BeritaInternasional

AS dan Iran Bahas Kesepakatan Bertahap untuk Buka Selat Hormuz

Avatar photo
2
×

AS dan Iran Bahas Kesepakatan Bertahap untuk Buka Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
AS dan Iran Bahas Kesepakatan Bertahap untuk Buka Selat Hormuz


ILUSTRASI. Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah menjajaki kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan (via REUTERS/Majid Asgaripour)

PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Amerika Serikat (AS) dan Iran tengah menjajaki kesepakatan bertahap untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir tujuh bulan. Salah satu opsi yang dibahas adalah pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dengan imbalan pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Teheran.

Pembahasan tersebut berlangsung di New York di tengah meningkatnya tekanan ekonomi terhadap Iran dan kekhawatiran terhadap gangguan jalur pelayaran energi global. Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam negosiasi karena merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, kedua pihak masih menghadapi persoalan besar karena masing-masing tidak ingin menjadi pihak pertama yang melepaskan posisi tawarnya.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan, salah satu jalan keluar yang paling memungkinkan adalah kesepakatan yang dilakukan secara bertahap. Dalam skema tersebut, Iran membuka akses pelayaran di Selat Hormuz, sementara AS mencabut blokade ekonomi dan membuka kemungkinan akses Iran terhadap aset-aset yang dibekukan.

“Salah satu jalan ke depan adalah menyelesaikan krisis secara bertahap. Tahap pertama adalah mengakhiri blokade dan membuka kembali Selat Hormuz,” kata pejabat senior Iran tersebut di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kesepakatan tersebut akan mengharuskan Presiden AS Donald Trump menerima solusi sementara lainnya setelah kesepahaman sebelumnya yang dicapai pada Juli 2026 gagal bertahan.

Karena itu, tantangan utama negosiasi bukan hanya merancang kesepakatan, tetapi juga memastikan setiap konsesi dapat bertahan cukup lama sehingga kedua pihak memiliki kepercayaan untuk menjalankannya.

Hormuz Jadi Kartu Tawar Utama

Selat Hormuz kini menjadi kartu tawar utama dalam upaya mengakhiri konflik AS-Iran. Teheran membutuhkan pelonggaran tekanan ekonomi dari Washington, sedangkan AS menginginkan kebebasan pelayaran di jalur perdagangan minyak yang saat ini terganggu.

Presiden Trump sebelumnya mengatakan AS dan Iran kemungkinan dapat mencapai kesepakatan setelah pemilihan umum sela (midterm) Kongres AS pada 3 November.

Seorang pejabat senior Eropa mengatakan Iran memiliki daftar tuntutan yang panjang.

Sementara itu, Gedung Putih menilai posisi Washington masih kuat dalam menghadapi Teheran. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan Iran sangat membutuhkan kesepakatan, sedangkan Trump memiliki kendali dalam menentukan langkah AS.

Menurut pejabat tersebut, Trump tetap terbuka untuk berkomunikasi dengan Iran dalam kondisi yang tepat, tetapi tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk bernegosiasi.

Pemerintahan Trump juga menyatakan sanksi ekonomi dan blokade telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran.

Tekanan Ekonomi Iran Meningkat

AS dalam beberapa waktu terakhir memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menambahkan sanksi baru di tengah blokade yang telah menekan ekspor minyak Iran.

Pada September 2026, Washington juga menargetkan maskapai penerbangan komersial Iran yang tersisa beserta jaringan pendukungnya. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memutus sumber-sumber ekonomi yang menopang pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam.

Trump sebelumnya memperingatkan perekonomian Iran dapat semakin memburuk apabila Teheran tidak mencapai kesepakatan.

Di sisi lain, mantan negosiator AS untuk Iran Dennis Ross menilai tekanan ekonomi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Teheran kembali mempertimbangkan diplomasi.

“Blokade adalah sesuatu yang benar-benar menekan Iran. Blokade itu mencekik mereka,” ujar Ross.

Menurut Ross, terdapat alasan bagi kedua pihak untuk mencapai kesepakatan sebelum pemilu sela AS. Pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi meredakan ketegangan di kawasan Teluk, menekan harga minyak dan membantu menurunkan harga bensin di AS.

Iran Pertahankan Kendali Administratif Hormuz

Dalam pembicaraan tersebut, Iran disebut bersedia menunda salah satu tuntutannya terkait pembayaran biaya transit kapal yang melewati Selat Hormuz.

