PRESSCORNER.ID – Sejumlah mata uang Asia kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (5/5/2026), dengan rupiah Indonesia dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan di kawasan. Tekanan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga AS serta ketidakpastian pasar negara berkembang.
Rupiah dan Ringgit Terkoreksi Paling Dalam
Berdasarkan data Reuters, rupiah melemah 0,22% ke level 17.403 per dolar AS, dari sebelumnya 17.365. Sementara ringgit Malaysia tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, turun 0,25% ke level 3,960 per dolar AS.
Selain itu, peso Filipina juga melemah 0,23%, diikuti baht Thailand yang turun tipis 0,03%.
Sebaliknya, beberapa mata uang menunjukkan pergerakan terbatas, seperti yen Jepang yang relatif stagnan, serta rupee India yang tidak berubah signifikan.
Tabel Pergerakan Mata Uang Asia (5 Mei 2026)
Pergerakan Harian (Intraday)
| Mata Uang | Kurs Terakhir | Perubahan Harian |
|---|---|---|
| Yen Jepang | 157,210 | +0,01% |
| Dolar Singapura | 1,276 | +0,05% |
| Taiwan Dolar | 31,630 | -0,06% |
| Won Korea | 1.476,5 | – |
| Baht Thailand | 32,730 | -0,03% |
| Peso Filipina | 61,707 | -0,23% |
| Rupiah Indonesia | 17.403 | -0,22% |
| Rupee India | 95,088 | 0,00% |
| Ringgit Malaysia | 3,960 | -0,25% |
| Yuan China | 6,831 | + |
Tekanan Tahunan Masih Dominan di Pasar Asia
Secara year-to-date (YTD) 2026, mayoritas mata uang Asia masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS, meskipun terdapat beberapa penguatan terbatas pada yuan China dan dolar Singapura.
Rupiah tercatat melemah 4,21% sejak akhir 2025, sementara rupee India menjadi salah satu yang tertekan paling dalam dengan penurunan 5,49%.
Korea won juga melemah signifikan 2,51%, mencerminkan tekanan luas pada mata uang negara berkembang di Asia.
erubahan Mata Uang Asia (YTD 2026)
| Mata Uang | Kurs Saat Ini | Kurs 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Yen Jepang | 157,210 | 156,650 | -0,36% |
| Dolar Singapura | 1,276 | 1,2855 | +0,74% |
| Taiwan Dolar | 31,630 | 31,438 | -0,61% |
| Won Korea | 1.476,5 | 1.439,5 | -2,51% |
| Baht Thailand | 32,730 | 31,45 | -3,91% |
| Peso Filipina | 61,707 | 58,8 | -4,71% |
| Rupiah Indonesia | 17.403 | 16.670 | -4,21% |
| Rupee India | 95,088 | 89,87 | -5,49% |
| Ringgit Malaysia | 3,960 | 4,056 | +2,42% |
| Yuan China | 6,831 | 6,9879 | +2,30% |
Dolar AS Masih Jadi Aset Dominan
Penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan mata uang Asia. Investor cenderung berhati-hati terhadap risiko global, termasuk ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
Meski demikian, beberapa mata uang seperti yuan China dan dolar Singapura masih mencatatkan penguatan masing-masing 2,30% dan 0,74% sepanjang tahun berjalan.
Outlook: Tekanan Masih Berlanjut
Pergerakan mata uang Asia menunjukkan pola pelemahan yang masih dominan, terutama di negara berkembang. Tekanan berasal dari kombinasi penguatan dolar AS, arus modal yang lebih selektif, serta ketidakpastian global.
Rupiah dan ringgit menjadi sorotan karena mencatat pelemahan harian sekaligus berada dalam tekanan akumulatif sepanjang tahun.
Tonton: Harga Emas Antam Jatuh Hari ini (5 Mei 2026)
Dengan dolar AS yang masih kuat dan sentimen global yang belum stabil, mata uang Asia diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini menunggu sinyal lebih jelas dari The Fed dan perkembangan risiko geopolitik global.











