PRESSCORNER.ID – Mata uang Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (5/5/2026), dengan rupiah Indonesia dan ringgit Malaysia memimpin pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir Reuters berdasarkan data perdagangan, rupiah berada di level Rp17.403 per dolar AS, melemah sekitar 0,22% dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp17.365 per dolar AS.
Sementara itu, ringgit Malaysia turun 0,25% ke level 3,96 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina yang turun 0,23% menjadi 61,707 per dolar AS.
Di sisi lain, beberapa mata uang regional bergerak relatif stabil. Yen Jepang berada di kisaran 157,21 per dolar AS, sementara dolar Singapura sedikit menguat ke 1,276 per dolar AS.
Won Korea Selatan dan dolar Taiwan juga menunjukkan pergerakan terbatas, masing-masing berada di level 1.476,5 dan 31,63 per dolar AS.
Secara year-to-date (ytd) hingga 2026, sebagian besar mata uang Asia masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS.
Rupiah tercatat telah melemah sekitar 4,21% dibandingkan posisi akhir 2025 di Rp16.670 per dolar AS.
Pelemahan lebih dalam dialami oleh rupee India yang turun 5,49%, diikuti peso Filipina yang melemah 4,71% dan baht Thailand sebesar 3,91%.
Sebaliknya, ringgit Malaysia justru mencatat penguatan sekitar 2,42% sejak awal tahun, sementara yuan China menguat 2,30% terhadap dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia masih dipengaruhi oleh kuatnya dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat ketegangan geopolitik dan tekanan harga energi yang tinggi.
Kondisi ini mendorong investor cenderung beralih ke aset safe haven, sehingga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk di kawasan Asia.











