PRESSCORNER.ID – Mayoritas bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026), sementara harga minyak kembali menguat setelah Amerika Serikat melonggarkan sanksi terhadap Iran.
Di saat yang sama, pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) mengambil langkah yang lebih agresif untuk mengendalikan inflasi pada paruh kedua tahun ini.
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang turun 0,5%, sementara kontrak berjangka indeks S&P 500 melemah 0,2%. Di pasar komoditas, harga minyak Brent naik 0,2% ke level US$ 78,03 per barel.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,6%, meski data terbaru menunjukkan sektor manufaktur negara tersebut masih mencatat pertumbuhan kuat pada Juni dengan lonjakan pesanan baru ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Bursa Korea Selatan bergerak fluktuatif sebelum akhirnya melemah sekitar 2%. Sebaliknya, saham Taiwan menguat 0,9% dan mencetak rekor tertinggi baru.
Head of Research Pepperstone Group Chris Weston menilai, pasar saat ini sedang mengalami rotasi sektor yang cukup signifikan.
“Pasar saat ini jauh dari kata membosankan. Saham-saham yang sebelumnya menjadi pemimpin pasar mulai kehilangan momentum dan investor beralih ke sektor yang lebih defensif, kurang bergantung pada tema AI, serta memiliki arus kas yang lebih stabil,” ujarnya.
Wall Street Tertekan oleh Saham Teknologi
Pergerakan negatif di Asia mengikuti pelemahan bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya.
Indeks S&P 500 turun 0,4%, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 1,3% akibat tekanan pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar, termasuk Alphabet dan SpaceX.
Di pasar energi, harga minyak sempat ditutup turun lebih dari 3% pada sesi sebelumnya setelah kekhawatiran pasokan mereda.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan telah terjadi kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran dan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran internasional.
Dolar AS Menguat
Di pasar valuta asing, yen Jepang bergerak relatif stabil di level 161,55 yen per dolar AS, mendekati titik terlemahnya dalam hampir 40 tahun.
Kondisi tersebut mendorong Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengadakan pertemuan daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin malam guna membahas volatilitas nilai tukar yang meningkat.
Sementara itu, pound sterling diperdagangkan datar di level US$ 1,3247 setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan rencana pengunduran dirinya, membuka jalan bagi proses transisi kepemimpinan yang diperkirakan berlangsung tertib.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia berada di level 101,04, mendekati posisi tertinggi sejak Mei tahun lalu.
Pasar Ubah Ekspektasi terhadap The Fed
Fokus investor kini tertuju pada arah kebijakan moneter AS. Pelaku pasar mulai memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih agresif di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.
Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, kontrak futures suku bunga The Fed kini memperhitungkan peluang 54% untuk setidaknya dua kali kenaikan suku bunga masing-masing 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan probabilitas 15,2% yang tercatat sepekan lalu.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun tipis 0,2 basis poin menjadi 4,501%.
Sementara itu, harga emas melemah 0,2% ke level US$ 4.180,38 per ons troi.
Di pasar aset digital, bitcoin turun 0,8% ke posisi US$ 63.873,71, sedangkan ether terkoreksi 0,5% menjadi US$ 1.724,08.











