BeritaInternasional

Delegasi Asia Pertanyakan Absennya China di Forum Pertahanan Shangri-La

Avatar photo
7
×

Delegasi Asia Pertanyakan Absennya China di Forum Pertahanan Shangri-La

Sebarkan artikel ini
Delegasi Asia Pertanyakan Absennya China di Forum Pertahanan Shangri-La


PRESSCORNER.ID – SINGAPURA. Ketidakhadiran pejabat tinggi China menjadi sorotan utama dalam gelaran Shangri-La Dialogue 2026, forum pertahanan terbesar di Asia.

Sejumlah delegasi bahkan mempertanyakan, “Di mana China?” setelah Beijing kembali tidak mengirim Menteri Pertahanan maupun pejabat senior untuk menghadiri forum tersebut.

Untuk tahun kedua berturut-turut, Menteri Pertahanan China Dong Jun absen dari pertemuan keamanan tahunan di Singapura.

Padahal, forum ini selama ini menjadi panggung penting bagi Beijing untuk memaparkan strategi pertahanan dan pandangannya terhadap berbagai isu keamanan global.

Alih-alih mengirim pejabat tinggi, China hanya menugaskan delegasi yang terdiri dari para akademisi dan pakar militer dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).

Kehadiran delegasi dengan profil lebih rendah itu dinilai sebagai penurunan signifikan dibandingkan partisipasi China pada tahun-tahun sebelumnya.

Absennya Dong Jun juga membuat peluang pertemuan langsung dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth, serta para menteri pertahanan dari Australia, Jepang, Inggris, Prancis, dan negara lainnya, tidak terwujud.

“Saya berharap mitra saya hadir dalam konferensi ini. Saya menantikan kesempatan lain untuk bertemu dan berkomunikasi secara langsung,” kata Hegseth dalam pidato utamanya, Sabtu (30/5/2026).

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles juga menilai ketidakhadiran China sebagai peluang yang hilang untuk membahas berbagai titik panas kawasan secara terbuka dan tatap muka.

Meski demikian, Dong Jun sebenarnya sempat bertemu Hegseth saat kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China awal bulan ini.

Anggota delegasi China sekaligus kolonel senior PLA yang telah pensiun, Zhou Bo, berupaya meredam spekulasi terkait absennya sang menteri. Menurutnya, ini bukan pertama kalinya Menteri Pertahanan China tidak menghadiri Shangri-La Dialogue.

“Memang benar level delegasi kali ini relatif lebih rendah,” ujarnya.

Namun sejumlah analis melihat keputusan Beijing sebagai langkah yang disengaja untuk menghindari pertanyaan sensitif terkait meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan maupun dampak pembersihan kasus korupsi di tubuh militer China terhadap kesiapan tempur pasukannya.

“Saya merasa mereka sedang berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan sulit,” kata ilmuwan politik dari National University of Singapore, Chong Ja Ian.

Menurut Chong, dominasi akademisi dalam delegasi China juga menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana mereka memiliki otoritas untuk mewakili dan menjelaskan kebijakan resmi pemerintah.

Sejumlah diplomat juga menilai Beijing kemungkinan ingin menghindari terulangnya situasi tahun lalu ketika Hegseth secara terbuka menyebut China sebagai ancaman bagi kawasan Indo-Pasifik dan mendorong negara-negara Asia meningkatkan belanja pertahanan.

Pernyataan tersebut saat itu memicu respons keras dari Beijing yang menuduh Washington mendiskreditkan China.

Menariknya, nada pidato Hegseth tahun ini jauh lebih moderat. Ia tetap menegaskan tidak ada negara, termasuk China, yang boleh mendominasi kawasan atau mengancam keamanan negara lain, tetapi juga menyebut hubungan AS-China saat ini berada dalam kondisi yang lebih baik dibanding beberapa tahun terakhir.

China sendiri merupakan peserta penting dalam Shangri-La Dialogue sejak 2007 dan rutin mengirim Menteri Pertahanan dalam berbagai edisi forum tersebut.

Karena itu, absennya pejabat senior Beijing kembali memunculkan pertanyaan mengenai strategi diplomasi pertahanan China di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.

Meski begitu, diplomat senior Singapura Bilahari Kausikan menilai kehadiran China bukan faktor penentu utama kesuksesan forum tersebut.

Menurut dia, tujuan utama Shangri-La Dialogue tetap untuk menjaga keterlibatan Amerika Serikat dalam arsitektur keamanan Asia Tenggara. “Adanya Menteri Pertahanan China tentu akan lebih baik, tetapi itu bukan sesuatu yang esensial,” ujarnya.