BeritaInternasional

Harga Tembaga Naik Tipis Jumat (25/9), Pasokan China Makin Ketat

Avatar photo
0
×

Harga Tembaga Naik Tipis Jumat (25/9), Pasokan China Makin Ketat

Sebarkan artikel ini
Harga Tembaga Naik Tipis Jumat (25/9), Pasokan China Makin Ketat


ILUSTRASI. Harga Tembaga (REUTERS/Ivan Alvarado)

PRESSCORNER.ID – Harga tembaga bergerak naik tipis pada Jumat (25/9/2026), ditopang pelemahan dolar AS dan mengetatnya pasokan di China.

Namun, kenaikan harga tembaga masih terbatas karena investor mewaspadai potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut yang dapat menekan permintaan logam industri.

Melansir Reuters, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% menjadi US$14.651 per metrik ton pada pukul 10.00 GMT. Dalam sepekan, harga tembaga telah menguat 0,8%.

Pasar logam industri ikut bergejolak akibat tekanan di pasar obligasi yang dipicu kekhawatiran inflasi, terutama setelah harga energi meningkat.

Pada Jumat, harga minyak turun dan dolar AS melemah setelah sebelumnya menyentuh level terkuat dalam hampir dua bulan.

Pelemahan dolar membuat komoditas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain.

“Sejumlah tekanan yang muncul dalam beberapa hari terakhir mulai sedikit mereda hari ini. Namun, investor menjadi sedikit lebih menghindari risiko dalam kondisi seperti ini,” kata Nitesh Shah, commodity strategist di WisdomTree.

Menurut Shah, pasar kemungkinan telah memperhitungkan ekspektasi kenaikan suku bunga secara berlebihan. Karena itu, permintaan logam dasar berpeluang lebih kuat dari perkiraan.

“Pasar mungkin telah terlalu banyak memperhitungkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Saya melihat permintaan logam dasar justru berpeluang mengejutkan ke arah positif dibandingkan negatif,” ujarnya.

Aktivitas perdagangan tembaga relatif lebih sepi karena Shanghai Futures Exchange ditutup pada Jumat untuk hari libur.

Dalam tiga bulan terakhir, harga tembaga LME telah menguat sekitar 10%. Penguatan tersebut terjadi di tengah spekulasi mengenai potensi penerapan tarif Amerika Serikat (AS) yang mendorong arus logam dalam jumlah besar ke AS dan menyebabkan pasokan di wilayah lain mengetat.

Ketatnya pasokan juga terlihat di China. Persediaan tembaga yang tersedia di pasar China turun cukup signifikan, sementara sejumlah smelter mengumumkan pengurangan produksi untuk keperluan pemeliharaan.

“Persediaan yang terlihat di China telah turun cukup banyak, sementara sejumlah smelter mengumumkan pengurangan jadwal produksi untuk pemeliharaan. Pasar China jelas sedang berada dalam kondisi yang ketat,” kata David Wilson, head of metals strategy di BNP Paribas.

Selain tembaga, harga seng LME sempat mencapai level tertinggi dalam dua pekan di US$3.989,50 per ton sebelum memangkas kenaikan menjadi US$3.961 per ton atau naik 0,2%.

Harga seng mendapat dukungan dari kekhawatiran pasokan setelah Nyrstar mengumumkan kajian strategis terhadap operasional peleburan seng miliknya di Belanda.

Premi seng tunai LME terhadap kontrak tiga bulan melonjak menjadi US$106 per ton pada Kamis (24/9/2026), dari US$65,35 per ton sehari sebelumnya. Kenaikan premi tersebut mengindikasikan semakin ketatnya ketersediaan seng fisik.

Sementara itu, harga aluminium naik 0,3% menjadi US$3.258,50 per ton dan timah bertambah 0,1% menjadi US$54.080 per ton.

Sebaliknya, harga timbal turun 0,5% menjadi US$1.923,50 per ton, sedangkan nikel melemah 1,5% menjadi US$16.260 per ton.