AMSTERDAM — Debut Xavi Hernández sebagai pelatih Timnas Belanda berakhir dengan skor 1-1 melawan Jerman pada matchday pertama UEFA Nations League 2026/2027, Kamis (24/9/2026).
Hasil akhir memang imbang. Namun, jalannya pertandingan menunjukkan cerita yang lebih menarik: Belanda justru lebih dominan, tetapi Jerman lebih efektif memanfaatkan peluang.
Jerman unggul melalui Felix Nmecha pada menit ke-32, sedangkan Belanda baru menyamakan kedudukan melalui Cody Gakpo pada menit ke-90+2. Gakpo menyelesaikan umpan Ruben van Bommel untuk menghindarkan Xavi dari kekalahan dalam pertandingan kompetitif pertamanya sebagai pelatih Oranje.
Belanda Menguasai Pertandingan, Jerman Lebih Efektif
Statistik memperlihatkan perbedaan karakter permainan kedua tim.
Belanda mencatat sekitar 54 persen penguasaan bola, melepaskan 22 tembakan dengan 10 mengarah ke gawang, sedangkan Jerman hanya menghasilkan 10 tembakan dan dua tepat sasaran. Belanda juga mendapatkan 12 sepak pojok, berbanding satu milik Jerman.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa Jerman tidak banyak menguasai bola, tetapi mampu menciptakan situasi berbahaya ketika mendapatkan ruang.
Gol Nmecha menjadi contoh paling jelas.
Karim Adeyemi terlibat dalam proses serangan sebelum bola yang diblok kemudian diselesaikan Nmecha dari jarak dekat pada menit ke-32. UEFA mencatat proses tersebut sebagai gol yang membuat Jerman memimpin hingga menjelang akhir laga.
Jadi, persoalan Belanda pada babak pertama bukan dominasi permainan, melainkan efektivitas di kotak penalti.
Xavi Membawa Belanda Bermain Lebih Proaktif
Salah satu hal yang menarik dari debut Xavi adalah pendekatan permainannya.
Sebelum pertandingan, Xavi sudah menyatakan bahwa ia ingin Belanda bermain dengan intensitas, tempo tinggi, agresivitas dan keberanian mengambil inisiatif. Ia juga menegaskan ingin membawa pendekatan berbeda dari periode sebelumnya tanpa membandingkannya secara langsung dengan Ronald Koeman.
Dalam pemilihan formasi, Xavi memang menyatakan dirinya lebih memilih sistem dengan maksimal empat bek dan menyebut 4-3-3, 4-3-2-1 atau 3-4-3 sebagai bentuk yang menurutnya dapat membantu Belanda mendominasi pertandingan.
Melawan Jerman, pendekatan tersebut terlihat dari cara Belanda mempertahankan penguasaan bola sekaligus terus mengirim pemain ke area serang.
Belanda tercatat melakukan 408 operan, dengan akurasi sekitar 85 persen, serta menghasilkan lebih banyak peluang dan sepak pojok.
Ini adalah salah satu alasan mengapa Jerman semakin sulit mempertahankan keunggulannya pada babak kedua.
Perubahan Xavi Mulai Mengubah Arah Pertandingan
Titik penting lainnya ada pada pergantian pemain.
Brian Brobbey keluar pada menit ke-35 dan digantikan Mexx Meerdink. Kemudian Quinten Timber digantikan Joey Veerman pada menit ke-57.
Pada menit ke-83, Xavi memasukkan Ruben van Bommel menggantikan Crysencio Summerville dan Guus Til menggantikan Tijjani Reijnders.
Pergantian Van Bommel kemudian terbukti menentukan.
Pada menit ke-90+2, Van Bommel mengirimkan umpan ke area penalti yang diselesaikan Cody Gakpo menjadi gol penyama kedudukan. UEFA mencatat gol tersebut sebagai penyelamat Belanda dari kekalahan pada debut Xavi.
Dengan kata lain, pergantian pemain Xavi bukan hanya menyegarkan tenaga, tetapi menghasilkan kombinasi langsung yang melahirkan gol.
Jerman Mulai Kesulitan Menghadapi Tekanan
Setelah unggul 1-0, Jerman tidak mampu mempertahankan kontrol pertandingan.
