PRESSCORNER.ID – Lululemon Athletica kembali memangkas proyeksi kinerja setahun penuh. Kondisi ini menegaskan besarnya tantangan yang akan dihadapi CEO baru Heidi O’Neill untuk mengembalikan daya tarik merek dan merebut konsumen dari para pesaingnya.
Melansir Reuters, saham Lululemon anjlok sekitar 18% dalam perdagangan setelah jam bursa pada Kamis (3/9/2026), setelah perusahaan juga membukukan penjualan kuartal kedua di bawah ekspektasi analis.
Penurunan tersebut memperpanjang tekanan terhadap saham Lululemon yang telah merosot hampir 69% sejak awal 2025.
Lululemon selama ini dikenal dengan produk pakaian olahraga premium, termasuk celana legging dan atasan atletik.
Namun, perusahaan menghadapi perlambatan penjualan dalam beberapa kuartal terakhir seiring menurunnya daya tarik merek.
Kondisi tersebut membuat Lululemon kehilangan pangsa pasar di Amerika Utara dari pesaing yang lebih baru seperti Alo Yoga dan Vuori.
Manajemen mengakui salah satu akar persoalan adalah kurangnya produk baru yang menarik, ditambah sejumlah kesalahan dalam strategi pemasaran.
Penjualan China dan Amerika Utara Melemah
China menjadi salah satu penyebab utama melesetnya kinerja Lululemon pada kuartal kedua.
Pendapatan di China, yang biasanya menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan kuat, turun 2% dalam basis mata uang konstan. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan di China tumbuh 24%.
Manajemen menyebut salah satu faktor yang memengaruhi kinerja adalah komentar negatif setelah kampanye pemasaran Lululemon di Tembok Besar China yang menampilkan alat musik taiko asal Jepang.
Sementara itu, pendapatan Lululemon di wilayah Amerika, yang merupakan pasar terbesar perusahaan, turun 8%.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan 1% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tekanan juga terlihat pada produk legging yang selama ini menjadi identitas utama Lululemon. Penjualan produk tersebut turun sekitar 20%.
Perusahaan sebelumnya mencoba menggeser fokus ke model pakaian yang lebih longgar dan populer di kalangan konsumen. Namun, strategi tersebut belum mampu mengimbangi lemahnya permintaan terhadap celana dengan potongan yang lebih ketat.
“Kami mengharapkan respons yang lebih baik. Kami tahu masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan,” kata Meghan Frank, Interim Co-CEO sekaligus CFO Lululemon.
CEO Baru Jadi Sorotan Investor
Kini perhatian investor tertuju kepada Heidi O’Neill yang akan mengambil alih posisi CEO Lululemon mulai pekan depan.
Penunjukan O’Neill terjadi setelah Lululemon menyelesaikan perselisihan sengit terkait aksi proxy dengan pendiri perusahaan, Chip Wilson.
O’Neill diharapkan mampu menghidupkan kembali pertumbuhan penjualan melalui inovasi produk dan strategi pemasaran yang lebih kuat.
Data M Science menunjukkan pangsa Lululemon di pasar athleisure turun 10 poin persentase menjadi 43,9% pada Agustus dibandingkan setahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, pangsa Alo Yoga dan Vuori masing-masing meningkat 5,9 poin persentase dan 2,2 poin persentase.
“Memperbaiki produk hanyalah setengah dari perjuangan. Lululemon juga harus membuat konsumen kembali bersemangat terhadap merek tersebut,” kata analis eMarketer Zak Stambor.
O’Neill membawa pengalaman sekitar empat dekade di industri pakaian olahraga dan memiliki rekam jejak dalam membangun bisnis direct-to-consumer.
Namun, analis menilai pemulihan inovasi dan desain produk menjadi pekerjaan yang lebih mendesak bagi CEO baru tersebut.
Investor juga diperkirakan tidak akan langsung melihat hasil dari strategi baru. Pasalnya, siklus pengembangan produk di industri pakaian membutuhkan waktu cukup panjang sehingga sejumlah inisiatif baru bisa membutuhkan beberapa tahun sebelum memberikan dampak signifikan.
Proyeksi Lululemon Kembali Dipangkas
Seiring tekanan bisnis tersebut, Lululemon memangkas proyeksi pendapatan tahun fiskal 2026.
Perusahaan kini memperkirakan pendapatan tahun fiskal 2026 turun 5%-7%. Sebelumnya, Lululemon memperkirakan pendapatan akan relatif datar atau hanya turun maksimal 1%.
Proyeksi laba per saham juga dipangkas menjadi US$9,48-US$9,73, dari perkiraan sebelumnya US$10,95-US$11,15.
Pada kuartal kedua, Lululemon mencatat pendapatan sebesar US$2,42 miliar, di bawah ekspektasi analis sebesar US$2,46 miliar berdasarkan data LSEG.
Meski demikian, margin kotor kuartalan meningkat 200 basis poin menjadi 60,5%. Kenaikan tersebut terutama didorong pengembalian tarif sebesar US$134,5 juta serta bunga terkait sebesar US$4,1 juta.











