Bisnis

Ekonomi RI Tahan Guncangan di Awal 2026, BI Waspadai Perlambatan Kuartal II

Avatar photo
12
×

Ekonomi RI Tahan Guncangan di Awal 2026, BI Waspadai Perlambatan Kuartal II

Sebarkan artikel ini
Ekonomi RI Tahan Guncangan di Awal 2026, BI Waspadai Perlambatan Kuartal II


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa tantangan yang lebih berat diperkirakan mulai terasa pada kuartal berikutnya, seiring meningkatnya risiko dari dalam dan luar negeri.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan bahwa berbagai indikator terkini menunjukkan ekonomi nasional masih tumbuh solid pada awal tahun 2026 ini.

Kekuatan utama berasal dari permintaan domestik yang tetap terjaga. Konsumsi rumah tangga tercatat meningkat, ditopang oleh keyakinan pelaku ekonomi serta stabilnya pendapatan masyarakat.

“Pertumbuhan didorong konsumsi dan momentum Ramadan serta Idulfitri,” ujar Perry, Rabu (22/4/2026).

Dari sisi pemerintah, belanja negara juga mengalami peningkatan, terutama karena penyaluran tunjangan hari raya (THR), kenaikan belanja sosial, serta berbagai insentif fiskal termasuk transfer ke daerah. 

Di sisi lain, investasi juga tetap bergerak positif, khususnya pada sektor konstruksi, seiring percepatan proyek-proyek prioritas pemerintah.

Meski kondisi awal tahun terlihat cukup kuat, BI menekankan pentingnya memperkuat sinergi kebijakan antara pemerintah dan otoritas moneter.

BI sendiri berkomitmen menjaga stabilitas melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang terintegrasi dengan kebijakan fiskal. Untuk keseluruhan 2026, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%.

Namun, pandangan lebih hati-hati datang dari kalangan ekonom. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperingatkan adanya potensi perlambatan pada kuartal II-2026. 

Ia memperkirakan pertumbuhan bisa melandai ke kisaran 4,7% hingga 4,9% akibat kombinasi tekanan eksternal dan domestik.

Menurut Bhima, pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan harga energi dan pangan, serta potensi gangguan cuaca ekstrem seperti super El Nino menjadi faktor yang dapat menekan ekonomi.

Selain itu, krisis bahan baku pupuk juga berisiko mengganggu produksi pangan nasional.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memicu tekanan pada biaya hidup masyarakat. Kelas menengah menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena daya belinya bisa tergerus.

“Masyarakat akan menghadapi cost of living crisis sehingga cenderung menahan belanja dan memilih menabung,” kata Bhima.

Dengan kombinasi faktor tersebut, laju pertumbuhan ekonomi pada paruh pertama 2026 diperkirakan akan sangat bergantung pada daya tahan konsumsi domestik serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam meredam tekanan harga dan menjaga stabilitas pasar.