PRESSCORNER.ID – Lelang obligasi pemerintah Amerika Serikat senilai US$ 16 miliar dengan tenor 20 tahun pada Rabu (20/5/2026) diperkirakan menjadi ujian baru bagi permintaan investor terhadap surat utang jangka Panjang.
Menyusul aksi jual tajam pada akhir pekan lalu memicu kekhawatiran bahwa minat terhadap obligasi Treasury mulai melemah.
Kenaikan harga minyak, meningkatnya inflasi konsumen dan produsen, membaiknya ekspektasi pertumbuhan ekonomi, serta ketidakpastian arah kebijakan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, dalam merespons inflasi yang lebih tinggi telah mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang ke level tertinggi sejak awal 2025.
Kondisi tersebut diperkirakan membuat pemerintah harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik minat investor pada lelang obligasi 20 tahun.
Sejumlah investor juga mulai berhati-hati terhadap obligasi tenor panjang seiring memburuknya prospek fiskal AS.
Obligasi tenor 20 tahun sendiri kerap menghadapi tantangan permintaan karena tidak memiliki basis investor institusional yang sekuat obligasi tenor 10 atau 30 tahun.
Sebelumnya, lelang pembiayaan kembali (refunding) pekan lalu yang mencakup US$ 58 miliar obligasi 3 tahun, US$ 42 miliar obligasi 10 tahun, dan US$ 25 miliar obligasi 30 tahun juga menunjukkan permintaan yang relatif lemah.
“Lelang dalam beberapa pekan terakhir secara umum belum menunjukkan minat yang agresif, meskipun yield sudah cukup tinggi dalam konteks terbaru,” ujar Vail Hartman, ahli strategi suku bunga AS di BMO Capital Markets dilansir Reuters Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, tanpa adanya penyesuaian yield yang cukup menarik menjelang lelang 20 tahun, hasil yang lemah berpotensi kembali terjadi.
“Jika tidak ada concession yang memadai, saya cenderung memperkirakan hasil yang kembali kurang kuat karena ketidakpastian yang masih tinggi,” tambahnya.
Dalam lelang sebelumnya, hasil penjualan juga cenderung melemah (tailing), yakni yield yang terbentuk lebih tinggi dibandingkan level perdagangan pasar sebelum lelang. Kesenjangan tersebut mencapai sekitar setengah basis poin.
Selain itu, obligasi tenor 30 tahun bahkan terjual dengan yield tertinggi sejak 2007 pada saat lelang.
Namun, tekanan terbesar di pasar justru terjadi setelah rangkaian lelang tersebut selesai.
“Lelang 20 tahun pada Rabu akan menarik untuk dicermati, mengingat kenaikan signifikan pada yield jangka panjang,” ujar Molly Brooks, ahli strategi suku bunga AS di TD Securities.
“Awalnya saya tidak terlalu khawatir dengan permintaan tenor panjang setelah lelang 30 tahun, tetapi dengan kenaikan yield yang cukup tajam saat ini, kondisi bisa berbeda untuk lelang 20 tahun,” tambahnya.











