PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Di tengah melemahnya sejumlah indikator ekonomi, mulai dari nilai tukar, PMI manufaktur, defisit neraca dagang, hingga menurunnya optimisme masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional, pemerintah masih menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap aman dan berpotensi bangkit pada kuartal III dan kuartal IV 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kondisi tersebut masih dalam batas yang wajar dan memperkirakan akan membaik pada paruh kedua tahun ini.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026. Penurunan ini menjadi yang ketiga secara berturut-turut sekaligus mencatat level terendah sejak September 2025.
Selain itu, aktivitas manufaktur juga kembali tertekan. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 atau kembali berada di zona kontraksi.
Di sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia juga melemah. Neraca perdagangan mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada Juni 2026, menjadi defisit bulanan pertama sejak 2020.
Sementara itu, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Di pasar keuangan, rupiah juga masih berada di level Rp 18.090 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (10/7/2026).
Meski demikian, Airlangga menilai pelemahan IKK belum mengindikasikan penurunan kepercayaan masyarakat yang signifikan.
“IKK di atas 100 masih aman, kemarin kan ada Lebaran, habis Lebaran pasti turun dikit,” ujar Airlangga saat ditemui di kantornya, Jumat (10/7/2026).
Ia juga optimistis sejumlah indikator ekonomi akan kembali membaik pada semester II-2026, terutama memasuki kuartal III dan kuartal IV.
“Nanti kita lihat menjelang kuartal ke-III, kuartal ke-IV akan naik lagi (ekspor dan PMI manufaktur),” kata Airlangga.
Airlangga meyakini perbaikan aktivitas ekonomi pada paruh kedua tahun ini akan menopang kembali kinerja ekspor, industri manufaktur, serta menjaga optimisme pelaku usaha dan konsumen.











