PRESSCORNER.ID – Harga gandum melonjak pada perdagangan Selasa (8/9/2026), didorong minimnya kemajuan diplomasi Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang telah mengganggu pengiriman komoditas dari kawasan Laut Hitam.
Melansir Reuters, kontrak gandum yang paling aktif diperdagangkan di Chicago Board of Trade (CBOT) melesat 2,9% menjadi US$ 7,55 1/2 per bushel pada 01.45 GMT.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas pangan lainnya. Harga jagung CBOT naik 0,6% menjadi US$ 5,39 3/4 per bushel, sedangkan kedelai menguat 0,2% menjadi US$ 13,12 1/4 per bushel.
Pergerakan harga gandum terutama dipengaruhi ketidakpastian terkait upaya diplomasi AS untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina.
Utusan perdamaian AS Jared Kushner dan Steve Witkoff bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow serta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Kyiv pada akhir pekan.
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan yang dapat mengakhiri konflik.
Pelaku pasar menilai kunjungan utusan AS ke Rusia belum memberikan kepastian mengenai pembukaan kembali jalur ekspor biji-bijian Rusia dan Ukraina melalui Laut Hitam.
Serangan balasan antara Rusia dan Ukraina terhadap pelabuhan serta kapal masing-masing telah membuat ekspor dari kawasan tersebut nyaris terhenti. Kondisi ini mendorong negara-negara importir mencari sumber pasokan alternatif.
Pasar juga masih mewaspadai risiko gangguan ekspor gandum Rusia dan Ukraina yang berlangsung lebih lama.
Kedua negara tersebut merupakan pemasok penting bagi pasar biji-bijian global, sehingga gangguan pengiriman berpotensi menjaga harga komoditas tetap tinggi.
Sementara itu, harga kedelai mendapat dukungan dari pembelian kedelai AS oleh China serta kekhawatiran terhadap cuaca panas dan kering di sejumlah wilayah utama pertanian AS.
Untuk jagung, ekspektasi terhadap hasil panen yang lebih rendah di wilayah Corn Belt AS turut memberikan penopang harga.
Di pasar energi, harga minyak dunia juga melanjutkan penguatan pada Selasa. Risiko konflik Timur Tengah yang berkepanjangan meningkat setelah Iran mengancam melakukan pembalasan terhadap serangan baru AS terhadap asetnya.
Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global.











