BeritaInternasional

China Perkuat Kendali di Sekitar Taiwan, Taipei Waspadai Ancaman Blokade

Avatar photo
7
×

China Perkuat Kendali di Sekitar Taiwan, Taipei Waspadai Ancaman Blokade

Sebarkan artikel ini
China Perkuat Kendali di Sekitar Taiwan, Taipei Waspadai Ancaman Blokade


PRESSCORNER.ID – Taiwan menilai China semakin memperketat kendali di wilayah udara dan laut di sekitar pulau tersebut.

Taipei juga memperingatkan bahwa arah kebijakan Beijing semakin sulit diprediksi di tengah pembersihan besar-besaran terhadap jajaran petinggi militer China.

Pernyataan tersebut termuat dalam laporan tahunan Kementerian Pertahanan Taiwan mengenai ancaman militer China. Salinan laporan tersebut ditinjau oleh Reuters pada Senin (31/8/2026).

Kementerian Pertahanan Taiwan menyebut situasi keamanan di kawasan “terus meningkat” dan terdapat “ketidakpastian yang semakin besar” dalam pengambilan keputusan China.

Menurut Taiwan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh pembersihan terhadap sejumlah pejabat senior militer China dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

China menganggap, Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau tersebut berada di bawah kendalinya.

Militer China juga hampir setiap hari mengerahkan pesawat dan kapal ke wilayah udara serta perairan di sekitar Taiwan.

Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan Beijing dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) memasok senjata kepada Taiwan, meskipun Washington tetap mempertahankan kebijakan ambiguitas strategis mengenai apakah AS akan turun tangan secara militer untuk membela Taiwan jika terjadi konflik.

Kementerian Pertahanan China belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

China Pelajari Perang Ukraina dan Iran

Dalam laporan tersebut, Taiwan juga mengatakan China tengah mempelajari pengalaman dari perang di Ukraina dan kawasan Teluk untuk meningkatkan pelatihan serta latihan militernya.

Salah satu pelajaran yang menjadi perhatian Beijing adalah efektivitas penggunaan kawanan drone murah dalam perang Rusia-Ukraina.

China juga disebut mempelajari berbagai persoalan yang dihadapi AS dalam perang melawan Iran.

“Konflik AS-Israel-Iran menyoroti sejumlah persoalan seperti konsumsi amunisi yang cepat, tekanan terhadap sistem intersepsi pertahanan udara, mobilisasi industri, serta rapuhnya kerja sama antarnegara sekutu,” demikian isi laporan tersebut.

Presiden AS Donald Trump melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel sekitar enam bulan lalu dengan target awal memenangkan konflik dalam hitungan pekan.

Namun, Iran kemudian menyerang sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah. Kondisi tersebut memaksa Washington menggunakan amunisi pertahanan udara yang mahal. Pemerintahan Trump menyatakan persediaan amunisi tersebut masih mencukupi.

China Perkuat Kendali di Sekitar Taiwan

Terkait ancaman langsung terhadap Taiwan, laporan tersebut menyebut latihan militer China di sekitar Taiwan dalam beberapa tahun terakhir semakin berfokus pada kemampuan melakukan “blokade dan pengendalian bersama” terhadap jalur laut eksternal Taiwan.

Taiwan menilai China saat ini masih belum memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan amfibi secara penuh terhadap pulau tersebut.

Namun, dalam berbagai latihan, China mengerahkan pesawat dan kapal militer serta kapal penjaga pantai untuk menciptakan kondisi yang mendukung kemungkinan invasi.

Menurut Taiwan, langkah tersebut ditujukan untuk memutus jalur transportasi eksternal Taiwan sekaligus membentuk posisi pengepungan terhadap pulau tersebut.

Melalui patroli kesiapan tempur secara rutin, misi di wilayah laut yang jauh, serta berbagai latihan militer lainnya, China disebut terus memperkuat kendalinya atas wilayah laut dan udara di sekitar Selat Taiwan.

“Tujuannya adalah menghancurkan kemampuan komando dan kendali serta kapasitas pertahanan udara kami pada tahap awal pertempuran,” kata Kementerian Pertahanan Taiwan dalam laporan tersebut.

Taipei menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun China belum memiliki kemampuan penuh untuk melakukan invasi amfibi, Beijing terus meningkatkan kemampuan militernya untuk mengisolasi Taiwan dan melemahkan kemampuan pertahanan pulau tersebut sejak tahap awal konflik.