BeritaBisnis

Fase II Hilirisasi Digeber, Danantara Siapkan 30 Proyek hingga Tahap Lanjutan

Avatar photo
9
×

Fase II Hilirisasi Digeber, Danantara Siapkan 30 Proyek hingga Tahap Lanjutan

Sebarkan artikel ini
Fase II Hilirisasi Digeber, Danantara Siapkan 30 Proyek hingga Tahap Lanjutan


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pemerintah mempercepat agenda hilirisasi nasional dengan memulai pembangunan 13 proyek tahap kedua yang digelar serentak di berbagai wilayah. Langkah ini menjadi bagian dari roadmap jangka panjang yang akan berlanjut ke fase berikutnya.

CEO Danantara Rosan Roeslani menjelaskan bahwa fase kedua ini merupakan kelanjutan dari proyek yang telah dimulai pada awal tahun dan menjadi pijakan untuk ekspansi proyek selanjutnya.

Ia menyebut, pelaksanaan groundbreaking dilakukan serentak di 13 titik dan menjadi bagian dari fase kedua setelah sebelumnya fase pertama berjalan di 11 lokasi pada Februari 2026.

“Bapak Presiden yang saya hormati, izinkanlah saya melaporkan terlebih dahulu bahwa acara ini dilaksanakan serentak di 13 titik groundbreaking pada saat nanti Bapak Presiden resmikan. Jadi pembangunan ini akan dilakukan secara serentak,” ujarnya saat melakukan peresmian ground breaking Kilang gasoline Pertamina di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).

Kata dia, sebelumnya telah disampaikan bahwa pelaksanaan program hilirisasi nasional ini adalah fase kedua, setelah fase pertama dilakukan pada 6 Februari 2026 di 11 titik yang mencakup smelter alumina, bioavtur, bioetanol, hingga pengolahan garam industri dan peternakan ayam terintegrasi. 

“Melanjutkan momentum tersebut, kami lanjutkan dengan fase kedua di 13 proyek strategis hilirisasi nasional ini yang sebentar lagi akan diresmikan,” ujar Rosan.

Ia menambahkan, pipeline proyek hilirisasi tidak berhenti di tahap ini. Saat ini pemerintah juga telah menyiapkan fase berikutnya yang akan menambah jumlah proyek secara signifikan.

“Sehingga jika ditambahkan, masih ada fase ketiga yang sedang kami rencanakan dan saat ini telah tercatat enam proyek hilirisasi nasional. Jika seluruh fase dijalankan, totalnya akan mencapai sekitar 30 proyek hilirisasi nasional yang akan terus berkembang dan berjalan. Ini adalah fase dua, dan insyaallah fase tiga akan segera kami lakukan, kemudian dilanjutkan ke fase empat dan fase berikutnya,” lanjutnya.

Rosan menegaskan, hilirisasi diarahkan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus dampak ekonomi luas, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan industri domestik. Ia menyebut proyek-proyek yang berjalan berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja serta memperkuat struktur industri nasional.

Ia juga mengungkapkan bahwa koordinasi lintas kementerian terus dilakukan untuk memastikan percepatan proyek, termasuk dengan Kementerian ESDM dalam kapasitasnya sebagai pengarah sektor energi dan sumber daya.

“Dan kami berkoordinasi selalu dengan Menteri ESDM dan Kepala Satgas untuk melihat proyek-proyek hilirisasi ini agar segera dilaksanakan dalam rangka penciptaan nilai tambah, penciptaan industri, dan yang paling penting penciptaan lapangan pekerjaan,” tambahnya.

Dari proyek-proyek yang dijalankan ini akan tercipta lapangan pekerjaan mencapai kurang lebih 600.000 orang. Selain itu, jika kita lihat proyek yang sudah berjalan di luar fase pertama dan kedua, nilainya telah mencapai sekitar 26 miliar dolar AS. 

Dalam groundbreaking ini terdapat lima proyek di sektor energi, termasuk pembangunan kilang gasoline di Cilacap dan Dumai yang akan memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM.

Ia menambahkan, pembangunan kilang tersebut diproyeksikan mampu mengurangi impor energi secara signifikan setiap tahunnya.

“Dari pembangunan Cilacap dan Dumai ini akan mengurangi impor kurang lebih US$ 1,25 miliar per tahunnya,” jelasnya.

Selain sektor energi, proyek tahap kedua juga mencakup sektor mineral dan pertanian yang dinilai strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional dan rantai pasok industri dalam negeri.

Daftar 13 Proyek Hilirisasi Tahap II

  1. Kilang gasoline Pertamina di Dumai dan Cilacap dengan pengembangan kapasitas total sekitar 62 ribu barel per hari (MBSD) yang ditargetkan beroperasi pada 2030 dan mampu mensubstitusi impor gasoline hingga sekitar 2 juta kiloliter per tahun.
  2. Terminal BBM di Palaran, Kalimantan Timur dengan kapasitas sekitar 37 ribu kiloliter untuk memperkuat distribusi energi nasional, terutama di kawasan timur Indonesia.
  3. Terminal BBM di Biak, Papua dengan kapasitas sekitar 46 ribu kiloliter guna meningkatkan keandalan pasokan energi dan mengurangi disparitas harga antarwilayah.
  4. Terminal BBM di Maumere, Nusa Tenggara Timur dengan kapasitas sekitar 70 ribu kiloliter yang ditargetkan mulai beroperasi lebih awal untuk mendukung ketahanan energi wilayah timur.
  5. Fasilitas pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan dengan kapasitas sekitar 1,4 juta ton per tahun sebagai substitusi impor LPG nasional.
  6. Fasilitas manufaktur stainless steel berbasis nikel di Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas produksi sekitar 1,2 juta ton per tahun guna meningkatkan nilai tambah mineral dalam negeri.
  7. Fasilitas produksi slab baja karbon di Cilegon, Banten dengan kapasitas sekitar 1,5 juta ton per tahun melalui pemanfaatan bijih besi lokal untuk memperkuat industri dasar nasional.
  8. Pengembangan ekosistem produksi aspal Buton yang ditargetkan meningkat hingga 300 ribu ton per tahun pada 2030 untuk mengurangi ketergantungan impor aspal.
  9. Fasilitas hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur melalui pengembangan produk lanjutan seperti brass mill dan logam mulia guna mendukung industri strategis nasional.
  10. Pengolahan kelapa sawit di Sei Mangkei, Sumatera Utara menjadi produk oleofood dan biodiesel untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus mendukung ketahanan energi.
  11. Fasilitas pengolahan pala di Maluku Tengah menjadi oleoresin guna meningkatkan nilai ekspor komoditas rempah.
  12. Fasilitas terpadu pengolahan kelapa di Maluku Tengah yang menghasilkan produk turunan seperti MCT, tepung kelapa, dan karbon aktif untuk memperluas pasar ekspor.
  13. Pengembangan ekosistem hilirisasi agro terintegrasi di Morowali untuk memperkuat rantai pasok industri berbasis sumber daya domestik.