Internasional

Yen Tertekan, Kebijakan Jepang Dinilai Tertinggal dari AS

Avatar photo
4
×

Yen Tertekan, Kebijakan Jepang Dinilai Tertinggal dari AS

Sebarkan artikel ini
Yen Tertekan, Kebijakan Jepang Dinilai Tertinggal dari AS


PRESSCORNER.ID – TOKYO. Tekanan terhadap yen Jepang belum menunjukkan tanda mereda. Bahkan, risiko pelemahan lanjutan kian terbuka jika pasar melihat Bank of Japan (BOJ) terlalu lambat dalam merespons ancaman inflasi. Kondisi ini menegaskan bahwa arah kebijakan moneter Jepang masih tertinggal dibandingkan Amerika Serikat (AS), terutama di tengah ekspektasi langkah agresif dari Federal Reserve.

Presiden Asian Development Bank (ADB), Masato Kanda menyampaikan, perbedaan suku bunga menjadi faktor utama yang menahan penguatan yen. Saat investor global terus memburu dolar AS sebagai aset aman, yen justru gagal bangkit signifikan bahkan ketika tekanan pasar mereda.

“Selama pasar fokus pada langkah The Fed, yen akan tertinggal jika BOJ dianggap lambat mengejar kurva inflasi,” ujar Kanda seperti yan dikutip Reuters (19/4). Pernyataan ini mencerminkan keraguan pelaku pasar terhadap komitmen Jepang dalam menormalisasi kebijakan moneternya.

Tak hanya faktor moneter, tekanan terhadap yen juga datang dari sisi fiskal. Pemerintah Jepang di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi terus menggulirkan kebijakan ekspansif, termasuk subsidi energi untuk menahan lonjakan harga bensin. Kebijakan ini memang menopang daya beli, tetapi sekaligus menambah beban utang negara yang sudah sangat besar.

Sebagai catatan, rasio utang Jepang telah mencapai dua kali lipat dari produk domestik bruto (PDB), tertinggi di antara negara maju. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran soal keberlanjutan fiskal, yang pada akhirnya dapat mendorong investor melepas yen.

Kanda mengingatkan, bahwa subsidi energi seharusnya bersifat sementara dan tepat sasaran. Intervensi harga yang terlalu luas justru berisiko mendistorsi mekanisme pasar dan menghambat penyesuaian ekonomi.

“Fluktuasi harga adalah bagian penting dari proses adaptasi. Menahannya secara berlebihan bisa menghambat perubahan perilaku masyarakat,” tegasnya.

Sebagai alternatif, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat investasi jangka panjang, seperti efisiensi energi, peningkatan cadangan minyak, serta diversifikasi sumber energi. Langkah ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan subsidi jangka pendek.

Di pasar global, pergerakan yen juga dipengaruhi dinamika geopolitik. Dolar sempat melemah setelah Iran memastikan Selat Hormuz tetap terbuka, memicu harapan meredanya konflik Timur Tengah. Namun, pelemahan dolar terhadap yen masih terbatas.

Hingga akhir pekan, dolar masih bertengger di kisaran 158,61 yen dekat level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang. Ini menunjukkan bahwa tekanan struktural terhadap yen belum benar-benar hilang.

Dengan inflasi yang relatif stabil dan ekonomi domestik yang masih rapuh, BOJ tampaknya masih berhati-hati untuk menaikkan suku bunga. Namun, sikap ini berisiko memperlebar jurang kebijakan dengan AS dan pada akhirnya memperpanjang fase pelemahan yen.