BeritaInternasional

Tarif 50% AS Berlaku Pekan Ini, Kanada Hadapi Risiko PHK dan Gangguan Perdagangan

Avatar photo
8
×

Tarif 50% AS Berlaku Pekan Ini, Kanada Hadapi Risiko PHK dan Gangguan Perdagangan

Sebarkan artikel ini
Tarif 50% AS Berlaku Pekan Ini, Kanada Hadapi Risiko PHK dan Gangguan Perdagangan


PRESSCORNER.ID – OTTAWA. Kanada bersiap menghadapi babak baru sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) setelah tarif hingga 50% terhadap sejumlah produk Kanada dijadwalkan mulai berlaku pada pekan ini.

Kebijakan tersebut dikhawatirkan menekan industri yang sudah mengalami kesulitan sekaligus meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Presiden AS Donald Trump pada bulan lalu menggunakan Section 338 dari Tariff Act of 1930 untuk memberlakukan bea masuk terhadap berbagai produk impor dari Kanada mulai Rabu (19/8/2026). Produk yang terdampak antara lain anggur, furnitur, produk susu, semen, pakaian, alat pancing, perlengkapan hoki, dan sejumlah barang lainnya.

Ketentuan tersebut memberikan kewenangan kepada presiden AS untuk mengenakan tarif hingga 50% terhadap mitra dagang yang dinilai melakukan diskriminasi terhadap barang-barang AS.

Langkah Trump menjadi bagian dari pendekatan perdagangan yang lebih keras terhadap Kanada sejak dirinya kembali menjabat sebagai presiden AS tahun lalu. Kanada sendiri merupakan mitra dagang terbesar kedua AS setelah Meksiko.

Berdasarkan data Biro Sensus AS, tarif baru tersebut akan mencakup hampir US$20 miliar barang Kanada. Nilainya setara sekitar 5,2% dari total impor barang AS dari Kanada yang mencapai US$383 miliar pada 2025.

Negosiasi Perdagangan AS-Kanada Berlanjut

Menjelang batas waktu pemberlakuan tarif, Menteri Kanada yang bertanggung jawab atas hubungan perdagangan dengan AS, Dominic LeBlanc, bersama kepala negosiator perdagangan Janice Charette, meningkatkan intensitas pembicaraan dengan pemerintah AS.

Kanada dan AS masih jauh dari mencapai rancangan kesepakatan perdagangan meskipun pertemuan antara kedua negara berlangsung secara rutin. Hal tersebut disampaikan LeBlanc dalam sebuah komite penasihat pada Jumat, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

LeBlanc dan Charette bahkan tetap berada di Washington sepanjang akhir pekan untuk melanjutkan perundingan.

Berbeda dengan sebagian tarif yang sebelumnya diberlakukan Trump, tarif terbaru ini juga akan dikenakan terhadap produk yang memenuhi syarat untuk memperoleh perlakuan preferensial berdasarkan United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA).

USMCA selama ini melindungi sebagian besar perdagangan Kanada dari tarif AS. Dengan demikian, penerapan tarif baru tersebut menambah risiko terhadap perekonomian Kanada.

Pada bulan lalu, Trump juga menolak memperpanjang USMCA selama 16 tahun. Sebagai gantinya, perjanjian tersebut akan menjalani tinjauan tahunan. Kondisi ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian perdagangan yang selama ini telah menekan investasi dan pertumbuhan lapangan kerja di Kanada.

Industri Kanada Terancam Tertekan

Sejumlah sektor diperkirakan menjadi pihak yang paling terdampak apabila tarif 50% benar-benar diberlakukan. Industri produk kayu Kanada dan sektor anggur menjadi dua bidang yang dinilai rentan, terutama karena sebelumnya telah terdampak kebakaran hutan besar di wilayah barat Kanada.

Alain Ouzilleau, pemilik Cabico Ltd, produsen kabinet dapur pesanan di Kanada, mengatakan tarif tersebut dapat memberikan dampak serius terhadap industri.

“Tarif 50% jelas bukan sesuatu yang dapat ditanggung oleh produsen, dan kami juga tidak dapat secara wajar mengharapkan pelanggan AS untuk menanggungnya. … Hal ini dapat membuat produk-produk tertentu buatan Kanada menjadi tidak kompetitif secara ekonomi di pasar AS hampir dalam semalam,” kata Ouzilleau.

Pelaku usaha kecil dan menengah dinilai menjadi kelompok yang sangat rentan karena banyak di antaranya bergantung pada akses bebas tarif terhadap konsumen di AS.

“Jika tarif tersebut mulai berlaku … kebijakan itu akan menyebabkan dislokasi besar-besaran bagi usaha kecil yang bergantung pada klien AS dan pembeli Amerika yang bergantung pada pemasok Kanada,” kata Dan Kelly, Presiden Canadian Federation of Independent Business.

Dampak Makroekonomi Dinilai Terbatas

Meski demikian, Joseph Steinberg, profesor ekonomi di University of Toronto, menilai Kanada masih menjadi salah satu negara dengan tingkat tarif terendah untuk mengekspor barang ke AS.

Menurut dia, kekhawatiran yang lebih besar bukan semata-mata dampak ekonomi langsung dari tarif tersebut, melainkan kemungkinan eskalasi baru dalam perselisihan dagang AS-Kanada yang dapat menghambat pembahasan mengenai masa depan USMCA.

“Dalam konteks makroekonomi, tarif tersebut sebenarnya bukan masalah yang terlalu besar,” ujar Steinberg.

LeBlanc telah bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer sebanyak lima kali dalam empat pekan, termasuk melalui pertemuan virtual pada Minggu. Kedua negara berupaya mencapai kesepakatan sebelum tenggat pemberlakuan tarif pada Rabu.

Dalam perundingan tersebut, Greer menekan Kanada terkait sistem produk susu serta pencabutan produk alkohol AS dari sejumlah toko di beberapa provinsi Kanada. Para pakar perdagangan memperkirakan kedua persoalan tersebut akan menjadi bagian penting dari setiap kesepakatan perdagangan baru.

Ted McKinney, CEO National Association of State Departments of Agriculture AS, menyebut sektor susu sebagai isu pertanian yang paling sulit diselesaikan.

“Ini lebih dari sekadar hambatan dalam perundingan. Ini mungkin merupakan isu utama,” kata McKinney.

Section 338 dan Sejarah Tarif AS

Section 338 dari Tariff Act of 1930 dikenal sebagai salah satu dasar hukum yang pernah digunakan AS untuk menaikkan tarif secara besar-besaran.

Kebijakan tarif tersebut kemudian diikuti tindakan pembalasan dari negara-negara mitra dagang. Para sejarawan ekonomi menilai rangkaian kenaikan tarif dan retaliasi tersebut turut memperburuk kondisi ekonomi selama Great Depression pada dekade 1930-an.

Penggunaan kembali kewenangan tersebut oleh pemerintahan Trump terhadap Kanada menjadi perhatian karena berpotensi membuka babak baru ketidakpastian perdagangan di Amerika Utara, terutama ketika kedua negara masih berupaya menentukan masa depan USMCA.