BeritaBisnis

Konsumsi Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5,2% di Kuartal III-2026

Avatar photo
5
×

Konsumsi Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5,2% di Kuartal III-2026

Sebarkan artikel ini
Konsumsi Melambat, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi 5,2% di Kuartal III-2026


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diproyeksikan sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,20% secara tahunan atau year on year (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% yoy.

Banjaran menjelaskan, perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut sejalan dengan pola musiman dalam beberapa tahun terakhir.

“Perlambatan ini sejalan dengan pola musiman dalam beberapa tahun terakhir, dimana laju kuartalan pada kuartal III lebih rendah setelah momentum kuartal I dan kuartal II berlalu,” ujar Banjaran kepada Kontan, Selasa (4/11/2026).

Meski demikian, Banjaran menilai sejumlah komponen diperkirakan masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2026, terutama belanja pemerintah dan investasi.

Hal ini tercermin dari realisasi belanja negara hingga September 2026 yang tumbuh 19% yoy. Selain itu, realisasi investasi berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meningkat 7,6% yoy pada kuartal III-2026.

Kinerja sektor manufaktur juga menunjukkan perbaikan. Hal tersebut terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang meningkat menjadi 52,4 pada September 2026 dan kembali naik ke level 54,0 pada Oktober 2026.

Di sisi lain, Banjaran memperkirakan konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan. Kondisi ini seiring berlalunya dorongan musiman pada kuartal II serta penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang berada di level terendah dalam 12 bulan terakhir.

Selain konsumsi rumah tangga, ekspor neto juga diperkirakan memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, pertumbuhan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor membatasi ruang akselerasi ekonomi nasional.

Lebih lanjut, Banjaran menyebut sejumlah bencana juga berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi di wilayah terdampak. Di antaranya gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Agustus, erupsi Gunung Anak Krakatau pada September, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Meskipun demikian, dampaknya terhadap PDB nasional kami nilai terbatas dan dapat diimbangin oleh percepatan belanja pemerintah,” ujar Banjaran.




Kabur
Berita

PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Tak cuma panas yang berkepanjangan…