Belanda semakin sering masuk ke area pertahanan Jerman. Ter Stegen menjadi salah satu pemain penting bagi tim tamu karena harus menghadapi banyak percobaan tembakan.
Sofascore mencatat Belanda memiliki 22 tembakan dan 10 tembakan tepat sasaran, sementara Jerman hanya dua tembakan tepat sasaran. Data tersebut juga mencatat expected goals Belanda mencapai sekitar 3,12, berbanding 1,50 milik Jerman.
Artinya, secara volume dan kualitas peluang, Belanda sebenarnya memiliki dasar yang kuat untuk mencetak lebih dari satu gol.
Bahkan setelah Gakpo menyamakan skor, Belanda masih memperoleh peluang untuk membalikkan keadaan. Guus Til hampir mencetak gol kemenangan pada penghujung laga, tetapi sundulannya melebar.
Mengapa Jerman Bisa Bertahan Begitu Lama?
Di sinilah strategi Jürgen Klopp juga harus diperhitungkan.
Jerman tidak mencoba memenangkan pertandingan melalui penguasaan bola. Mereka lebih banyak memanfaatkan transisi cepat dan ruang di belakang pertahanan Belanda.
Gol Nmecha lahir dari situasi ketika serangan Jerman mampu masuk ke area berbahaya. Beberapa kali Jerman juga memiliki kesempatan melalui Adeyemi.
Masalahnya, setelah Belanda meningkatkan tekanan, Jerman semakin jarang mendapatkan situasi transisi yang ideal.
UEFA mencatat bahwa Adeyemi dan Meerdink sama-sama memiliki peluang yang bisa mengubah pertandingan, tetapi penyelesaian akhir tidak selalu berhasil.
Jadi, Jerman punya efisiensi untuk memimpin, tetapi tidak cukup konsisten dalam mempertahankan tekanan terhadap Belanda.
Debut Xavi Memberikan Sinyal yang Menarik
Skor 1-1 tidak menggambarkan seluruh cerita pertandingan.
Jika hanya melihat papan skor, Jerman tampak hampir membawa pulang kemenangan setelah unggul sejak menit ke-32. Tetapi jika melihat statistik dan perubahan permainan, Belanda menunjukkan bahwa mereka mampu mempertahankan identitas yang ingin dibangun Xavi.
Penguasaan bola, intensitas, serangan dari sisi lapangan dan volume peluang menjadi karakter utama Oranje dalam laga tersebut.
Xavi sendiri mengatakan setelah pertandingan bahwa ia puas dengan permainan Belanda. UEFA mencatat komentarnya bahwa timnya bermain sangat baik dalam laga debut tersebut.
Yang belum selesai adalah persoalan efektivitas penyelesaian akhir. Belanda menciptakan banyak peluang, tetapi membutuhkan waktu sampai injury time untuk mengubah dominasi menjadi gol.
Kesimpulan: Bukan Belanda yang Sekadar Menahan Jerman
Jika pertanyaannya mengapa Belanda bisa menahan imbang Jerman, jawabannya justru sedikit berbeda.
Belanda mampu menghindari kekalahan karena Xavi berhasil menjaga intensitas permainan dan melakukan perubahan pemain yang tepat, sementara dominasi peluang akhirnya menghasilkan gol penyama.
Jerman memang lebih dulu mencetak gol, tetapi Belanda menguasai sebagian besar aspek statistik pertandingan.
Dari 22 tembakan berbanding 10, 10 tembakan tepat sasaran berbanding dua, hingga 12 sepak pojok berbanding satu, Oranje memiliki tekanan ofensif yang jauh lebih besar.
Gol Gakpo pada menit ke-90+2 kemudian menjadi konsekuensi dari tekanan tersebut.
Bagi Xavi, hasil ini memberikan gambaran awal tentang identitas baru Belanda: lebih proaktif, lebih berani menguasai bola dan lebih agresif mencari peluang. Namun, laga melawan Jerman juga menunjukkan pekerjaan rumahnya—dominasi permainan harus lebih cepat diterjemahkan menjadi gol.











