BeritaInternasional

Kunjungan Netanyahu ke AS Hanya 8 Jam, Hubungan dengan Trump Makin Tegang

Avatar photo
6
×

Kunjungan Netanyahu ke AS Hanya 8 Jam, Hubungan dengan Trump Makin Tegang

Sebarkan artikel ini
Kunjungan Netanyahu ke AS Hanya 8 Jam, Hubungan dengan Trump Makin Tegang


PRESSCORNER.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan singkat ke Amerika Serikat (AS) untuk menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kunjungan yang berlangsung kurang dari delapan jam tersebut menjadi sorotan di tengah hubungan Israel dan AS yang semakin menghadapi sejumlah perbedaan.

Dua pejabat Israel mengatakan, Netanyahu diperkirakan berada di New York kurang dari delapan jam sebelum kembali ke Israel. Dalam kunjungan tersebut, Netanyahu dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan Sidang Umum PBB.

Kantor Netanyahu menyatakan sang perdana menteri akan bertemu dengan sembilan pemimpin dunia. Lima di antaranya berasal dari negara-negara Amerika Latin yang selama ini berupaya didekati Israel untuk memperkuat hubungan.

Namun, daftar agenda yang dirilis kantor Netanyahu tidak mencantumkan pertemuan dengan pejabat AS maupun Presiden Donald Trump selama kunjungannya ke New York.

Mantan Duta Besar Israel untuk AS Michael Oren mengatakan dirinya tidak mengingat adanya kunjungan perdana menteri Israel ke AS tanpa agenda pertemuan dengan presiden AS.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian bagi Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober.

“Ini adalah pidato kampanye. Akan jauh lebih baik jika pidato kampanye itu disertai pertemuan dengan presiden atau pemimpin dunia lainnya, atau setidaknya dengan menteri luar negeri,” ujar Oren, dikutip Reuters, Kamis (24/9/2026).

Kantor Netanyahu menyatakan sejumlah pemimpin dunia meminta bertemu dengan Netanyahu selama kunjungan tersebut.

Namun, keterbatasan waktu dan kebutuhan Netanyahu untuk kembali ke Israel sebelum dimulainya hari raya Yahudi Sukkot membuat hanya sebagian pertemuan yang dapat dijadwalkan.

Bertemu sembilan pemimpin dunia

Dalam kunjungan singkat tersebut, Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Argentina, Bolivia, Paraguay, Panama dan Ethiopia, serta wakil presiden Kolombia.

Ia juga dijadwalkan bertemu dengan perdana menteri Yunani, Slovenia dan Papua Nugini.

Agenda tersebut menunjukkan upaya Israel memperkuat hubungan dengan sejumlah negara di luar mitra tradisionalnya di Eropa.

Hubungan Israel dengan sejumlah negara Eropa memburuk seiring perang di Gaza dan ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat.

Sementara itu, Netanyahu dan Trump telah bertemu sebanyak delapan kali sejak Trump memulai masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS. Pertemuan terakhir keduanya berlangsung pada Juli lalu.

Hubungan kedua negara juga mengalami perbedaan dalam sejumlah isu regional. Pada Februari, Trump dan Netanyahu bersama-sama memulai perang terhadap Iran. Namun, keduanya kemudian berbeda pandangan ketika Trump berupaya mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik tersebut.

Washington kemudian mencapai kesepakatan sementara dengan Teheran pada Juni, yang ditentang Israel. Kesepakatan tersebut akhirnya gagal beberapa pekan kemudian.

Dukungan AS terhadap Israel berubah

Dinamika hubungan AS-Israel juga berlangsung di tengah perubahan sikap publik Amerika terhadap Israel.

Dukungan publik AS terhadap Israel menurun sejak perang Gaza dimulai, terutama di kalangan pemilih Partai Demokrat.

Israel juga menghadapi tekanan diplomatik yang meningkat sejak melancarkan perang di Gaza sebagai respons terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Awal September, Inggris, Prancis dan Kanada yang sebelumnya merupakan mitra dekat Israel mengumumkan sanksi terkait permukiman Israel di Tepi Barat. Langkah tersebut mendapat respons yang relatif terbatas dari Washington.

Di dalam negeri, Netanyahu juga menghadapi pemilu yang semakin dekat. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan peluang Netanyahu kehilangan pemilu, meski hasil akhirnya masih terbuka.

Rekam jejak keamanan Netanyahu turut menjadi sorotan setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kendati demikian, posisinya belum dapat dipastikan menjelang pemungutan suara pada 27 Oktober.