PRESSCORNER.ID – BEIJING — Sedikitnya 82 orang tewas dalam ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China bagian utara, pada Jumat malam (23/5). Jumlah korban tersebut direvisi dari laporan awal media pemerintah yang sebelumnya menyebut lebih dari 90 orang meninggal dunia.
Pemerintah daerah Shanxi menyatakan revisi dilakukan karena kekacauan situasi pascaledakan menyebabkan pendataan pekerja di lokasi tidak akurat.
“Setelah insiden terjadi, situasi di lokasi sangat kacau. Perusahaan tidak memiliki data jelas mengenai jumlah pekerja yang berada di bawah tanah, sehingga angka awal menjadi tidak akurat,” kata Kepala Kabupaten Qinyuan, Guo Xiaofang, dalam konferensi pers, Sabtu (23/5) malam, seperti dikutip Reuters.
Meski angka korban direvisi turun menjadi 82 orang, kecelakaan ini tetap menjadi tragedi tambang paling mematikan di China sejak 2009. Saat itu, ledakan gas di Tambang Xinxing, Provinsi Heilongjiang, menewaskan 108 orang.
Saat ledakan terjadi, tercatat ada 247 pekerja yang sedang bertugas di bawah tanah. Hingga kini, dua orang masih dinyatakan hilang.
Selain korban meninggal, sebanyak 128 pekerja mengalami luka-luka dan menjalani perawatan di rumah sakit, sementara 35 orang dilaporkan selamat tanpa cedera.
Tambang Liushenyu dimiliki oleh Shanxi Tongzhou Coal Coking Group. Pemerintah setempat menyatakan seluruh empat tambang milik perusahaan tersebut kini ditutup sementara, dan sejumlah eksekutif perusahaan telah ditahan untuk kepentingan investigasi.
Surat kabar pemerintah China, People’s Daily, dalam editorial halaman depan edisi Minggu (24/5), menyerukan peningkatan serius terhadap keselamatan kerja di sektor produksi. Media itu menegaskan perlunya “membalik sepenuhnya kecenderungan mengutamakan pembangunan dibanding keselamatan.”
Presiden China Xi Jinping juga telah memerintahkan otoritas terkait untuk melakukan upaya maksimal dalam penanganan korban luka serta operasi pencarian dan penyelamatan. Selain itu, investigasi resmi terhadap penyebab ledakan juga diperintahkan segera dilakukan.
Tambang Liushenyu diketahui memiliki kapasitas produksi mencapai 1,2 juta ton batu bara per tahun. China sendiri memproduksi sekitar 4,83 miliar ton batu bara sepanjang tahun lalu, menjadikan komoditas tersebut tulang punggung utama sektor energi dan pembangkit listrik negara itu.
Tonton: Puncak Haji 2026 Dimulai! Jemaah Indonesia Bergerak ke Arafah, Ini Jadwal & Imbauan Penting









