BeritaInternasional

Iran Mengancam Akan Membalas Serangan AS, Fasilitas Energi Paling Rentan

Avatar photo
9
×

Iran Mengancam Akan Membalas Serangan AS, Fasilitas Energi Paling Rentan

Sebarkan artikel ini
Iran Mengancam Akan Membalas Serangan AS, Fasilitas Energi Paling Rentan


PRESSCORNER.ID – DUBAI. Iran mengancam akan membalas setiap serangan baru AS terhadap aset-asetnya dan memperingatkan bahwa rantai produksi energi di kawasan tersebut tersebar luas, mudah diakses, dan rentan, serta bahwa perusahaan minyak dan gas AS di sana juga memiliki kerentanan serupa.

“Serang aset kami dan Anda akan diserang,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyusul serangan AS dan Iran terhadap kapal-kapal pada akhir pekan lalu.

Pada hari Minggu, pejabat senior keamanan Iran Mohsen Rezaei mengatakan Iran akan mengumumkan rencana zona terlarang baru di Teluk dalam beberapa hari mendatang, dan akan segera menyetujui peta koridor pelayaran baru yang melintasi Selat Hormuz.

Iran telah membatasi lalu lintas melalui selat tersebut—jalur pasokan minyak dan gas global yang vital—sejak konflik dengan Amerika Serikat dimulai dengan serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

Rezaei mengatakan zona terlarang baru tersebut akan dimulai dari titik awal blokade angkatan laut AS terhadap Iran dan meluas hingga ke wilayah Teluk. Setiap kapal yang memasuki zona baru tersebut akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi Iran, ujarnya. 

“Kami hanya akan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka jika mereka (pihak Amerika) menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran,” kata Rezaei.

Menegaskan sikap tegas Iran, Qalibaf melontarkan ancaman baru untuk membalas setiap serangan AS. Hal ini tampaknya merupakan tanggapan atas peringatan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menyebut armada kapal tanker minyak Iran “tidak memiliki pertahanan”.

“Sederhana saja: rantai produksi minyak dan gas di sini sangat luas, mudah diakses, dan rentan. Perusahaan minyak dan gas Amerika yang beroperasi di perairan dan fasilitas ini juga menghadapi risiko kerentanan yang sama,” tulis Qalibaf, yang merupakan negosiator utama Iran, di platform X.

“Serang aset kami, maka Anda akan diserang balik. Kami sudah membuktikannya. Tanyakan saja pada pangkalan-pangkalan yang kini tidak lagi bisa beroperasi,” ujarnya, merujuk pada serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan tersebut selama konflik berlangsung.

Saling Serang Antara AS-Iran

Presiden AS Donald Trump belum berhasil mencapai tujuan yang ia tetapkan saat meluncurkan “Operation Epic Fury” pada bulan Februari: menghentikan program nuklir Iran, memutus kemampuan Iran menyerang negara-negara tetangganya, serta menciptakan kondisi agar rakyat Iran dapat menggulingkan kepemimpinan mereka.

Para pemimpin ulama Teheran tetap berkuasa dan bertekad untuk keluar dari perang ini dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya; mereka menuntut pencabutan sanksi dan berharap dapat memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi selat tersebut—jalur yang sebelum perang mengangkut seperlima dari total pengiriman minyak dan gas dunia.

Setelah sempat jeda dari aksi militer selama sebagian besar bulan Agustus, aksi saling serang kembali terjadi menyusul kegagalan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai pada bulan Juni, dan hanya ada sedikit kemajuan dalam upaya mengembalikan proses perdamaian ke jalurnya.

Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada hari Sabtu—termasuk satu kapal di lepas pantai Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran—sebagai balasan atas serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap kapal-kapal perang AS di kawasan tersebut.

Teheran telah menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk menyerang kepentingan AS di negara-negara tetangga serta menutup aliran minyak yang melewati Selat Hormuz. 

Menurut data pelayaran pada hari Senin, rata-rata 10 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat tersebut setiap harinya selama 10 hari terakhir; angka ini merupakan yang terendah sejak bulan Mei.

Hal tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak pada hari Senin, di mana harga minyak mentah berjangka Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli di angka $97,93 per barel sebelum akhirnya turun kembali ke $96,19.

Sanksi dan Blokade Minyak Menekan Perekonomian

Iran menyatakan akan meningkatkan upaya untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat sanksi AS yang melumpuhkan perekonomiannya.

Namun, tiga sumber senior Iran mengungkapkan bahwa upaya AS untuk mencekik perekonomian Iran—melalui blokade ekspor minyak dan pencegahan penghindaran sanksi—kian sulit untuk dihadapi.

Pada akhir pekan lalu, Qalibaf menyatakan bahwa selain di front militer, perjuangan utama Iran kini berfokus pada sektor produksi dan penghidupan masyarakat; ia menyoroti fluktuasi mata uang, inflasi, pengangguran, dan pengelolaan pasar sebagai tantangan-tantangan besar.

Konflik ini juga berdampak pada negara-negara Teluk Arab penghasil minyak seperti Uni Emirat Arab (UEA), yang sempat menjadi sasaran serangan rudal Iran serta mengalami serangan terhadap kapal-kapal tanker minyaknya di Selat Hormuz.

Penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, pada hari Senin mengatakan bahwa negaranya sedang membangun jalur alternatif untuk ekspor energi dan perdagangan mereka untuk memastikan hal-hal tersebut tidak “disandera” oleh perang.

Dampak blokade Iran terhadap Selat Hormuz terhadap pasokan energi juga telah dirasakan di AS seiring dengan naiknya harga bahan bakar. Kenaikan harga ini telah membebani popularitas Trump di saat Partai Republik yang dipimpinnya bersiap menghadapi pemilihan umum pada bulan November, di mana kendali atas Kongres menjadi taruhannya.