BeritaInternasional

Pidato Jackson Hole, Kevin Warsh Beri Sinyal Hawkish soal Suku Bunga

Avatar photo
6
×

Pidato Jackson Hole, Kevin Warsh Beri Sinyal Hawkish soal Suku Bunga

Sebarkan artikel ini
Pidato Jackson Hole, Kevin Warsh Beri Sinyal Hawkish soal Suku Bunga


PRESSCORNER.ID – Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi yang berada di atas target terus bertahan.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal paling jelas Warsh bahwa kenaikan suku bunga dapat diperlukan untuk meredam tekanan harga, setelah sebelumnya ia belum secara tegas mengisyaratkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter.

“Dengan standar saya, kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju tujuan kita, yaitu 2%, secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Itulah tugas dan mandat kita,” ujar Warsh dalam pidato yang disiapkan untuk simposium ekonomi The Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat (28/8/2026).

Warsh menegaskan bahwa suku bunga jangka pendek masih menjadi instrumen utama The Fed dalam menjalankan mandat gandanya, yakni menjaga stabilitas harga dan mendukung lapangan kerja.

Ia juga menilai kondisi keuangan saat ini belum menunjukkan tingkat pembatasan kebijakan moneter yang cukup kuat.

Inflasi AS Dinilai Belum Membaik Signifikan

Dalam pidatonya, Warsh mengatakan kemajuan inflasi dalam dua tahun terakhir masih terbatas.

Berdasarkan indikator inflasi pilihan The Fed, Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, inflasi tercatat sebesar 3,7% secara tahunan pada Juli 2026, masih jauh di atas target 2%.

“Perkembangan dalam dua tahun terakhir masih cukup moderat,” kata Warsh.

Menurut dia, data terbaru juga belum menunjukkan adanya perbaikan yang berarti pada tren inflasi yang mendasari.

Sekitar separuh komponen dalam keranjang barang dan jasa PCE masih mengalami kenaikan harga lebih dari 3% secara tahunan.

Proporsi tersebut memang lebih rendah dibandingkan periode lonjakan inflasi akibat pandemi Covid-19, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum pandemi.

Warsh tidak memberikan waktu spesifik mengenai kapan kenaikan suku bunga dapat dilakukan. Ia juga menegaskan bahwa pernyataannya bukan merupakan forward guidance atau petunjuk kebijakan ke depan yang secara spesifik dapat dijadikan acuan investor.

Namun, pernyataan tersebut menjadi penjelasan paling detail Warsh sejauh ini mengenai posisi The Fed dalam upaya mengembalikan inflasi ke target 2%.

Ekspektasi Inflasi Harus Dijaga

Warsh mengatakan, ekspektasi inflasi saat ini masih berada dalam kondisi terkendali. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga agar ekspektasi tersebut tidak terlepas dari target bank sentral.

“The Fed memiliki tugas untuk memastikan ekspektasi inflasi tidak menjadi tidak terkendali,” ujarnya.

Ia juga menilai perekonomian AS masih menunjukkan ketahanan. Dengan tingkat suku bunga pasar saat ini dan suku bunga kebijakan The Fed yang tidak berubah sejak Desember, pasar kredit dan pinjaman hanya menunjukkan sedikit tanda-tanda adanya pembatasan dari kebijakan moneter.

Kondisi tersebut berpotensi menjadi dasar bagi argumen untuk menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi terus bertahan.

Pasar Perkirakan Suku Bunga Naik

Rapat kebijakan The Fed berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September 2026.

Sebelum pidato Warsh, pasar keuangan memperkirakan peluang sekitar sepertiga bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September.

Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada atau sebelum rapat Desember diperkirakan telah mencapai lebih dari 90%, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Pada rapat Juli, terdapat dorongan untuk memperketat kebijakan moneter. Tiga pejabat The Fed bahkan menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan mempertahankan suku bunga.

Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,50%–3,75% dan telah bertahan sejak Desember.

Pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pada awal September, termasuk data pengangguran, pertumbuhan lapangan kerja, dan inflasi konsumen AS untuk Agustus.

Data tersebut berpotensi menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga pada pertemuan September.