PRESSCORNER.ID – Imbal hasil (yield) US Treasury naik setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan, bank sentral AS masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan jika pembuat kebijakan belum yakin inflasi bergerak kembali menuju target 2%.
Pernyataan tersebut memicu kenaikan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Komentar Warsh disampaikan dalam simposium tahunan The Fed di Jackson Hole.
Ia mengakui bahwa kondisi keuangan saat ini belum menunjukkan tanda-tanda cukup ketat dan memberikan indikasi paling jelas sejauh ini bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut mungkin diperlukan untuk meredam inflasi.
“Pasar menanggapi pernyataan tersebut dengan cukup hawkish. Kami melihat pasar mulai memperhitungkan lebih banyak kenaikan suku bunga,” ujar Molly Brooks, US rates strategist di TD Securities dilansir dari Reuters.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15–16 September mencapai 57%, naik dari sekitar 35% sebelum komentar Warsh.
Melansir Reuters, imbal hasil US Treasury tenor dua tahun, yang biasanya sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, naik 7,42 basis poin menjadi 4,304%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 31 Juli.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun naik 1,81 basis poin menjadi 4,692%.
Selisih imbal hasil antara US Treasury tenor dua tahun dan 10 tahun juga menyempit menjadi 37 basis poin, level paling rendah sejak 29 Juli.
Data Ekonomi Jadi Penentu
Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada September kini diperkirakan sangat bergantung pada data ketenagakerjaan dan inflasi konsumen AS untuk Agustus. Kedua data tersebut akan dirilis sebelum pertemuan The Fed.
“Ini membuat perhatian beralih pada data yang akan keluar. Jika kita mendapatkan sinyal pasar tenaga kerja yang stabil atau lebih kuat pekan depan, kemudian data inflasi yang lebih tinggi pada pekan berikutnya, hal itu akan menjadi sinyal bahwa Warsh mungkin juga siap untuk bertindak,” kata Brooks.
Di sisi lain, data yang dirilis Jumat menunjukkan perekonomian AS kemungkinan menciptakan 79.000 pekerjaan lebih sedikit dalam 12 bulan hingga Maret dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Perkembangan pasar tenaga kerja tersebut menjadi salah satu faktor yang akan dicermati investor untuk menilai arah kebijakan moneter The Fed dalam beberapa bulan ke depan.











