PRESSCORNER.ID – Harga minyak dunia kembali menguat sekitar 3% pada perdagangan Selasa (28/4/2026), memperpanjang reli dari sesi sebelumnya, di tengah mandeknya upaya penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah mengganggu pasokan energi global.
Melansir Reuters, harga minyak Brent kontrak Juni naik US$3,28 atau 3,03% menjadi US$111,51 per barel pada pukul 11.15 GMT, setelah sebelumnya juga menguat 2,8% dan ditutup di level tertinggi sejak 7 April. Sepanjang sesi, Brent sempat menyentuh US$111,86 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$3,47 atau 3,6% ke level US$99,84 per barel, melanjutkan kenaikan 2,1% pada sesi sebelumnya.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak puas dengan proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik.
Sumber dari pihak Iran menyebutkan bahwa proposal tersebut belum menyentuh isu program nuklir, sebelum penghentian konflik dan penyelesaian sengketa pelayaran di Teluk disepakati.
Situasi tersebut membuat kebuntuan semakin dalam. Iran disebut masih membatasi jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas global, sementara AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
“Minyak di atas US$110 per barel mencerminkan pasar yang sedang melakukan re-pricing risiko geopolitik secara cepat,” ujar analis Rystad Energy, Jorge Leon.
Menurutnya, dengan perundingan yang terhenti dan belum adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz, pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi gangguan pasokan yang berkepanjangan.
“Bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, kesepakatan AS-Iran kemungkinan bersifat terbatas dan tidak menyelesaikan isu Selat Hormuz, sehingga risiko kenaikan harga tetap ada,” tambahnya.
Data pergerakan kapal menunjukkan gangguan signifikan di kawasan tersebut. Beberapa kapal tanker Iran dilaporkan terpaksa kembali akibat blokade AS, meski sebagian aktivitas pelayaran masih berlangsung, termasuk kapal tanker minyak dari Arab Saudi yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
Sebelum konflik AS–Iran pecah pada 28 Februari, sekitar 125 hingga 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Gangguan pasokan ini diperkirakan akan terus menekan keseimbangan pasar minyak global, di tengah kekhawatiran inflasi dan potensi penurunan permintaan akibat harga energi yang tinggi.











