bagian utara, dan telah diverifikasi Reuters memperlihatkan kilatan cahaya menerangi langit malam.

Iran sebelumnya telah beberapa kali menargetkan pangkalan AS di kawasan tersebut selama perang berlangsung. Sedikitnya dua personel militer AS tewas dalam serangan terhadap Yordania pada Juli.

Houthi Serang Arab Saudi, Risiko Energi Meningkat

Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran juga meningkatkan ketidakpastian di pasar energi.

Pemerintah Yaman yang berbasis di wilayah selatan dan mendapat dukungan Arab Saudi telah melancarkan serangan multiarah terhadap wilayah yang dikuasai Houthi. Kelompok tersebut sebelumnya telah mengancam pelayaran Arab Saudi di Laut Merah.

Pada Selasa, Houthi melancarkan serangan terhadap empat kota di Arab Saudi. Serangan tersebut memicu kebakaran besar di sejumlah fasilitas minyak yang bahkan terlihat dari luar angkasa.

Otoritas Arab Saudi melaporkan sebanyak 73 orang terluka. Kantor berita Saudi Press Agency juga merilis rekaman yang memperlihatkan sejumlah rumah mengalami kerusakan parah serta korban yang menjalani perawatan di rumah sakit.

Seorang sumber di Pakistan, negara yang bulan lalu menandatangani pakta pertahanan bersama Arab Saudi, mengatakan Riyadh telah melancarkan serangan balasan ke Yaman.

Houthi menyatakan puluhan orang tewas akibat serangan udara Arab Saudi. Namun, pemerintah Arab Saudi belum mengonfirmasi laporan tersebut.

Arab Saudi pada Rabu mengeluarkan peringatan mengenai potensi ancaman terhadap Khamis Mushait, salah satu kota yang menjadi sasaran serangan sehari sebelumnya. Peringatan tersebut kemudian dicabut tanpa penjelasan lebih lanjut.

Eskalasi konflik Iran-AS, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta meningkatnya serangan Houthi terhadap Arab Saudi kini menjadi kombinasi risiko baru bagi pasar energi global. Jika gangguan terhadap jalur pelayaran dan fasilitas energi terus berlanjut, tekanan terhadap harga minyak dan biaya energi di berbagai negara berpotensi semakin besar.