BeritaInternasional

Bank Inggris Makin Banyak Jaminkan Aset Berisiko Tinggi ke BoE, Ini Isinya

Avatar photo
9
×

Bank Inggris Makin Banyak Jaminkan Aset Berisiko Tinggi ke BoE, Ini Isinya

Sebarkan artikel ini
Bank Inggris Makin Banyak Jaminkan Aset Berisiko Tinggi ke BoE, Ini Isinya


PRESSCORNER.ID – LONDON. Bank-bank Inggris semakin banyak menjaminkan aset berisiko tinggi, termasuk pinjaman yang terkait kartu kredit toko berbunga tinggi dan sewa kendaraan, sebagai agunan untuk mendapatkan pendanaan dari Bank of England (BoE).

Tinjauan Reuters terhadap data dan dokumen BoE menunjukkan, penggunaan aset berisiko sebagai jaminan tersebut meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menyoroti semakin besarnya eksposur bank sentral Inggris terhadap aset yang berpotensi kurang likuid ketika terjadi tekanan di pasar.

Pada 18 Agustus 2026, perbankan Inggris menjaminkan aset senilai £ 1,9 miliar atau sekitar US$ 2,6 miliar dalam kategori agunan dengan tingkat risiko tertinggi yang diterima BoE. Aset tersebut digunakan dalam lelang pendanaan berjangka enam bulan.

Nilai tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2020 dan sekitar tiga kali lipat dibandingkan nilai agunan yang dijaminkan pada pekan sebelumnya.

Secara keseluruhan, perhitungan Reuters menunjukkan BoE kini memiliki sekitar £ 17,8 miliar agunan yang masuk kategori Level C melalui fasilitas Indexed Long-Term Repo (ILTR). Nilai tersebut melonjak dari £ 8,7 miliar setahun sebelumnya dan kurang dari £ 1 miliar pada pertengahan 2024.

Transaksi tersebut menggambarkan sejauh mana bank sentral Inggris kini terekspos terhadap aset dengan risiko lebih tinggi dan berpotensi tidak likuid.

Sebagai pembanding, Bank Sentral Eropa (ECB) dalam beberapa tahun terakhir justru memperketat kriteria aset yang dapat diterima sebagai agunan. Kekhawatiran ECB adalah status aset yang diterima bank sentral dapat meningkatkan permintaan terhadap surat berharga berisiko yang mungkin sulit dijual ketika terjadi krisis.

Juru bicara BoE mengatakan fasilitas ILTR memang dirancang agar lembaga keuangan dapat menggunakan berbagai jenis aset sebagai agunan. Namun, bank sentral tetap melindungi dirinya melalui manajemen risiko yang ketat.

“Fasilitas kami terbuka dan kami menyambut peningkatan penggunaannya,” ujar juru bicara tersebut.

Konsekuensi dari Pengurangan Quantitative Easing

Meningkatnya penggunaan ILTR sebenarnya merupakan konsekuensi yang memang diharapkan dari kebijakan BoE untuk membalikkan program quantitative easing (QE).

Bank-bank komersial Inggris menggunakan dana tunai yang disimpan di rekening BoE untuk melakukan transaksi di pasar grosir. Ketika BoE mulai membalikkan QE senilai £895 miliar yang dilakukan pada periode 2009-2021, likuiditas yang sebelumnya membanjiri sistem keuangan mulai dikurangi.

Melalui ILTR, bank dapat memperoleh dana tunai dengan menjaminkan aset yang lebih beragam kepada BoE.

Namun, Reuters menemukan bahwa daftar agunan Level C BoE mencakup sejumlah produk yang justru tidak lagi diperbolehkan dalam kelompok agunan ECB setelah bank sentral kawasan euro tersebut memperketat aturannya.

Beberapa di antaranya merupakan produk utang yang mengemas dan menjual aliran pembayaran masa depan dari kredit pemilikan rumah atau hipotek.

Sekuritisasi utang berbasis hipotek dan pinjaman lainnya pernah menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko menjelang krisis keuangan global 2008. Skema tersebut memungkinkan pemberi pinjaman menjual utang dengan cepat sehingga berpotensi mendorong perilaku pengambilan risiko yang lebih besar.

