PRESSCORNER.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Suahasil Nazara optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memiliki ruang untuk melaju lebih tinggi hingga akhir 2026.
Optimisme tersebut disampaikan setelah laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) per September menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2% dari sebelumnya 4,7% pada laporan Juni.
Dalam OECD Economic Outlook Interim Report September 2026, OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,5 poin persentase.
OECD menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan berbagai tekanan, termasuk kenaikan harga energi serta ketidakpastian perdagangan internasional.
Menanggapi proyeksi tersebut, Suahasil mengatakan pemerintah melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat berada di atas 5% pada paruh kedua 2026.
“Kita masih lihat bahwa saya yakin di kuartal III, Kuartal IV, di setengah tahun kedua ini, kita masih bisa tumbuh di atas 5,5%. Dan ini merupakan pertumbuhan yang cukup baik,” ujar Suahasil kepada awak media di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, pemerintah bahkan memiliki aspirasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6%. Dengan kondisi ekonomi global yang masih penuh tekanan, Suahasil menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan.
“Kalau aspirasi, aspirasi kita menuju 6%. Kondisi dunianya seperti ini kita lihat bagaimana gerak ekonomi Indonesia. Tapi sangat resilient,” katanya.
Optimisme tersebut juga didukung sejumlah indikator ekonomi domestik. Suahasil menyebut inflasi masih berada di level 3,19%, sementara akumulasi pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45%.
Pertumbuhan kredit yang berada di sekitar 13% juga dinilai menunjukkan kondisi fundamental ekonomi yang masih kuat.
“Kalau inflasinya 3,19%, kalau yang namanya pertumbuhan semester satu-nya 5,45%, kalau pertumbuhan kreditnya di sekitar 13%. Ini adalah indikator-indikator yang baik buat fundamental kita,” jelas Suahasil.
Sebelumnya, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 didukung oleh permintaan domestik yang tangguh, termasuk konsumsi rumah tangga.
Kebijakan pemerintah yang membantu melindungi konsumsi rumah tangga dan perusahaan/swasta dari dampak kenaikan harga energi juga menjadi salah satu penopang.
Selain konsumsi, aktivitas perdagangan dan perbaikan terms of trade turut mendukung perekonomian. OECD menilai perbaikan terms of trade memberikan dukungan terhadap pertumbuhan investasi Indonesia.
Namun, OECD tetap mengingatkan sejumlah risiko yang dapat mengganggu prospek pertumbuhan. Salah satunya berasal dari perkembangan harga energi.
OECD memperkirakan harga minyak Brent dapat mencapai rata-rata sekitar US$105 per barel pada kuartal IV 2026 sebelum turun secara bertahap pada 2027.
Gangguan pasokan energi di Timur Tengah yang berlangsung lebih lama dari perkiraan dapat mendorong harga minyak dan gas lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya produksi perusahaan.
Risiko lain berasal dari sektor pangan. OECD memperingatkan kemungkinan fenomena El Niño yang sangat kuat pada akhir 2026 dapat mengganggu produksi pertanian di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.











