BeritaInternasional

Boikot Meluas, Penjualan Starbucks di Korea Selatan Anjlok Setelah Kontroversi

Avatar photo
12
×

Boikot Meluas, Penjualan Starbucks di Korea Selatan Anjlok Setelah Kontroversi

Sebarkan artikel ini
Boikot Meluas, Penjualan Starbucks di Korea Selatan Anjlok Setelah Kontroversi


PRESSCORNER.ID – Penjualan Starbucks di Korea Selatan dilaporkan anjlok tajam setelah kampanye pemasaran bertajuk “Tank Day” memicu kemarahan publik karena dianggap menyinggung tragedi berdarah Pemberontakan Gwangju 1980.

Kontroversi ini memaksa operator Starbucks Korea, Shinsegae Group, meminta maaf secara terbuka sekaligus mengakui adanya kelemahan serius dalam sistem pengawasan internal perusahaan.

Kampanye tersebut menuai kritik lantaran menggunakan produk tumbler untuk mempromosikan peringatan 18 Mei, tanggal yang berkaitan dengan tragedi Gwangju Uprising.

Peristiwa itu menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah Korea Selatan ketika rezim militer mengerahkan pasukan dan tank untuk membubarkan demonstrasi pro-demokrasi di Gwangju.

Ratusan orang dilaporkan tewas atau hilang dalam operasi militer tersebut.

Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, menyampaikan permintaan maaf langsung dalam konferensi pers pada Selasa (26/5). Ia meminta publik tidak melampiaskan kemarahan kepada pegawai Starbucks Korea di lapangan.

“Saya sangat serius melihat pemasaran Starbucks Korea yang tidak pantas ini telah melukai dan membuat marah banyak orang. Saya akan bertanggung jawab penuh atas insiden ini,” ujar Chung.

Shinsegae mengungkapkan kontroversi tersebut berdampak besar terhadap bisnis Starbucks Korea. Seorang pejabat perusahaan menyebut penjualan turun sangat signifikan sejak kampanye itu menuai kecaman publik.

Meski begitu, perusahaan menegaskan fokus utama saat ini bukan pada penurunan pendapatan, melainkan penyelidikan internal untuk memastikan apakah ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam proses persetujuan kampanye tersebut.

Hasil investigasi awal menunjukkan kampanye itu disusun oleh tim e-commerce Starbucks Korea dan telah melewati persetujuan pimpinan tim hingga eksekutif perusahaan.

Namun, Shinsegae menyebut kasus ini memperlihatkan adanya celah besar dalam sistem manajemen risiko perusahaan.

Perusahaan menilai tim pemasaran terlalu berorientasi pada target penjualan di tengah padatnya agenda promosi mingguan, sehingga kampanye tersebut lolos tanpa kajian hukum dan evaluasi risiko yang memadai.

Kontroversi ini juga menarik perhatian kantor pusat Starbucks di Amerika Serikat. Shinsegae menyatakan perkembangan investigasi dan langkah penanganan krisis terus dilaporkan kepada manajemen global Starbucks.

Pekan lalu, Shinsegae bahkan telah memberhentikan pimpinan Starbucks Korea setelah gelombang kritik terus membesar. Starbucks global turut menyampaikan permintaan maaf dan membuka penyelidikan tersendiri.

Di pasar modal, saham Shinsegae sempat turun hingga 2,8% pada perdagangan pagi sebelum akhirnya berbalik menguat 1,7%. Sementara saham E-Mart, anak usaha yang memiliki mayoritas saham Starbucks Korea, naik 2,3%, sejalan dengan penguatan indeks utama KOSPI.

Starbucks sendiri masih menjadi jaringan makanan dan minuman dengan jumlah pelanggan terbesar di Korea Selatan dalam enam bulan hingga Februari 2026, berdasarkan data firma riset WISEAPP.