PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melihat investasi mulai menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia, seiring mulai terealisasinya sejumlah proyek strategis pemerintah.
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan, perbaikan investasi menjadi salah satu hal yang membedakan kinerja ekonomi pada kuartal II 2026. Hal tersebut terlihat baik dari investasi bangunan maupun non bangunan.
Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 mencapai 5,29%, dengan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi mencapai 6,87%.
“Yang berbeda dalam PDB di kuartal kedua ini adalah membaiknya investasi, khususnya dari kedua sisi baik bangunan maupun non-bangunan,” ujar Aida dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, perbaikan investasi terutama didorong mulai terealisasinya berbagai proyek strategis pemerintah.
Sejumlah proyek di kawasan industri (KI), kawasan ekonomi khusus (KEK), maupun proyek strategis lainnya mulai memasuki tahap groundbreaking.
Aida menilai realisasi proyek-proyek tersebut mulai memberikan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.
Selain investasi, belanja pemerintah juga turut memberikan momentum positif terhadap perekonomian pada kuartal II 2026.
Ia menyebut pengeluaran pemerintah, mulai dari belanja pegawai, pembelian barang dan jasa, hingga pembayaran gaji ke-13, turut menopang aktivitas ekonomi. “Ini semua membawa momentum yang positif untuk kuartal kedua 2026,” ujar Aida.
Dengan perkembangan tersebut, BI masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9%-5,7% pada 2026. Aida mengatakan, posisi pertumbuhan saat ini bahkan mulai bergerak menuju titik tengah hingga batas atas proyeksi tersebut.
“Jadi mudah-mudahan ini akan terjadi,” katanya.
Lebih lanjut, Aida menyebut peningkatan impor juga tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan ekonomi. Pasalnya, selain kenaikan impor migas akibat peningkatan harga komoditas, terdapat impor nonmigas yang ditujukan untuk kebutuhan investasi.
“Jadi ini semua mudah-mudahan akan terus membawa momentum positif kepada perekonomian domestik kita,” ujarnya.
Di sisi lain, BI menilai stabilitas makroekonomi tetap terjaga. Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$ 145,3 miliar dan dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas eksternal.
Namun, Aida menekankan perlunya penguatan neraca perdagangan agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Di tengah kondisi tersebut, BI akan terus menyeimbangkan kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan moneter akan tetap diarahkan untuk menjaga nilai tukar dan inflasi, sementara dukungan terhadap pertumbuhan dilakukan melalui instrumen lainnya.
Aida menyebut pertumbuhan uang primer (M0) tetap akan dijaga dalam level dua digit. Pada Juli 2026, M0 tercatat tumbuh 18,3%.
“Dari sisi makroprudensial, sistem pembayaran maupun kebijakan pendukung lainnya ini semuanya akan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Menurut Aida, apabila stabilitas nilai tukar dan inflasi terus terjaga, ruang BI untuk memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan semakin besar.
“Kalau ini terjaga maka Bank Indonesia akan punya ruang yang lebih baik lagi untuk mendorong atau mendukung pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.









