PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Indonesia mendorong agenda reformasi pro-pertumbuhan atau pro-growth reforms dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting/FMCBG) di Asheville, North Carolina, Amerika Serikat (AS).
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung yang mewakili Menteri Keuangan memimpin delegasi Kementerian Keuangan dalam pertemuan yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 1 September 2026 tersebut.
Dalam forum G20 di bawah Presidensi AS itu, Juda menekankan pentingnya reformasi yang mampu mengurangi hambatan terhadap kegiatan usaha dan investasi sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi global.
“Reformasi pro-pertumbuhan perlu diarahkan untuk mengurangi hambatan terhadap kegiatan usaha dan investasi, memperkuat kerja sama internasional, serta mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi sebagai sumber pertumbuhan baru,” terang Juda dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, terdapat tiga area utama yang perlu menjadi perhatian bersama dalam mendorong reformasi pro-pertumbuhan. Ketiganya mencakup reformasi struktural dan penyederhanaan regulasi, penguatan kerja sama internasional, serta penguatan inovasi dan pemanfaatan teknologi.
Juda juga membagikan pengalaman Indonesia dalam melakukan penyederhanaan regulasi guna menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. Selain itu, Indonesia memperkuat sektor keuangan melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Di sisi lain, transformasi struktural terus didorong melalui hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi.
Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan penataan di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Penguatan tata kelola serta perampingan kelembagaan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan kinerja BUMN sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.
AI Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
Dalam forum tersebut, pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian dalam mendorong pertumbuhan dan produktivitas.
Juda menyebut perkembangan investasi dan inovasi di bidang AI dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru. Namun, pemanfaatannya perlu didukung oleh infrastruktur dasar, sumber daya manusia (SDM), serta ekosistem digital yang memadai.
Pembahasan tersebut menjadi penting di tengah kondisi perekonomian global yang masih menghadapi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, gangguan rantai pasok, tingginya tingkat utang, hingga meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
Meski ekonomi global dinilai masih menunjukkan ketahanan terhadap berbagai guncangan, prospek pertumbuhan tetap menghadapi tantangan.
Karena itu, Indonesia menilai reformasi struktural, inovasi, dan peningkatan produktivitas menjadi bagian penting untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan resilien.
G20 juga membahas penguatan peran sektor swasta dalam mendorong investasi, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan produktivitas. Untuk pertama kalinya, G20 menghadirkan dialog langsung dengan pelaku usaha dari sektor kesehatan, manufaktur, dan jasa keuangan.
Masukan dunia usaha tersebut diharapkan dapat memperkaya pembahasan mengenai berbagai faktor yang mendukung maupun menghambat investasi dan pertumbuhan.
Juda mengatakan, keterlibatan sektor swasta penting agar agenda reformasi dan pertumbuhan dapat diterjemahkan menjadi peningkatan investasi, produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.











