Gaya Hidup

Konflik Iran-AS Memecah Dukungan Diaspora Iran untuk Timnas di Piala Dunia 2026

Avatar photo
9
×

Konflik Iran-AS Memecah Dukungan Diaspora Iran untuk Timnas di Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Konflik Iran-AS Memecah Dukungan Diaspora Iran untuk Timnas di Piala Dunia 2026


PRESSCORNER.ID – LOS ANGELES. Menjelang dimulainya kick off Tim Nasional Iran di ajang Piala Dunia pekan depan di Los Angeles, warga keturunan Iran di Amerika Serikat menghadapi dilema yang tidak sederhana.

Di tengah memanasnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, banyak diaspora Iran harus memilih antara mendukung tim nasional yang mereka cintai atau memboikotnya karena alasan politik.

Salah satunya adalah Ehsan Shafi, seorang pengusaha Iran-Amerika yang mengaku tidak sabar menyaksikan langsung Team Melli berlaga di kota tempat tinggalnya.


Bagi Shafi, kesempatan menyambut tim nasional Iran di tanah kelahirannya yang baru merupakan momen langka yang telah lama dinantikan. Namun, situasi geopolitik yang memanas membuat kebanggaan tersebut bercampur dengan kecemasan.


“Wajar jika semua pemain ingin memiliki kesempatan tampil di Piala Dunia. Apa pun yang sedang terjadi di dunia, kami sangat bersemangat melihat tim nasional kami bermain,” ujar Shafi yang berusia 46 tahun usai mengikuti pertandingan bersama Arya FC, klub amatir Iran-Amerika di kawasan Woodland Hills, Los Angeles.


Meski demikian, ia mengakui kondisi saat ini sangat rumit.


“Ini adalah situasi yang sangat kompleks. Tidak ada seorang pun yang ingin melihat negaranya dibombardir. Situasi ini benar-benar sangat rumit bagi masyarakat kami,” katanya.

Komunitas “Tehrangeles” dan Ikatan dengan Team Melli


Puluhan ribu warga keturunan Iran bermukim di Los Angeles, membentuk komunitas diaspora yang populer dijuluki “Tehrangeles”. Selama bertahun-tahun, Team Melli atau tim nasional Iran menjadi simbol pemersatu yang menghubungkan mereka dengan tanah air yang banyak mereka tinggalkan setelah Revolusi Iran 1979 akibat gejolak politik dan tindakan represif pemerintah.


Iran dijadwalkan menghadapi Selandia Baru dan Belgia di Los Angeles masing-masing pada 15 dan 21 Juni sebelum melanjutkan pertandingan melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni.


Shafi telah mengamankan tiket pertandingan dan memilih fokus menikmati kesempatan langka menyaksikan langsung tim nasional Iran berlaga di panggung sepak bola terbesar dunia.

Sebagian Fans Memilih Memboikot


Namun, tidak semua diaspora Iran memiliki pandangan serupa.


Rekan setim Shafi di Arya FC, Shawn Rezaei, justru mengambil sikap berbeda. Pria berusia 59 tahun yang meninggalkan Iran saat revolusi berlangsung mengaku akan memboikot pertandingan Iran pada Piala Dunia kali ini.


Padahal, ia merupakan penggemar berat sepak bola dan pernah menghadiri Piala Dunia di Jerman, Brasil, Rusia, hingga Qatar.


“Saya adalah penggemar sepak bola sejati. Namun kali ini, karena situasi politik yang terjadi, saya memilih memboikot,” ujar Rezaei.


Ia mengaku sempat mengajukan pembelian tiket pertandingan di Amerika Serikat, tetapi akhirnya membatalkan niat tersebut karena merasa tidak dapat memisahkan dukungannya kepada tim dengan penolakannya terhadap pemerintah Iran.


“Tim ini tidak mewakili bangsa Iran. Pada dasarnya mereka menjadi alat propaganda bagi rezim yang berkuasa,” katanya.

Kekhawatiran Keamanan dan Tekanan Politik


Perbedaan pandangan antara Shafi dan Rezaei mencerminkan perpecahan yang lebih luas di kalangan diaspora Iran di Los Angeles.


Sejumlah warga keturunan Iran yang diwawancarai memilih tidak disebutkan identitasnya karena khawatir kritik terhadap pemerintah Iran dapat membahayakan anggota keluarga mereka yang masih tinggal di tanah air. Sebagian lainnya juga mengkhawatirkan konsekuensi apabila mereka menyampaikan pandangan mengenai kebijakan Amerika Serikat.


Ada pula kekhawatiran bahwa pertandingan Iran di Piala Dunia dapat menjadi titik berkumpulnya aksi demonstrasi anti-perang maupun protes terhadap pemerintah Iran, bahkan memicu tindakan penegakan hukum imigrasi di Amerika Serikat.


Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa para pemain tim nasional Iran sering mengambil sikap yang sangat berhati-hati.

Aksi Diam Pemain Iran di Piala Dunia 2022


Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, tim nasional Iran menjadi sorotan dunia setelah para pemain memilih tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan pembuka. Tindakan tersebut secara luas dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran.


Pada pertandingan-pertandingan berikutnya, selebrasi kemenangan maupun ekspresi nasionalisme para pemain juga berlangsung dengan sangat terbatas. Sebagian pihak menilai hal itu sebagai bentuk perlawanan diam-diam, sementara yang lain menganggap langkah tersebut belum cukup berani.


Peristiwa itu sekaligus menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi para pemain, mengingat adanya laporan bahwa mereka maupun anggota keluarga mereka berpotensi menghadapi konsekuensi ketika kembali ke Iran.


“Siapa saya hingga berhak menghakimi tindakan para pemain, sementara saya sendiri tidak berani berbicara secara terbuka karena khawatir hal itu dapat membahayakan keluarga saya,” ujar seorang warga keturunan Iran yang memiliki kerabat di Teheran dan berencana menghadiri salah satu pertandingan Piala Dunia di Los Angeles.