Presscorner.id — Nama Prof. Taruna Ikrar, Ph.D., terus menjadi perbincangan hangat. Putra asli Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan ini kini menduduki salah satu kursi paling krusial di pemerintahan, yakni sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Dilantik sejak 19 Agustus 2024 oleh Presiden Joko Widodo, Taruna membawa rekam jejak panjang di dunia akademik dan riset neurosains internasional ke dalam sistem regulasi kesehatan nasional. Kini, memasuki tahun kedua kepemimpinannya di 2026, publik terus menyoroti bagaimana kombinasi prestasi global, ketegasan visi, dan dinamika kontroversi masa lalunya membentuk wajah baru BPOM RI.
Akar dari Selayar dan Mimpi Global
Lahir dari keluarga pendidik di Kepulauan Selayar, Taruna tumbuh dengan nilai disiplin dan semangat belajar yang tinggi. Langkah awalnya di dunia medis dimulai di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, sebelum akhirnya mendalami Magister Biomedik di Universitas Indonesia (UI).
Dorongannya terhadap dunia riset membawa Taruna terbang ke Jepang untuk merengkuh gelar Ph.D. di Niigata University. Tak puas sampai di sana, ia menjejakkan kaki di Amerika Serikat sebagai peneliti postdoctoral di University of California, Irvine. Di sinilah namanya mulai diakui dunia internasional.
Penemu Paten Pemetaan Otak
Di jagat neurosains global, Taruna Ikrar bukanlah nama asing. Penelitiannya yang berfokus pada penyakit neurodegeneratif telah menembus jurnal-jurnal ilmiah paling bergengsi di dunia, termasuk Nature dan Neuron.
Bahkan, sejak tahun 2009, ia tercatat memegang paten penting dalam metode pemetaan otak manusia. Keberhasilannya meraih pendanaan riset dari lembaga super-ketat seperti US National Institutes of Health (NIH) menjadi bukti sahih bahwa kapasitas keilmuannya diakui oleh komunitas sains dunia.
Selain sibuk di laboratorium, Taruna juga dikenal piawai berorganisasi. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Medis Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Direktur International Association of Medical Regulatory Authorities (IAMRA), hingga Wakil Presiden Organisasi Perdamaian Dunia (World Peace Organization).
Dinamika Kontroversi Akademik
Kendati memiliki deretan prestasi mentereng, perjalanan karier Taruna tak sepi dari riak. Pada Agustus 2023, dunia akademik tanah air sempat dihebohkan oleh langkah Kemendikbudristek yang mencabut gelar profesornya akibat permasalahan administratif terkait penyetaraan jabatan akademik.
Sikap legawa diperlihatkan Taruna dalam menghadapi badai tersebut. Ia memilih tetap produktif dan terus mendedikasikan ilmunya sebagai guru besar di Universitas Malahayati dan Kalbis Institute. Dinamika ini justru memperlihatkan sisi ketahanan mental seorang ilmuwan yang tidak berhenti berkarya meski diterpa badai birokrasi.
Gebrakan Nyata di Kursi BPOM
Kini, di tahun 2026, Taruna Ikrar dihadapkan pada realitas lapangan yang menantang sebagai Kepala BPOM RI. Dari pengawasan obat-obatan ilegal, maraknya kosmetik palsu (skincare abal-abal), hingga peredaran obat keras beretiket biru yang dijual bebas di berbagai marketplace online.
Memanfaatkan latar belakangnya sebagai peneliti, Taruna membawa pendekatan baru yang lebih progresif dan berbasis digital di BPOM. Ia gencar menyapu bersih ekosistem digital dari produk kecantikan berbahaya, sekaligus memangkas birokrasi izin edar bagi inovasi produk herbal dan fitofarmaka lokal agar obat-obatan asli Indonesia mampu bersaing di pasar global.
Penutup
Perjalanan hidup Taruna Ikrar adalah sebuah romansa tentang tekad, sains, dan keteguhan di tengah kontroversi. Dari sebuah pulau di Sulawesi Selatan hingga menembus laboratorium modern Amerika Serikat, ia kini berdiri di garis depan sebagai benteng pelindung kesehatan masyarakat Indonesia.
Publik kini menanti, apakah kepemimpinan berbasis riset yang diterapkannya mampu membawa BPOM RI menjadi lembaga regulasi obat dan makanan yang paling adaptif dan disegani di Asia Tenggara.(*)











