BeritaInternasional

Harga Emas Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Ini Pemicu Penguatannya

Avatar photo
7
×

Harga Emas Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Ini Pemicu Penguatannya

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Ini Pemicu Penguatannya


PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Harga emas kembali menguat dan mencatat kenaikan dalam dua sesi perdagangan berturut-turut. Pergerakan tersebut membawa harga emas ke level tertinggi dalam sepekan, di tengah penurunan harga minyak dan perhatian investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,9% menjadi US$4.378,19 per ons troi pada pukul 08.29 GMT (1529 WIB), Jumat (18/9/2026). Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat (AS) naik 0,4% menjadi US$4.418,20 per ons troi.

Penguatan emas terjadi ketika harga minyak mentah global mengalami penurunan untuk sesi ketiga secara berturut-turut. Kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak dari Arab Saudi mulai mereda, meskipun investor masih mencermati risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

“Logam mulia tampaknya mampu menghadapi sinyal hawkish dari The Fed, dan justru mendapatkan kelegaan langsung dari penurunan harga minyak di tengah harapan bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed akan berlangsung terbatas,” ujar Han Tan, kepala analis pasar di Bybit.

Secara historis, emas kerap digunakan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan emas karena meningkatkan daya tarik aset-aset yang memberikan imbal hasil.

Kebijakan The Fed dan harga emas

Pergerakan harga emas juga berlangsung setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9) dan memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih dapat berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Dalam proyeksi terbarunya, 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan masih terdapat setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi hingga akhir 2026.

Kondisi tersebut secara teori dapat menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Namun, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan prospek inflasi.

Goldman Sachs dalam sebuah catatan menyatakan bahwa “dampak kebijakan moneter yang lebih ketat terutama akan dirasakan melalui jalur apresiasi harga emas dalam jangka pendek yang lebih lambat, bukan melalui harga emas terminal yang lebih rendah.”

Dengan demikian, kebijakan moneter yang lebih ketat diperkirakan dapat memengaruhi laju kenaikan harga emas dalam jangka pendek, meskipun tidak serta-merta mengubah prospek harga emas dalam jangka panjang.

Konflik Timur Tengah jadi perhatian

Selain kebijakan bank sentral, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar emas.

Harga minyak justru melemah setelah muncul laporan mengenai upaya Arab Saudi meningkatkan kembali ekspor minyak melalui kawasan Teluk. Saudi Aramco dilaporkan berencana mengekspor sekitar 60 juta barel minyak mentah pada September dan Oktober melalui skema pengiriman dari Ras Tanura dan transfer kapal ke kapal di lepas pantai Oman.

Tambahan pasokan tersebut membantu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global dan turut mendorong harga minyak turun lebih dari US$1 per barel pada Jumat.

Namun, konflik di kawasan tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian bagi pasar energi dan komoditas.

“Ke depan, kondisi konflik di Timur Tengah akan menjadi faktor utama yang memengaruhi harga emas. Jika konflik berlangsung berkepanjangan dan harga minyak tetap tinggi hingga tahun depan, hal tersebut dapat mendorong bank sentral menaikkan suku bunga lebih tinggi dari perkiraan investor, yang akan memberikan tekanan terhadap harga emas,” kata Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics.

Bank sentral global perketat kebijakan

Selain The Fed, Bank of Japan (BOJ) juga mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter. BOJ pada Jumat menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun.

Keputusan tersebut diambil dengan suara 7-2 dan menjadi kenaikan suku bunga kedua BOJ dalam tiga bulan terakhir.

Langkah BOJ tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian sejumlah bank sentral utama dunia. Kondisi suku bunga global yang lebih tinggi dapat menjadi tantangan bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset yang dipandang investor sebagai tempat berlindung ketika risiko pasar meningkat.

Harga perak, platinum dan paladium ikut menguat

Tidak hanya emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan pada perdagangan Jumat.

Harga perak spot naik 2,7% menjadi US$66,92 per ons troi. Platinum menguat 2,5% menjadi US$1.813,70 per ons troi, sedangkan paladium bertambah 2,6% menjadi US$1.324,12 per ons troi.

Seluruh logam tersebut berada di jalur kenaikan secara mingguan.