PRESSCORNER.ID – Yen Jepang melanjutkan penguatan terhadap dolar AS hingga mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan pada Selasa (8/9/2026).
Penguatan yen terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga.
Melansir Reuters, yen menguat hingga 153,53 per dolar AS dalam perdagangan pagi, menembus level yang tercapai saat intervensi Jepang pada Juli dan menjadi level terkuat sejak Februari 2026.
Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan yen sebesar 1,2% pada Senin (7/9/2026) dalam perdagangan yang relatif tipis karena libur di AS.
Dengan pergerakan tersebut, yen telah menguat hampir 4% dibandingkan posisi sekitar 160 yen per dolar AS pada awal pekan sebelumnya.
Pelaku pasar dan analis menilai penguatan yen didorong oleh sejumlah faktor. Selain meningkatnya ekspektasi terhadap percepatan pengetatan kebijakan moneter BOJ, investor Jepang berpotensi memulangkan dana dari luar negeri.
Kondisi tersebut dapat mendorong pembalikan strategi carry trade dan meningkatkan permintaan terhadap yen.
Tekanan politik dari AS terhadap Jepang juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar.
“Penurunan ini terlihat lebih seperti aksi pembalikan posisi short yen secara tajam setelah pasangan mata uang tersebut menembus level support penting di sekitar 155 yang terlihat pada Agustus dan Mei,” kata Tony Sycamore, analis pasar di IG.
Menurut dia, penembusan level tersebut dapat membuka ruang bagi yen untuk menguji level support berikutnya.
Pasar menanti inflasi AS
Di sisi lain, pergerakan dolar AS cenderung terbatas menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pekan ini.
Indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama turun tipis ke 98,83, seiring penguatan yen.
Euro dan poundsterling masing-masing menguat 0,06% menjadi US$ 1,1628 dan US$ 1,3549.
Perhatian investor kini tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut menjadi salah satu indikator ekonomi penting terakhir sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 60% bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada bulan ini, setelah laporan tenaga kerja AS atau nonfarm payrolls yang lebih kuat dari perkiraan pada Jumat (4/9/2026).
Data inflasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah tekanan harga masih cukup tinggi untuk mendorong The Fed mempertahankan atau memperketat kebijakan moneternya.
Risiko geopolitik kembali diperhatikan
Selain data ekonomi, investor juga mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk dan dampaknya terhadap inflasi.
Iran pada Senin (7/9/2026) mengancam akan melakukan pembalasan jika AS kembali menyerang aset Iran.
Teheran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas AS, dapat menjadi sasaran.
Harga minyak mentah pun bertahan di dekat level tertinggi dalam enam pekan. Kontrak berjangka Brent berada kokoh di atas US$ 97 per barel.
Pergerakan mata uang lainnya relatif terbatas. Dolar Selandia Baru menguat 0,1% menjadi US$ 0,5882, sedangkan dolar Australia bergerak datar di US$ 0,7219.
Sementara itu, yuan China di pasar offshore bergerak datar di sekitar 6,708 per dolar AS, mendekati level tertinggi dalam 3,5 tahun.
Investor menunggu data perdagangan China yang dijadwalkan dirilis pada Selasa. Ekspor China diperkirakan tumbuh lebih cepat pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.











