Gaya Hidup

Mesir Protes VAR usai Disingkirkan Argentina dalam Drama 5 Gol Piala Dunia

Avatar photo
3
×

Mesir Protes VAR usai Disingkirkan Argentina dalam Drama 5 Gol Piala Dunia

Sebarkan artikel ini
Mesir Protes VAR usai Disingkirkan Argentina dalam Drama 5 Gol Piala Dunia


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Tim nasional Mesir harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia dengan rasa kecewa setelah kalah dramatis 2-3 dari Argentina pada babak 16 besar, Selasa (7/7/2026) waktu setempat.

Meski tampil impresif sepanjang turnamen, Mesir menilai sejumlah keputusan wasit, terutama yang melibatkan Video Assistant Referee (VAR), turut memengaruhi hasil pertandingan.

Pelatih Mesir Hossam Hassan bahkan melontarkan tudingan adanya ketidakadilan dalam kepemimpinan wasit usai timnya gagal mempertahankan keunggulan dua gol dan akhirnya tersingkir.


Salah satu momen yang menjadi sorotan terjadi pada menit ke-62 ketika gol Mostafa Zico dianulir setelah tinjauan VAR. Wasit menilai terjadi pelanggaran oleh Marwan Attia terhadap bek Argentina, Lisandro Martinez, dalam proses terciptanya gol tersebut.


Padahal, lima menit kemudian Zico kembali mencetak gol melalui skema serupa dan kali ini dinyatakan sah.


Dalam tayangan ulang terlihat Attia memang sempat menarik jersey Martinez. Bek Argentina itu juga tampak terinjak kakinya. Namun, kubu Mesir mempertanyakan konsistensi keputusan wasit karena sepanjang Piala Dunia banyak kontak fisik serupa yang justru dibiarkan berlangsung demi menjaga alur permainan tetap mengalir.


Mesir juga merasa dirugikan ketika klaim pelanggaran terhadap Mohamed Salah pada menit-menit akhir pertandingan tidak digubris wasit.


Meski keputusan memberikan penalti dalam situasi tersebut bisa dianggap terlalu lunak, yang paling mengecewakan bagi Mesir adalah Argentina justru mampu melancarkan serangan balik dan mencetak gol kemenangan tidak lama setelah insiden itu.


Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) pun mengeluarkan pernyataan resmi sehari setelah pertandingan.


“Beberapa insiden penting menimbulkan kekhawatiran serius dan memunculkan pertanyaan mendalam mengenai konsistensi serta keadilan dalam pengambilan keputusan yang secara langsung memengaruhi jalannya pertandingan,” demikian pernyataan EFA.

Argentina Bangkit Dramatis


Terlepas dari kontroversi tersebut, Argentina menunjukkan mental juara dengan membalikkan keadaan secara dramatis.


Saat tertinggal 0-2 dengan sekitar 11 menit waktu normal tersisa, Argentina berhasil memanfaatkan menurunnya organisasi pertahanan Mesir.


Lautaro Martinez mengirim umpan silang yang disambut sundulan akurat Enzo Fernandez ke sudut gawang untuk memastikan kemenangan 3-2 sekaligus membawa Argentina melaju ke perempat final.


Mesir dinilai terlalu dalam bertahan setelah sebelumnya mampu menjaga keseimbangan antara meredam pergerakan Lionel Messi dan tetap menciptakan peluang melalui serangan balik.


Sepanjang turnamen, pelatih Hossam Hassan dikenal menerapkan pendekatan yang lebih defensif dengan mengandalkan kecepatan Mohamed Salah dan Omar Marmoush dalam transisi menyerang.


Namun saat menghadapi Argentina, Hassan mengubah strategi. Ia mencadangkan Marmoush dan memilih pendekatan yang lebih terbuka. Para pemain belakang juga bergantian mengawal Messi, yang sempat berhasil dibatasi sebelum akhirnya Argentina menemukan ritme permainan mereka pada menit-menit akhir.


Mesir juga kehilangan salah satu pemain kuncinya ketika gelandang Emam Ashour mengalami cedera yang diduga pada bagian pangkal paha. Ia harus ditarik keluar saat jeda babak pertama, yang kemudian menjadi salah satu titik balik pertandingan.

Mesir Tetap Mencatat Sejarah


Meski harus tersingkir secara menyakitkan, perjalanan Mesir di Piala Dunia tetap dinilai sebagai pencapaian positif.


Tim berjuluk The Pharaohs berhasil meraih kemenangan pertama mereka dalam empat penampilan di putaran final Piala Dunia, lolos dari fase grup, dan menembus babak 16 besar untuk pertama kalinya.


EFA pun memberikan apresiasi kepada seluruh pemain atas perjuangan mereka sepanjang turnamen.


“Meskipun hasil pertandingan kini telah menjadi bagian dari sejarah, kebanggaan kami terhadap tim ini tidak berubah. Keberanian, komitmen, dan semangat juang yang mereka tunjukkan sepanjang turnamen telah memperoleh rasa hormat serta mencerminkan nilai-nilai sejati sepak bola Mesir,” tulis EFA dalam pernyataannya.