BeritaInternasional

Tekanan Ekonomi AS Makin Ketat, Pengaruh Iran di Selat Hormuz Melemah

Avatar photo
9
×

Tekanan Ekonomi AS Makin Ketat, Pengaruh Iran di Selat Hormuz Melemah

Sebarkan artikel ini
Tekanan Ekonomi AS Makin Ketat, Pengaruh Iran di Selat Hormuz Melemah


PRESSCORNER.ID – ISTANBUL. Enam bulan setelah konflik yang mengguncang pasar dan membawa kawasan Teluk ke ambang perang yang lebih luas, posisi Iran dinilai mulai tertekan. Amerika Serikat (AS) kini meningkatkan tekanan ekonomi secara besar-besaran untuk mencapai tujuan yang sebelumnya gagal diwujudkan melalui kekuatan militer.

Menurut sumber-sumber Iran dan regional, Teheran kini menghadapi salah satu tekanan ekonomi terberat sepanjang sejarah Republik Islam. Blokade angkatan laut AS dan sanksi yang semakin ketat telah menekan ekspor minyak Iran, membatasi akses terhadap valuta asing, serta memperlihatkan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.

Kampanye tersebut membuat pejabat AS dan negara-negara kawasan memperkirakan tekanan ekonomi yang semakin besar dapat memaksa Teheran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selat strategis tersebut menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dan liquefied natural gas (LNG) dunia.

Perhitungan AS dan sekutunya bertumpu pada asumsi sederhana, yakni Iran mengalami kerugian ekonomi yang lebih besar dibandingkan dampak yang berhasil ditimbulkannya.

Upaya untuk membatasi ekspor minyak Iran telah mengurangi penerimaan negara. Sementara itu, langkah Teheran untuk mengganggu pelayaran di Selat Hormuz belum memicu guncangan ekonomi global seperti yang diharapkan Iran untuk mendorong Washington kembali berkompromi.

Pasar energi justru mulai beradaptasi dan pasokan alternatif masih terus mengalir.

“Perimbangan kekuatan telah sedikit bergeser melawan Iran,” kata analis Iran Arash Azizi.

Menurut dia, Iran kehilangan sebagian daya tawar yang sebelumnya dimiliki atas Selat Hormuz karena belum mampu menutup jalur tersebut sepenuhnya. Ia menambahkan bahwa blokade angkatan laut AS “benar-benar menghantam Iran.”

Azizi mengatakan Teheran sebelumnya memperkirakan gangguan di Selat Hormuz akan memicu guncangan besar terhadap perekonomian global dan mendorong Washington kembali ke meja perundingan.

“Hal itu benar-benar tidak terjadi,” ujarnya.

Negara-negara lain telah beradaptasi terhadap gangguan tersebut. Kondisi ini memperlihatkan keterbatasan kemampuan Iran dalam menimbulkan tekanan ekonomi terhadap kawasan maupun perekonomian global.

Iran Belum Menyerah

Meski demikian, sumber-sumber regional mengatakan belum jelas apakah tekanan tersebut akan memaksa Iran memberikan konsesi.

Teheran memang belum berhasil menciptakan biaya ekonomi yang diharapkan mampu menggoyahkan keteguhan Washington. Namun, Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan tuntutannya terkait keringanan sanksi, akses terhadap aset yang dibekukan, serta pengakuan atas peran keamanannya di Selat Hormuz.

Di tengah kebuntuan tersebut, sumber-sumber regional mengatakan formula baru untuk menyelesaikan perselisihan kini mulai dibahas antara para mediator dan Iran.

Mampukah Teheran Bertahan dari Tekanan Ekonomi?

Tiga sumber senior Iran mengakui kampanye tekanan Washington semakin sulit dihadapi.

Langkah terbaru AS telah membatasi secara tajam kemampuan Teheran untuk memperoleh valuta asing, mengimpor barang, serta mengakses jaringan pembiayaan global yang selama ini membantu menopang perekonomian Iran.

Para pemimpin Iran khawatir memburuknya kondisi ekonomi, yang ditandai dengan kenaikan harga, melemahnya perdagangan dan tekanan terhadap pendapatan rumah tangga, dapat kembali memicu gejolak nasional yang selama ini berulang kali menantang pemerintahan Republik Islam.

Pejabat Iran juga mengatakan kelangkaan sejumlah barang impor penting, termasuk bahan bakar dan gandum, semakin menjadi perhatian.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menggambarkan strategi tersebut sebagai “pukulan satu-dua” yang menggabungkan blokade dengan “sanksi paling keras dalam sejarah.”

