PRESSCORNER.ID – BEIJING. Pemerintah China kembali memperketat pengamanan pasokan energi domestik seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Beijing meminta sejumlah kilang minyak utama mempertahankan bahkan meningkatkan produksi bahan bakar guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Mengutip Bloomberg (12/7), kebijakan itu diambil setelah serangan terbaru di kawasan Teluk Persia kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak dunia. Di saat yang sama, keputusan Amerika Serikat mencabut pengecualian (waiver) yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran dinilai berpotensi menggagalkan kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran.
Menurut sumber yang mengetahui kebijakan tersebut, Beijing khawatir eskalasi konflik dapat kembali mengganggu pasokan minyak mentah maupun bahan bakar. Karena itu, sedikitnya dua kilang minyak besar diminta menjaga tingkat operasinya tetap tinggi untuk memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi.
Langkah ini mengingatkan pada kebijakan China pada awal konflik Iran, ketika pemerintah sempat membatasi ekspor bensin, solar, dan bahan bakar jet demi mengamankan pasokan domestik. Aturan tersebut kemudian dilonggarkan, termasuk melalui penerbitan tambahan kuota ekspor pada awal bulan ini.
Meski demikian, pemerintah China tidak mengubah kuota ekspor produk minyak untuk Juli. Sejak lama, Beijing memang mengendalikan ekspor bahan bakar melalui sistem kuota sehingga volume pengiriman ke pasar internasional tetap berada di bawah pengawasan pemerintah.
Kebijakan mempertahankan produksi tinggi diambil di tengah kondisi yang kurang ideal bagi industri pengilangan. Persediaan bensin dan solar di China masih relatif tinggi, sementara permintaan terhadap kedua jenis bahan bakar tersebut terus melemah akibat perlambatan konsumsi secara struktural.
Di sisi lain, peningkatan produksi berisiko menekan keuntungan kilang di kawasan Asia. Pasalnya, pasokan yang bertambah dapat memperlebar kelebihan suplai, sehingga margin pengolahan minyak semakin tergerus. Selisih harga bensin Asia terhadap minyak mentah Dubai bahkan telah turun ke level terendah sejak akhir Maret.
Hingga berita ini ditulis, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang diajukan Bloomberg di luar jam kerja.











