PRESSCORNER.ID – Harga emas kembali menguat lebih dari 1% pada perdagangan Rabu (2/9/2026), setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam hampir satu bulan.
Penguatan emas didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil (yield) US Treasury dari level tertingginya.
Investor juga masih mencermati data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir Reuters, harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.376,41 per ons troi pada pukul 13.57 EDT atau 00.57 WIB, Kamis (3/9/2026). Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 7 Agustus 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 0,4% dan ditutup pada US$ 4.414,60 per ons troi.
David Meger, Director of Metals Trading di High Ridge Futures mengatakan kenaikan emas terjadi setelah yield US Treasury mulai turun dari level tertingginya.
“Salah satu alasan emas mampu kembali bergerak di atas level sebelumnya adalah karena yield sedikit turun pada hari ini. Hal tersebut memungkinkan emas memantul dari beberapa level terendah baru-baru ini,” ujar Meger.
Menurut dia, pergerakan harga energi dan yield obligasi masih menjadi perhatian utama pelaku pasar emas.
“Jelas, sektor energi dan yield masih menjadi fokus utama bagi pasar emas ke depan,” katanya.
Dolar AS dan Yield Treasury Turun
Yield US Treasury turun setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun pada awal perdagangan.
Penurunan tersebut terjadi ketika harga minyak mereda dan investor mencerna sejumlah data ekonomi terbaru AS.
Dolar AS juga melemah dari level tertinggi dalam hampir tiga pekan.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan kenaikan yield obligasi jangka panjang AS bukan didorong oleh kekhawatiran inflasi, melainkan mencerminkan kondisi ekonomi yang solid.
Dari sisi ketenagakerjaan, pertumbuhan payroll sektor swasta AS pada Agustus berada di bawah ekspektasi. Namun, data tersebut tidak banyak menggerakkan harga emas karena investor lebih menunggu laporan tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls (NFP) yang akan dirilis Jumat (4/9/2026).
Rhona O’Connell, Head of Market Analysis di StoneX mengatakan, data payroll swasta dari ADP kurang dapat diandalkan sebagai indikator utama pasar.
“ADP tidak dapat diandalkan dan mungkin menentukan arah awal data nonfarm payrolls, tetapi nonfarm payrolls sejauh ini merupakan data yang paling penting bagi pasar,” kata O’Connell.
Pasar Pantau Kebijakan The Fed
Pelaku pasar kini semakin mencermati peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed dalam pertemuan bulan ini.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan, trader memperkirakan peluang sebesar 64% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed bulan ini.
Pergerakan dolar AS dan yield obligasi menjadi faktor penting bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield dan dolar AS melemah, emas cenderung menjadi lebih menarik bagi investor.
Di sisi lain, bank sentral Belanda mengatakan telah memindahkan 86 metrik ton cadangan emas dari New York dan Ottawa ke London dalam enam bulan terakhir.
Pemindahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemudahan perdagangan emas sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi kondisi krisis.
Sementara itu, harga logam mulia lainnya juga menguat. Harga perak spot naik 1,2% menjadi US$ 65,03 per ons troi.
Harga platinum naik 0,9% menjadi US$ 1.756,39 per ons troi. Sedangkan palladium melonjak 3,18% menjadi US$ 1.352,74 per ons troi.