William Allen, visiting fellow di National Institute of Economic and Social Research dan mantan kepala divisi pasar uang BoE, mengatakan bank sentral Inggris memiliki alasan untuk menerima aset Level C.

Namun, menurut dia, penggunaan aset tersebut perlu dijaga agar tidak berlebihan karena dapat menciptakan insentif bagi perbankan untuk memberikan pinjaman yang lebih berisiko.

“BoE memiliki alasan yang baik untuk menerima aset Grade C, tetapi ada risiko jika dilakukan terlalu banyak karena dapat mendorong pemberian pinjaman yang buruk,” kata Allen.

BoE mengatakan pihaknya terus meninjau kerangka agunan untuk memastikan kebijakan tersebut tetap sejalan dengan tujuan toleransi risiko bank sentral.

Untuk aset yang lebih berisiko, BoE mengenakan tingkat bunga lebih tinggi sekaligus menerapkan haircut lebih besar. Artinya, nilai pinjaman yang diberikan akan lebih rendah dibandingkan nilai penuh aset yang dijaminkan guna melindungi bank sentral dari potensi kerugian.

Agunan Level C Lebih dari Dua Kali Lipat

Agunan Level C menyumbang sekitar seperlima hingga seperempat dari total agunan yang diterima melalui ILTR selama setahun terakhir.

Namun, karena penggunaan fasilitas ILTR secara keseluruhan meningkat, nilai absolut agunan Level C kini telah lebih dari dua kali lipat.

Moyeen Islam, analis fixed income Barclays, menilai meningkatnya penggunaan fasilitas BoE juga bisa mencerminkan perubahan kondisi pasar kredit swasta.

“Ada kemungkinan pasar non-BoE untuk aset-aset ini tidak lagi seaktif sebelumnya karena minat terhadap kredit di pasar swasta lebih rendah,” kata Islam.

Hal tersebut terjadi ketika industri private credit global yang bernilai sekitar US$3,5 triliun berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Industri ini menawarkan imbal hasil lebih tinggi kepada investor, tetapi juga semakin mendapat sorotan regulator setelah muncul sejumlah pemberitaan negatif dan kerugian besar.

Salah satu aset yang masuk daftar Level C BoE adalah surat utang yang diterbitkan Temese Funding, perusahaan yang terkait dengan Investec. Menurut S&P Global, surat utang tersebut dijamin oleh aset berupa alat berat dan sewa kendaraan yang memiliki pembayaran besar pada tahap akhir kontrak atau dikenal sebagai balloon payments.

ECB pada Januari secara efektif mengeluarkan produk semacam itu dari kumpulan agunan yang dapat diterima, berdasarkan analisis perubahan aturan yang dilakukan firma hukum Jones Day.

BoE sendiri tidak mengungkap secara rinci aset mana dari daftar Level C yang telah digunakan sebagai agunan dalam fasilitas ILTR.

Aset lain dalam daftar tersebut mencakup surat berharga yang diterbitkan Harben Finance. Berdasarkan dokumen publik, perusahaan tersebut dikendalikan Barclays dan memiliki hak atas pembayaran dari kredit hipotek buy-to-let yang sebelumnya diterbitkan oleh Bradford & Bingley, bank Inggris yang diselamatkan pemerintah pada 2008.

Beberapa tranche utang Harben Finance bahkan telah diturunkan peringkat kreditnya dua kali oleh Fitch Ratings dan sekali oleh S&P Global dalam setahun terakhir.

Selain itu, BoE juga menerima surat utang yang dijamin oleh kartu kredit milik NewDay, perusahaan yang didukung KKR. Fitch Ratings menyebut produk kartu kredit tersebut ditujukan kepada peminjam dengan risiko lebih tinggi.

Ada pula surat utang yang diterbitkan pada 2024 oleh Small Business Origination Loan Trust. Instrumen ini mengemas dan menjual pembayaran pinjaman dari pemilik usaha yang memperoleh pembiayaan melalui platform Funding Circle.

Dalam catatan tertanggal 21 Agustus, S&P Global memperkirakan hampir seperlima pinjaman dalam kumpulan utang Funding Circle tersebut kemungkinan akan mengalami gagal bayar.

Funding Circle menolak memberikan komentar terkait hal tersebut.