PRESSCORNER.ID – ANKARA. Arab Saudi sedang bersitegang dengan kelompok Houthi Yaman. Terbaru, Houthi mengklaim telah melancarkan serangan dengan drone ke dekat Riyadh, Ibu Kota Saudi.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan, Arab Saudi mungkin memiliki kebutuhan militer akibat serangan berkelanjutan oleh kelompok Houthi Yaman, dan Turki siap membantu berdasarkan pakta pertahanan trilateral yang juga mencakup Pakistan.
“Kami melihat adanya serangan yang sangat serius terhadap integritas wilayah dan kedaulatan Arab Saudi. Kami memiliki perjanjian aliansi dalam pakta kami. Kami menunjukkan solidaritas yang kuat dalam hal ini… Mereka mungkin memiliki kebutuhan militer tertentu, terutama terkait masalah teknis. Kami tidak keberatan untuk memenuhinya,” ujar Fidan kepada saluran penyiaran NTV seperti dilansir Reuters, Sabtu (19/9/2026).
Kesepakatan pertahanan bersama yang disebut “Kesepakatan Pertahanan Bersama Mekkah”, yang ditandatangani bulan lalu, menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah terpadat di Yaman, telah melancarkan serangan terhadap Arab Saudi sejak mengumumkan blokade laut terhadap Riyadh pada bulan Juli.
Ini merupakan front baru dalam perang yang lebih luas, yang bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan-serangan tersebut menyasar kota-kota, infrastruktur energi, dan jalur pelayaran Arab Saudi, sehingga mengancam pasokan minyak global serta jalur alternatif utama Laut Merah untuk ekspor negara-negara Teluk, di tengah gangguan lalu lintas yang masih terjadi di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menolak permintaan Arab Saudi untuk mendapatkan dukungan militer guna memerangi Houthi—kelompok yang sebelumnya menyepakati gencatan senjata dengan Amerika Serikat tahun lalu setelah Washington membombardir mereka selama dua bulan.
Fidan mengatakan, tidak dapat diterima jika Arab Saudi diseret ke dalam perang AS-Iran, mengingat negara itu tidak memiliki keinginan untuk terlibat dalam konflik tersebut. Ia menambahkan—tanpa memberikan rincian lebih lanjut—bahwa sejumlah usulan telah disampaikan kepada semua pihak untuk mengakhiri pertempuran.
“Ada banyak inisiatif, namun pihak-pihak terkait perlu menerimanya,” ujarnya. “Ada usulan-usulan baru; saya berharap mereka menerimanya. Jika tidak, meskipun krisis ini sempat ditoleransi hingga titik tertentu, dampak ekonominya kini mulai melampaui batas yang dapat ditoleransi.”
Turki, yang memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO menyatakan, kesepakatan dengan Pakistan (negara bersenjata nuklir) dan Arab Saudi (eksportir minyak utama) ini terbuka untuk diperluas dan tidak bertujuan menggantikan aliansi mana pun yang sudah ada.
Pakistan menyatakan tidak ada pembahasan mengenai respons militer dari Islamabad berdasarkan kesepakatan Mekkah terkait serangan Houthi terhadap Arab Saudi, namun menambahkan bahwa Pakistan akan bertindak ketika “saatnya tiba”.
Sebelumnya pada hari Sabtu, kelompok Houthi Yaman menyatakan telah menyerang lokasi-lokasi “sensitif” di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone); serangan ini terjadi beberapa jam setelah kobaran api dan kepulan asap tebal terlihat di dekat bandara utama kota tersebut.
Turki telah mengecam serangan Houthi tersebut dan mendesak agar serangan itu segera dihentikan.











