PRESSCORNER.ID – Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran untuk pertama kali turun tajam pada pekan lalu.
Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih tetap kuat dan memberi ruang bagi bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk tetap memfokuskan kebijakannya pada pengendalian inflasi.
Mengutip Reuters, Kamis (23/7/2026), Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 22.000 menjadi 187.000 yang telah disesuaikan secara musiman pada pekan yang berakhir 18 Juli.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi ekonom yang disurvei Reuters, yakni 212.000 klaim baru.
Data ini mencakup periode survei untuk laporan ketenagakerjaan AS bulan Juli yang akan dirilis sekitar dua pekan lagi. Hasil tersebut menjadi sinyal terbaru bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.
Sementara itu, jumlah penerima tunjangan pengangguran yang masih menerima manfaat lebih dari satu pekan, yang sering digunakan sebagai indikator tingkat perekrutan tenaga kerja, turun menjadi 1,796 juta orang pada pekan yang berakhir 11 Juli.
Sebelumnya, tingkat pengangguran AS secara tak terduga turun menjadi 4,2% pada Juni, level terendah dalam satu tahun.
Namun, penurunan itu lebih banyak dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah angkatan kerja dibandingkan lonjakan perekrutan tenaga kerja baru.
Selama beberapa waktu terakhir, pasar tenaga kerja AS ditandai oleh pasokan tenaga kerja yang terbatas, pertumbuhan lapangan kerja yang moderat, serta minimnya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kombinasi faktor tersebut membuat tingkat pengangguran tetap bertahan di level yang rendah secara historis.
Kondisi tersebut juga mendorong semakin banyak pejabat The Fed menilai bahwa risiko inflasi yang masih berada di atas target 2% menjadi perhatian yang lebih besar dibandingkan risiko pelemahan pasar tenaga kerja.
The Fed dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pekan depan. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Meski demikian, pasar kontrak berjangka masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebelum akhir 2026.











