PRESSCORNER.ID – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026) seiring meningkatnya ketidakpastian terhadap implementasi kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran.
Di saat yang sama, poundsterling melemah akibat meningkatnya ketidakpastian politik di Inggris.
Pasar kembali dibayangi kekhawatiran geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan perang di Timur Tengah.
Sementara itu, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.
Meski ketegangan meningkat, perundingan damai antara AS dan Iran masih berlanjut memasuki hari kedua di Swiss.
Pembicaraan tersebut merupakan bagian dari nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata setidaknya selama 60 hari.
Kepala Riset Pepperstone Chris Weston mengatakan, pasar tidak terlalu terkejut melihat mulai munculnya pelanggaran terhadap kesepakatan yang baru tercapai tersebut.
“Pada akhirnya, yang paling penting bagi pasar adalah kelancaran arus pengiriman kargo melalui Selat Hormuz,” ujarnya.
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz turun tajam pada Minggu (21/6) setelah Teheran mengumumkan penutupan jalur tersebut.
Kondisi itu mendorong harga minyak naik, dengan kontrak berjangka Brent menguat 1,3% ke level US$ 81,62 per barel.
Menurut Weston, pasar fisik minyak masih berada dalam kondisi ketat sehingga dapat menopang harga energi.
Namun, pergerakan pasar valuta asing dan komoditas, khususnya emas, akan sangat dipengaruhi perkembangan situasi energi global.
Poundsterling Melemah
Di Eropa, poundsterling melemah setelah pelaku pasar mencermati perkembangan politik di Inggris.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dikabarkan tengah mempertimbangkan masa depan politiknya setelah rivalnya, Andy Burnham, meraih kemenangan telak dalam pemilihan parlemen.
Poundsterling turun 0,24% ke level US$ 1,32055. Sementara euro melemah 0,1% menjadi US$ 1,1462.
Mata uang komoditas juga tertekan. Dolar Australia turun 0,19% ke US$ 0,70035, sedangkan dolar Selandia Baru berada di level US$ 0,573.
Analis Commonwealth Bank of Australia menilai pasar kini akan fokus pada pandangan Burnham terkait kebijakan fiskal, terutama kemungkinan pelonggaran aturan fiskal yang berlaku saat ini.
Menurut mereka, pelonggaran disiplin fiskal berpotensi memicu kekhawatiran di pasar obligasi Inggris dan memberikan tekanan tambahan terhadap poundsterling.
Yen Dekati Level Terlemah Sejak 1986
Sementara itu, yen Jepang kembali tertekan dan diperdagangkan di level 161,53 per dolar AS, mendekati posisi terlemah dalam hampir empat dekade.
Jika menembus level 161,96 per dolar AS, yen akan mencapai titik terlemahnya sejak 1986.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk merespons pergerakan mata uang yang berlebihan.
Namun, analis senior StoneX, Matt Simpson, menilai upaya intervensi Jepang akan menghadapi tantangan besar di tengah ekspektasi kebijakan moneter ketat dari bank sentral AS.
“Melawan arus penguatan dolar yang didukung fundamental ekonomi AS dan sikap hawkish The Fed dapat menjadi langkah yang mahal dan belum tentu efektif,” ujarnya.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS Menguat
Penguatan dolar juga didorong oleh ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik ke level 4,2276%, tertinggi sejak awal 2025.
Pelaku pasar saat ini memperkirakan total kenaikan suku bunga The Fed mencapai 43 basis poin sepanjang tahun ini. Bahkan, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September sudah sepenuhnya diperhitungkan dalam harga pasar.
Kondisi tersebut membuat dolar tetap menjadi aset pilihan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.











