PRESSCORNER.ID – NEW YORK. OpenAI diproyeksikan akan menghabiskan kas hingga US$ 278 miliar dalam periode 2026 hingga 2030. Pengeluaran jumbo tersebut terutama untuk memperbesar kapasitas komputasi dan membangun infrastruktur guna mendukung pengembangan serta pengoperasian model kecerdasan buatan (AI).
Proyeksi tersebut terungkap dalam presentasi perusahaan yang dilihat Financial Times (FT), Jumat (18/9/2026), sebagaimana dilaporkan Reuters.
Besarnya kebutuhan dana tersebut menunjukkan kebutuhan pendanaan OpenAI yang semakin besar ketika perusahaan tengah mencari tambahan investasi. FT sebelumnya melaporkan bahwa perusahaan pembuat ChatGPT itu telah melakukan pembicaraan dengan investor yang dapat memberikan valuasi sekitar US$ 1,2 triliun, menjelang potensi penawaran umum perdana saham (IPO).
OpenAI memperkirakan akan mencatatkan arus kas bebas negatif (negative free cash flow) sebesar US$ 278 miliar secara kumulatif selama 2026-2030. Kondisi tersebut terjadi seiring perusahaan melakukan investasi agresif untuk mengamankan kapasitas komputasi yang dibutuhkan dalam melatih dan menjalankan model-model AI.
Di sisi lain, OpenAI memproyeksikan pendapatannya tumbuh sekitar 10 kali lipat dalam periode yang sama. Pendapatan diperkirakan meningkat dari US$ 36 miliar pada 2026 menjadi US$ 350 miliar pada 2030.
Secara kumulatif, OpenAI memperkirakan dapat membukukan pendapatan sekitar US$ 840 miliar hingga akhir dekade.
Namun, kebutuhan belanja infrastrukturnya juga sangat besar. OpenAI diperkirakan mengalokasikan sekitar US$ 856 miliar untuk kapasitas komputasi dan infrastruktur hingga akhir 2030. Pos pengeluaran tersebut menjadi kategori biaya terbesar perusahaan.
FT melaporkan, OpenAI telah menghimpun US$ 122 miliar pada Maret 2026 dengan valuasi sekitar US$ 852 miliar. Namun, berdasarkan proyeksi kebutuhan belanja perusahaan, kas tersebut diperkirakan akan habis pada 2028.
Besarnya kebutuhan modal ini menjadi perhatian ketika OpenAI terus memperluas kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pengembangan AI generatif. Perusahaan membutuhkan infrastruktur komputasi dalam jumlah besar untuk melatih model AI sekaligus menjalankan layanan yang digunakan oleh pengguna dan perusahaan.
OpenAI sebelumnya juga telah mengajukan dokumen secara rahasia untuk IPO pada Juni 2026. Namun, CEO OpenAI Sam Altman mengatakan pada Sabtu (12/9/2026) bahwa perusahaan tidak akan melantai di bursa pada 2026. Salah satu pertimbangannya adalah kekhawatiran terkait keamanan AI.
Hingga berita ini ditulis, OpenAI belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut di luar jam kerja reguler.











