BeritaSulawesi SelatanSulsel

Peta Pangan Dunia Bergeser: RI Melesat ke Peringkat 4 Global, Nilai Tukar Petani Sentuh Rekor Tertinggi

Avatar photo
7
×

Peta Pangan Dunia Bergeser: RI Melesat ke Peringkat 4 Global, Nilai Tukar Petani Sentuh Rekor Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Peta Pangan Dunia Bergeser: RI Melesat ke Peringkat 4 Global, Nilai Tukar Petani Sentuh Rekor Tertinggi


Presscorner.id — Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) dalam rilis laporan terbarunya mendudukkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara (ASEAN). Sementara di tingkat global, Indonesia berhasil melesat ke peringkat keempat dunia, tepat di bawah India, Tiongkok, dan Bangladesh.

Merespons pencapaian tersebut, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa dari jajaran empat besar dunia tersebut, hanya Tiongkok dan Indonesia yang diproyeksikan mencetak tren pertumbuhan produksi yang konsisten positif.

“Jika membandingkan angka perkiraan produksi beras periode 2025/2026 terhadap 2024/2025, lompatan Indonesia adalah yang paling gemilang di dunia dengan deviasi peningkatan mencapai lebih dari 4 juta ton,” ujar Amran di Jakarta, baru-baru ini.

Akselerasi produksi dalam negeri ini jauh melampaui pertumbuhan produksi negara-negara agraria raksasa lainnya seperti India (1,7 juta ton), Brasil (1,5 juta ton), dan Bangladesh (1,1 juta ton).

Melimpah, Stok CBP Bulog Over-Kapasitas Hingga Sewa Gudang

Menyadur dokumen Food Outlook edisi Juni 2026 yang dirilis FAO, ketahanan stok beras di Indonesia diakui menjadi salah satu faktor jangkar yang menjaga stabilitas cadangan pangan dunia. FAO memperkirakan stok beras global pada akhir periode 2026/2027 mampu menyentuh rekor tertinggi kedua dalam dekade terakhir, yakni sebesar 213,8 juta ton.

Mentan Amran memastikan bahwa Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog per Juni 2026 berada dalam kondisi yang sangat aman dan mengunci keran impor beras medium.

“Stok CBP kita per Juni berada di angka sekitar 5,2 juta ton. Perlu dicatat, kapasitas gudang domestik Bulog itu hanya 3 juta ton. Artinya, saking melimpahnya stok hasil panen, Bulog sampai menyewa gudang tambahan berkapasitas 2,2 juta ton. Bagi pihak yang masih sangsi, silakan cek langsung seluruh gudang Bulog di Indonesia. Sejak tahun 2025 sampai hari ini, pemerintah tidak mengeluarkan izin impor beras medium,” tegas Amran.

FAO memproyeksikan closing stocks (stok akhir) beras Indonesia mampu mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026, dan diprediksi merangkak naik hingga 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Angka ini dinilai membuka lebar peluang bagi Indonesia untuk bertransformasi menjadi negara eksportir beras.

Melandainya Inflasi Beras dan Rekor Nilai Tukar Petani

Salah satu keberhasilan domestik yang disorot adalah keberhasilan meredam gejolak harga. Beras kini resmi melepas statusnya sebagai komoditas utama penyumbang inflasi dalam dua tahun terakhir berturut-turut.

Berikut dinamika pergerakan inflasi beras nasional berdasarkan data periodik:

  • Mei 2024: Mencapai titik tertinggi sebesar 3,59 persen.

  • Juli 2025: Stabil dan terkendali pada angka 1,35 persen.

  • Mei 2026: Melandai tajam hingga menyentuh 0,38 persen.

Meskipun laju inflasi ditekan hingga sangat rendah, FAO mencatat kesejahteraan petani Indonesia tidak tertekan. Harga produsen yang kompetitif justru memicu gairah sektor hulu, di mana para petani secara sukarela lebih memilih menanam padi dibanding komoditas lain. Kondisi kontras justru dialami negara kompetitor seperti Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand yang dilaporkan mengalami kontraksi produksi.

Statistik Kesejahteraan Petani Padi Indonesia (Mei 2026)

Tren progresif pada sisi hulu dan hilir ini membuktikan bahwa strategi penguatan kedaulatan pangan nasional tidak hanya berhasil mengamankan pasokan perut masyarakat perkotaan, namun sekaligus memberikan proteksi nilai ekonomi yang adil bagi para petani di pedesaan. (*)