PRESSCORNER.ID – Pasar obligasi global kembali tertekan pada Selasa (1/9/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak setelah Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di sejumlah negara utama naik, mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi.
Yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar global, naik 3,4 basis poin (bps) menjadi 4,792%. Yield tersebut sempat menyentuh 4,798%, level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan yield tersebut menjadi yang kelima secara berturut-turut. Ini merupakan rangkaian kenaikan terpanjang sejak Maret lalu.
Tekanan juga terjadi di pasar obligasi negara lain. Yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996.
Sementara itu, yield obligasi Inggris dan negara-negara zona euro mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
“Pelemahan pasar obligasi global membuat bank sentral di seluruh dunia harus waspada,” kata Jake Dollarhide, Chief Executive Officer Longbow Asset Management.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan suku bunga secara luas. Suku bunga yang lebih tinggi juga akan meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan maupun konsumen.
“Berpotensi terjadi kenaikan suku bunga secara luas. Itu tidak baik bagi perusahaan mana pun, termasuk sektor teknologi,” ujarnya.
Harga Minyak Melonjak
Kekhawatiran inflasi semakin kuat setelah harga minyak dunia melonjak menyusul serangan udara terbaru AS terhadap target-target di Iran. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran konflik di Timur Tengah kembali meluas.
Harga minyak Brent ditutup naik US$ 4,16 atau 4,6% menjadi US$ 94,65 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 4,46 atau 5,2% menjadi US$ 90,22 per barel.
Harga penutupan Brent tersebut merupakan yang tertinggi sejak 24 Juli 2026, sedangkan WTI mencapai level tertinggi sejak 23 Juli 2026.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu.
Lonjakan harga energi turut menambah tekanan inflasi di sejumlah negara. Inflasi zona euro pada Agustus kembali berada di atas 3% akibat kenaikan biaya energi, sehingga memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) dapat menaikkan suku bunga pada September.
Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga
Pasar juga semakin memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September mendatang.
Gubernur The Fed Michael Barr pada Selasa mengatakan, jika inflasi tidak segera mereda, bank sentral AS perlu menaikkan suku bunga.
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal hawkish setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pandangan serupa mengenai prospek inflasi pada pekan lalu.
Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan September mencapai 66,2%. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 39,6% pada sepekan sebelumnya.
Data tenaga kerja dan inflasi AS yang akan dirilis sebelum pertemuan The Fed kini menjadi perhatian utama investor.
Laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat diperkirakan menunjukkan penambahan 56.000 lapangan kerja pada Agustus.
Saham dan Emas Tertekan
Tekanan di pasar obligasi dan kenaikan harga minyak turut membebani pasar saham global.
Dow Jones Industrial Average turun 419,02 poin atau 0,8% menjadi 52.766,88. Indeks S&P 500 melemah 54,67 poin atau 0,7% menjadi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite turun 271,11 poin atau 1% menjadi 26.099,77.
Indeks MSCI yang mengukur kinerja saham global turun 6,49 poin atau 0,56% menjadi 1.142,73. Sementara indeks STOXX 600 Eropa turun 0,56%.
Penguatan yield obligasi AS juga menopang dolar AS. Indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,27% menjadi 99,68.
Euro melemah 0,23% menjadi US$ 1,1589, sedangkan yen Jepang turun 0,3% menjadi 160,19 per dolar AS.
Di sisi lain, harga emas justru tertekan oleh kenaikan yield obligasi AS dan penguatan dolar. Harga emas spot turun 2,69% menjadi US$ 4.328,60 per ons troi, sekaligus mencapai level terendah dalam dua pekan.