Sumber-sumber regional mengatakan tuntutan pembayaran biaya transit dapat dikeluarkan dari kesepakatan utama dan dimasukkan ke dalam dokumen tambahan. Hal itu dilakukan karena pencabutan blokade ekonomi dinilai menjadi prioritas yang lebih mendesak bagi Teheran.

Negara-negara Teluk menolak usulan pembayaran biaya transit tersebut. Setiap kesepakatan yang dicapai juga diperkirakan bersifat sementara dan tidak berarti Iran secara resmi meninggalkan posisinya terkait Selat Hormuz.

Salah satu sumber mengatakan Iran tidak terutama berfokus pada pengenaan tarif di Selat Hormuz, tetapi ingin mempertahankan kendali administratif atas jalur air strategis tersebut.

“Iran mungkin bersedia menunda masalah tarif, tetapi mereka tidak akan menyerahkan kendali administratif atas selat tersebut,” kata sumber tersebut.

AS, Iran dan Negara Teluk Punya Kepentingan Berbeda

Negosiasi di New York memperlihatkan perbedaan kepentingan yang mendasar.

Washington ingin tekanan ekonomi menghasilkan konsesi dari Teheran. Sebaliknya, Iran menginginkan tekanan tersebut dicabut sebelum memberikan konsesi. Sementara negara-negara Teluk menginginkan konflik segera diselesaikan tanpa menjadikan jalur air strategis di kawasan sebagai alat tawar permanen.

Para pemimpin negara Teluk juga bertemu Trump di New York untuk meminta kejelasan mengenai tujuan akhir Washington setelah pemilu sela AS. Mereka juga mempertanyakan apakah AS akan kembali melakukan aksi militer apabila Iran menolak kembali ke meja perundingan.

Negara-negara Teluk menegaskan penolakan terhadap kendali Iran atas Selat Hormuz. Mereka menyatakan kebebasan navigasi harus dipulihkan dan jalur strategis tersebut tidak boleh menjadi alat tekanan terhadap negara-negara Teluk.

Namun, pada saat yang sama, negara-negara Teluk mendorong deeskalasi dan proses politik untuk mencegah kawasan tersebut terseret lebih jauh dalam konflik AS-Iran.

Ketidakpastian Strategi AS Jadi Perhatian

Ebtessam al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center yang berbasis di Abu Dhabi, mengatakan masih terdapat ketidakjelasan mengenai tujuan akhir pemerintahan Trump.

“Masih belum jelas apa tujuan akhir Trump, atau apa alternatif dari kampanye tekanan tersebut,” kata al-Ketbi.

Menurut dia, Iran dinilai telah memiliki tujuan yang lebih jelas dalam menggunakan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb sebagai bagian dari strategi regionalnya.

“Sebaliknya, Iran tahu apa yang mereka inginkan. Mereka sedang membentuk kembali lanskap kawasan melalui Hormuz dan Bab el-Mandeb dengan tujuan yang jelas, sementara Washington masih belum menentukan peta jalannya,” ujarnya.

Bab el-Mandeb merupakan selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Danny Citrinowicz, analis kawasan dan mantan pejabat intelijen militer Israel, mengatakan pembicaraan di New York belum mengubah posisi dasar kedua pihak.

Sementara itu, Alan Eyre, mantan negosiator AS untuk Iran, menilai tekanan ekonomi belum tentu membuat Teheran melunak.

“Blokade memang menyakiti mereka, tetapi alih-alih melunakkan posisi mereka, hal itu kemungkinan akan mendorong mereka untuk melakukan eskalasi karena mereka percaya bahwa jika mereka melunakkan posisi, mereka akan tamat,” kata Eyre.

Seorang pejabat Barat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan inti dari diplomasi saat ini adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

“Ini semua tentang membuka Selat Hormuz. Kita semua berada di bawah tekanan domestik dan Iran mengetahuinya,” kata pejabat tersebut.

Dengan demikian, pembukaan Selat Hormuz menjadi salah satu isu sentral dalam upaya diplomatik AS-Iran. Kedua pihak masih berusaha mempertahankan kartu tawar masing-masing, sementara tekanan ekonomi dan risiko eskalasi membuat ruang untuk mencapai kesepakatan semakin penting.