BeritaInternasional

Harga Minyak Dunia Makin Panas, Rupiah dan Mata Uang Asia Ikut Tertekan

Avatar photo
8
×

Harga Minyak Dunia Makin Panas, Rupiah dan Mata Uang Asia Ikut Tertekan

Sebarkan artikel ini
Harga Minyak Dunia Makin Panas, Rupiah dan Mata Uang Asia Ikut Tertekan


PRESSCORNER.ID – Mata uang negara berkembang di Asia melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026) seiring kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi.

Di pasar saham, kekhawatiran terhadap prospek pengembangan kecerdasan buatan (AI) turut menekan saham teknologi Korea Selatan dan Taiwan.

Melansir Reuters, Indeks MSCI mata uang negara berkembang turun 0,1% karena dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama.

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% setelah serangan terbaru di Arab Saudi dan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi global.

Kenaikan harga minyak menjadi tekanan bagi negara-negara berkembang Asia yang sebagian besar merupakan importir bersih energi.

Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan biaya impor, memperlebar tekanan terhadap neraca eksternal dan pada akhirnya dapat menekan nilai tukar mata uang regional.

Peso Filipina cetak rekor terendah

Peso Filipina menjadi mata uang yang paling tertekan. Peso melemah ke rekor terendah 62,831 per dolar AS, sekaligus menjadi rekor terendah ketiga yang dicatat mata uang tersebut sepanjang September.

“Filipina sangat rentan karena merupakan importir minyak utama yang sebelum perang hampir seluruh minyak mentahnya berasal dari kawasan Teluk. Artinya, setiap kenaikan harga minyak secara langsung memperlebar defisit perdagangan dan meningkatkan tekanan jual peso,” kata Inki Cho, senior financial market strategist di platform perdagangan Exness.

Rupiah Indonesia juga ikut melemah sekitar 0,3%, sementara dolar Taiwan turun 0,4%. Won Korea Selatan, yang menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan sepanjang tahun ini, terkoreksi 0,4%.

Meski demikian, posisi eksternal Korea Selatan relatif lebih kuat. Ekspor semikonduktor yang solid telah mendorong surplus transaksi berjalan Korea Selatan ke level rekor tahun ini.

Kondisi tersebut memberikan aliran dolar yang stabil sehingga membantu won lebih tahan terhadap kenaikan harga minyak dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya.

The Fed jadi perhatian pasar

Pelaku pasar kini menanti keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pada Rabu (16/9). Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 86%, berdasarkan CME FedWatch.

Kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin memperkuat dolar AS sekaligus mempersempit selisih imbal hasil yang selama ini membuat aset negara berkembang Asia menarik bagi investor global.

“Bagi negara pengimpor minyak seperti Filipina dan Indonesia, kondisi tersebut berarti tekanan ganda,” ujar Cho.

Di satu sisi, harga minyak yang tinggi meningkatkan kebutuhan dolar untuk membayar impor energi. Di sisi lain, dolar yang semakin kuat dapat menambah tekanan terhadap mata uang domestik.

Saham Asia ikut tertekan

Tekanan juga terjadi di pasar saham. Indeks saham MSCI Emerging Markets Asia sempat anjlok 1,7% ke level terendah sejak akhir Agustus.

KOSPI Korea Selatan menjadi salah satu pemberat utama setelah merosot 3,3%. Bursa Korea Selatan sensitif terhadap sentimen investasi AI karena besarnya eksposur perusahaan semikonduktor terhadap perkembangan teknologi tersebut.

Sentimen memburuk setelah pimpinan OpenAI dan Anthropic menyerukan perlunya memperlambat pengembangan AI guna mengelola risiko teknologi tersebut dengan lebih baik.

Bursa Taiwan juga melemah 0,7%, dengan saham produsen chip TSMC turun 1,2%.

Di Indonesia, saham-saham domestik sempat merosot hingga 1,9%, membawa indeks ke level terendah dalam lebih dari dua pekan. Bursa Thailand juga turun 0,6%.

Sebaliknya, bursa Manila dan Kuala Lumpur masing-masing menguat 0,2% dan 0,5%.

Di Jepang, Nikkei ditutup turun 0,8%. Investor juga mencermati keputusan Bank of Japan (BOJ) pada Jumat (18/9).

Pasar memperkirakan sekitar 77% peluang BOJ menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%.

BOJ juga diperkirakan mempertahankan nada hawkish terkait kemungkinan pengetatan lanjutan, di tengah upaya bank sentral mencegah pelemahan kembali yen setelah intervensi pasar sebelumnya membantu mengangkat mata uang Jepang dari level terendah dalam sekitar 40 tahun.

Pada perdagangan Senin, yen melemah sekitar 0,5%.