“Ini akan berhasil di Iran dan kami akan membuat rezim ini runtuh,” kata Bessent kepada CNBC.

Bagi sejumlah pejabat AS, Israel dan negara-negara kawasan, tekanan ekonomi tersebut meningkatkan harapan bahwa tekanan ekonomi pada akhirnya dapat menimbulkan konsekuensi politik di dalam Iran.

Tekanan tersebut berpotensi memicu keresahan masyarakat, memperlebar perpecahan di kalangan elite pemerintahan, serta melemahkan cengkeraman kekuasaan.

Namun, sebagian pihak tetap skeptis bahwa tekanan ekonomi dan militer akan menghasilkan perubahan politik besar.

Mereka menunjuk pada kegagalan berbagai upaya selama beberapa dekade untuk mengguncang Republik Islam serta kemampuan Teheran dalam menekan perbedaan pendapat. Para pengkritik strategi tersebut menilai para penguasa Iran sekali lagi dapat menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dibandingkan perkiraan lawan-lawannya.

Ketahanan Iran Menjadi Ujian

Dennis Ross, mantan perunding AS, mengatakan Washington mungkin menafsirkan tekanan ekonomi yang dialami Iran sebagai bukti keberhasilan strategi, padahal situasinya jauh lebih kompleks.

Teheran tetap bertekad menunjukkan bahwa mereka mampu mengendalikan Selat Hormuz. Namun, Iran tampaknya mulai mengatur penggunaan kekuatan sambil tetap menyimpan opsi eskalasi lebih lanjut.

Ross mengatakan Garda Revolusi Iran mungkin menilai negaranya mampu menyerap tekanan ekonomi dan bertahan lebih lama daripada tekanan yang diberikan kepadanya, alih-alih memilih berkompromi.

“Rakyat Iran secara konsisten mengejutkan kita dalam hal ketahanan mereka,” kata Ross.

Ia meragukan tekanan ekonomi dan militer saja akan cukup untuk memaksa Iran mundur. Menurutnya, kelompok garis keras di Iran mungkin percaya bahwa mereka mampu bertahan dan pada akhirnya memperoleh apa yang mereka inginkan.

Sementara itu, Burcu Ozcelik, peneliti senior di Royal United Services Institute, mengatakan ketahanan Iran tidak hanya bergantung pada kemampuan pemerintah menyerap tekanan ekonomi, tetapi juga pada tingkat toleransi masyarakat.

“Tentu saja, tekanan ekonomi meningkatkan risiko kerusuhan masyarakat, tetapi untuk saat ini, mentalitas masa perang tampaknya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap masyarakat,” kata Ozcelik.

“Intervensi militer asing, korban sipil dan persepsi mengenai konfrontasi peradaban yang lebih luas dengan tatanan yang dipimpin AS mempertahankan tingkat dukungan patriotik ‘Iran terlebih dahulu’, toleransi atau sekadar kesabaran terhadap rezim,” lanjutnya.

Selat Hormuz Bisa Jadi Jalan Keluar

Situasi tersebut menciptakan kebuntuan yang lebih sulit daripada yang mungkin diperkirakan Washington.

Tekanan ekonomi memang memperdalam penderitaan Iran. Namun, Garda Revolusi Iran yang memiliki kekuatan besar dapat melihat kemampuan bertahan, yang didukung ancaman eskalasi, sebagai sumber daya tawar dan bukan alasan untuk memberikan konsesi.

Sumber-sumber regional mengatakan pertanyaan utama saat ini bukan lagi apakah Iran mengalami tekanan, melainkan apakah tekanan tersebut sudah cukup besar untuk membuat Teheran berkompromi sebelum kedua pihak kembali terjerumus ke dalam konfrontasi.

Ross menilai jalan paling jelas menuju kesepakatan dapat berada pada persoalan biaya pelayaran melalui Selat Hormuz.

Menurut dia, Iran dapat meninggalkan tuntutan untuk mengenakan tarif atas pelayaran, tetapi tetap mempertahankan hak untuk mengenakan biaya atas layanan navigasi, keamanan atau lingkungan yang sah.

Pengaturan semacam itu dapat memberikan kedua belah pihak kesempatan untuk mengklaim kemenangan. Bagi Teheran, mekanisme tersebut memungkinkan Iran mundur dari tuntutannya tanpa terlihat menyerah kepada tekanan AS.

“Jika Anda bisa mengumumkan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali,” kata Ross.

“Saya pikir Trump akan membuat kesepakatan,” tambahnya.